Menuju konten utama

OS Hongmeng-Huawei Bisa Ancam Android jika Ponsel Cina Bersekutu

Huawei, Xiaomi, OPPO, dan Vivo menguasai 41,9 pangsa pasar ponsel pintar Android.

OS Hongmeng-Huawei Bisa Ancam Android jika Ponsel Cina Bersekutu
Ilustrasi Handphone Huawei Nova 3i.FOTO/iStockphoto

tirto.id - Tujuh tahun lalu, kelompok kecil pemimpin Huawei yang dipimpin Ren Zhengfei mengadakan pertemuan di sebuah vila yang menghadap danau di Shenzhen. Topik pembicaraannya, seperti dilaporkan South China Morning Post, cuma satu, bahwa Android, sistem operasi milik Google yang diandalkan Huawei sebenarnya mengandung kerentanan.

Katakanlah, jika penguasa Amerika Serikat mengusik, Huawei tak bisa menggunakan Android. Ini, menurut kelompok kecil itu, berbahaya.

Pembesar-pembesar Huawei itu setuju, mereka harus segera memiliki sistem operasi sendiri. Maka, termaktub dalam Huawei 2012 Laboratories, dibuatlah tim khusus untuk merealisasikan sistem operasi ala Huawei. Konon, tim yang dipimpin Eric Xu Zhijun, ahli OS asal Cina, Android dan iOS jadi rujukan sistem operasi “made by Huawei.”

Sialnya, tahun demi tahun berlalu, sistem operasi dengan kode “project Z” hanya sebatas kabar tanpa kemunculan produk jadi. Pada Mei 2015, sistem operasi yang dikembangkan itu konon dinamai Kirin OS, senada dengan nama System-on-Chip (SoC) buatan mereka: Kirin.

Pada Juni 2016, kabar sistem operasi Huawei muncul kembali, tapi dengan menanggalkan penamaan Kirin OS. Saat itu, Huawei dikabarkan tengah merancangnya di sebuah negara Skandinavia yang diisi teknisi-teknisi eks-Nokia. Pada awal 2019, kabar ini mengemuka kembali. Sayangnya, tidak ada rincian. Pemimpin Divisi Consumer Huawei Richard Yu menegaskan bahwa penciptaan sistem operasi merupakan Plan B. Plan utama, “tetap bekerja dengan ekosistem yang telah dikembangkan Google dan juga Microsoft.”

Bahkan, kabar paling baru menyebut bukanlah sistem operasi asli Huawei yang akan dimunculkan untuk menggantikan Android, melainkan Aurora, sistem operasi yang dibikin Russian Open Mobile Platform yang berbasis pada Sailfish OS, sistem operasi mobile dari Finlandia. Media asal Rusia, The Bell, menyebut Guo Ping, pemimpin Huawei saat ini, tengah berdiskusi dengan Menteri Komunikasi dan Pembangunan Digital Rusia Konstantin Noskov soal kemungkinan transisi Android ke Aurora.

Hingga akhirnya datanglah masa itu. Huawei, menurut kuasa Donald Trump, merupakan “musuh AS” dan berbisnis dengannya tidak diperkenankan. Akibatnya, Intel, Qualcomm, ARM, Facebook, hingga si pemilik Android, Google, menghentikan hubungan dagang dengan Huawei. Kerentanan yang diperkirakan tujuh tahun lampau benar. Huawei tidak dapat menggunakan Android.

Lantas, dengan cepat, sebagaimana dilaporkan Global Times, Huawei menyiapkan Hongmeng, sistem operasi buatannya sendiri, yang akan diluncurkan antara Agustus atau September tahun ini.

Menebak Hongmeng

Tak lama selepas diinjak Trump, Huawei, sebagaimana dilaporkan Wall Street Journal, mendaftarkan “Hongmeng” sebagai nama sistem operasi mobile mereka di beberapa negara, khususnya di Cina melalui China National Intellectual Property Administration. Namun, dilansir Slashgear, kemungkinan Hongmeng bukanlah nama yang kemudian akan dipasarkan. Nama pasar yang dipilih ialah Ark, terjemahan bahasa Inggris bagi “Hongmeng.”

Secara umum, belum ada rincian dan gambaran tentang Hongmeng. Chief Strategy Officer Huawei, Shao Yang, seperti dilaporkan media berbahasa Inggris yang didukung Pemerintah CinaGlobal Times, menyebut bahwa Hongmeng “rahasia.” Namun, kabar liar berkembang, seperti tersebarnya screenshot alias tangkapan layar Hongmen oleh media online Jerman WinFuture.

Dalam tangkapan layar itu, Hongmen memiliki User Interface (UI) mirip iOS, sistem operasi mobile pada iPhone. Namun, di seksi “permissions” Hongmeng, sistem operasi ini bagai Android. Bahkan, Hongmeng pun disebut dapat menjalankan aplikasi berbasis Android. Spekulasi berkembang: Hongmeng ialah sistem operasi berbasis Android Open Source Project dengan sentuhan iOS.

Sementara itu, Yu Chengdong, Kepala Divisi Consumer Huawei, mengatakan bahwa Hongmeng memang dapat menjalankan aplikasi berbasis Android. Selain itu, Hongmen diyakinkan memiliki fungsi keamanan dan proteksi data pengguna yang tinggi.

Meskipun belum meluncur, China Daily, media yang dimiliki Partai Komunis Cina, melaporkan bahwa Huawei akan mengapalkan 1 juta ponsel pintar berbasis Hongmeng.

Aliansi, Kunci Sukses Hongmeng

Sebagaimana dilaporkan Wall Street Journal, pada 2018, ada 0,46 persen dari total populasi ponsel pintar yang menggunakan sistem operasi selain Android dan iOS. Sayangnya, setahun berlalu, ponsel pintar hanya ditenagai otak bikinan Google atau Apple. Huawei, yang dalam produk-produknya mengandalkan Android, diperkirakan akan kesulitan membesarkan Hongmeng.

Kuatkah prediksi itu?

Sebelum Android lahir, ponsel pintar didominasi oleh perusahaan yang dapat mengembangkan hardware-software secara bersamaan. Misalnya adalah Research in Motion (RIM)—yang kemudian berganti nama menjadi Blackberry—mengembangkan Blackberry, baik sebagai ponsel maupun sistem operasi (BB OS). Lalu, ada pula Apple, yang mengembangkan iPhone juga iOS.

Dunia memang memiliki Windows Mobile (Windows Phone) dari Microsoft atau Symbian, misalnya. Sayangnya, Windows Mobile adalah produk gagal, sementara Symbian telah terlalu melekat pada Nokia. Akibatnya, perusahaan teknologi lain gigit jari.

Kesialan perusahaan-perusahaan teknologi lain yang hendak mencipta ponsel pintar terobati. Android datang dengan sistem kerja berbeda, yakni membuatnya terbuka pada semua produsen. Andy Rubin, pencipta Android, pada 2007 silam kepada The New York Times mengatakan bahwa “kami tidak menciptakan GPhone (Google Phone). Kami hanya membuat 1.000 orang bisa menciptakan GPhone-nya sendiri.”

Keterbukaan Android pada berbagai produsen itu diterjemahkan melalui Open Handset Alliance, aliansi berisi perusahaan-perusahaan teknologi top dunia, seperti Broadcom, Intel, Qualcomm, Texas Instruments, HTC, LG, Motorola, hingga Samsung yang bertujuan satu: mau mendukung dan memakai Android.

Selepasnya, HTC Dream atau T-Mobile G1 lahir sebagai ponsel pintar Android pertama. Kini, disumbang berbagai produsen, ada 2,5 miliar perangkat Android.

Infografik Hongmeng

Infografik Hongmeng. tirto.id/Quita

Hongmeng, untuk mampu mengimbangi Android dan iOS, nampak menggunakan cara yang sama. Huawei memperoleh dukungan dari Android Green Alliance, aliansi perusahaan-perusahaan asal Cina yang didukung Huawei, Alibaba, Baidu, Tencent, dan NetEase. Awalnya, aliansi ini, sebagaimana namanya, diciptakan untuk membuat standar baku penciptaan aplikasi Android Cina. Nampaknya, kini aliansi berkembang: mendukung Hongmeng.

Dukungan aliansi diperkuat oleh pemberitaan yang menyatakan bahwa Xiaomi, OPPO, dan Vivo, ikut menguji coba Hongmeng. Bahkan, teknisi Tencent terlibat langsung dalam penciptaan UI Hongmeng.

Jika benar Hongmeng didukung perusahaan teknologi Cina lain, ini jelas merupakan ancaman bagi Android. Hingga kuartal 1-2019, perusahaan Cina-lah penguasa Android sesungguhnya. Gabungan Huawei+Xiaomi+Vivo+OPPO memiliki 41,9 persen pangsa pasar. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan Samsung sendirian yang hanya memperoleh 23 persen pangsa pasar.

Bilamana kelak Hongmeng meluncur, dan seperti diperkirakan, dapat menjalankan aplikasi Android, tak ada kegentingan bagi perusahaan-perusahaan Cina pemilik 41,9 persen pangsa pasar ponsel pintar pengguna Android. Ancaman ujungnya bukan hanya berada di pihak Huawei, tetapi—dalam konteks perang dagang AS-Cina—juga pada Google.

Baca juga artikel terkait HUAWEI atau tulisan lainnya dari Ahmad Zaenudin

tirto.id - Teknologi
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Maulida Sri Handayani