Pac-Man, Google Maps, dan April Mop yang Setiap Hari

Oleh: Sabda Armandio - 1 April 2017
Dibaca Normal 2 menit
Para pembosan mungkin akan menyukai April Mop versi Google Maps yang memasang Pac-Man.
tirto.id - "Apakah kau tahu nama asli Pac-Man adalah Puck-Man? [...] Mereka mengganti namanya karena mereka pikir Puck-Man sangat mudah dipelesetkan, kau tahulah, misalnya dengan mengganti P menjadi F atau apapun."

Itulah basa-basi Scott Pilgrim saat berusaha menarik perhatian gadis incarannya (Film Scott Pilgrim vs. the World, 2010). Scott menggunakan Pac-Man untuk sebuah basa-basi yang mungkin membosankan. Tapi memang begitu Pac-Man. Salah satu ikon gim paling dikenali di jagat raya: sepotong lingkaran berwarna kuning yang terjebak di dalam labirin dan kelaparan, selalu kelaparan, dan ia menyikat biskuit-biskuit yang berceceran di sepanjang jalan.

Beberapa hantu (yang lebih terlihat seperti gurita kurang gizi) bergentayangan mengganggu aksi Sang Jagoan. Pac-Man, berusaha hidup di labirin tanpa batasan level, sendirian, hanya makan dan makan, tanpa tujuan. Belum cukup menyiksa Pac-Man, Namco dan Midway membuat pasangannya, Ms. Pac-Man, satu tahun kemudian.

Jika Anda membuka Google Maps hari ini, Anda akan melihat ikon Ms Pac-Man. Sentuhlah ikon itu dan Anda akan 'dikerjai' Google. Anda, misalnya, ada janji dengan seorang teman dan ingin mencari tempat pertemuan itu di Google Maps. Alih-alih diberi petunjuk jalan, peta di layar malah berubah warna dan Mbak Pac-Man berjalan-jalan di sana. Anda keasyikan bermain sampai lupa dengan janji itu. Atau bayangkan pengemudi angkutan online yang gaptek mengira semua konsumennya berubah menjadi biskuit. Google memang punya kebiasaannya mengerjai pengguna di hari April Jahil, dan Anda mesti terkejut untuk menghargai usaha mereka.

Menyebut Pac-Man sekadar gim tak akan membuat Anda dicaci banyak orang, meski ia sebenarnya bisa dianggap lebih dari itu. Sebagai simbol budaya pop, gimnya masih terus berevolusi hingga hari ini. Namun ia tetap hanya permainan yang dimainkan oleh orang-orang bosan, di dunia yang juga membosankan. Dan memakai Pac-Man di hari April Jahil adalah ide bagus, meski tidak segar, karena Pac-Man memang dikerjai pembuatnya.

Kembali ke tahun 1979 saat Toru Iwatani memandangi pizzanya yang hilang dua potong, yang membuat pizza itu tampak seperti memiliki mulut. Pizza itu dinamai Pakkuman, nama ugal-ugalan yang didapat dari frasa 'paku-paku taberu' , tiruan bunyi (onomatope) orang yang membuka dan menutup mulut yang dalam bahasa Indonesia mungkin disebut 'nyap-nyap', Nyap-nyap Man.

INFOGRAFIK Pac man


Pizza Bermulut itu juga perlu makan untuk mendapat tenaga, seperti Popeye memakan bayam. Dari kebiasaan Popeye itulah Iwatani memutuskan menebar titik-titik (yang belakangan disebut biskuit) sebagai sumber tenaga si Pizza Bermulut. Berdasarkan pengalaman gim sebelumnya, Space Invaders, yang ditargetkan hanya dimainkan oleh anak laki-laki, di gim pizza ini Iwataru ingin memperluas demografi pemainnya.

Keinginan ini memicunya membuat musuh yang menggemaskan, hantu warna-warni, yang lantas disebut Blinky, Pinky, Inky dan Clyde. Semua elemen itu dimasukkan ke dalam labirin tak terhingga, dengan level tak terhingga, diberi nama Puck-Man, yang kemudian diubah menjadi Pac-Man dengan alasan persis seperti basa-basi yang digunakan Scott Pilgrim saat berusaha menarik perhatian gadis incarannya.

Pada tahun debutnya, mesin gim arkade Pac-Man dibuat dan dijual lebih dari 100.000 unit. Namco memperkirakan Pacman dimainkan lebih dari sepuluh miliar kali dalam 20 tahun, dengan total keuntungan mencapai $ 100 juta. Serial animasi perdana Pac-Man, The Pacman Show, ditonton oleh 1.982 penonton di saluran TV ABC, dan Pac-Man telah dilisensikan ke lebih dari 250 perusahaan untuk lebih dari 400 produk.

Siapa sangka sepotong pizza bisa bikin kaya raya? Dan membuat orang berpikir aneh-aneh....

Penggemar Pac-Man yang banyak tahu dan banyak waktu menyebut gim Pac-Man sebagai 'Gim Metafisik Pertama' karena menganalogikan kehidupan manusia. Pac-Man yang bernasib sial terus dikejar-kejar rasa takut dan harus mengonsumsi 'obat' sepanjang pelariannya atau ia akan mati.

Ia mengulang dan mengulang dan mengulang rutinitas yang sama, seperti dikerjai nasib, semacam Sisifus, yang dipaksa terus menjalani April Jahil setiap hari. Sebuah interpretasi yang terdengar berlebihan yang memantulkan kehidupan para pemain Pac-Man. Atau malah pantulan dari sebuah generasi.

Baca juga artikel terkait GAME atau tulisan menarik lainnya Sabda Armandio
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Sabda Armandio
Penulis: Sabda Armandio
Editor: Zen RS
DarkLight