Miroso

Nyadran dan Makanan Sebagai Ungkapan Duka

Penulis: Husni Efendi - 28 Jun 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Makanan bisa jadi medium penziarahan, untuk mengenang dan mengingat mereka yang telah berpulang.
tirto.id - Di Sekolah Dasar saya, ada surat izin khusus yang ditulis dengan keterangan huruf N.

Lumrahnya, huruf S akan dipakai untuk izin karena sakit. Sedangkan untuk izin urusan keluarga memakai huruf I. Sedangkan N adalah huruf khusus yang digunakan setahun sekali. Tak ada yang tahu siapa yang memulai tradisi surat izin dengan huruf N ini. Suatu hari, seorang wali kelas bertanya.

"N iki opo?"

"Nyadran, Buuuu."

Biasanya wali kelas akan langsung mafhum.

Nyadran adalah tradisi yang biasanya dilakukan masyarakat Jawa, terutama Jawa Tengah, berupa kegiatan bersih-bersih makam orangtua, kakek, saudara, buyut, atau leluluhur, berziarah sembari tabur bunga dan puncaknya berupa kenduri, tahlilan, bersama masyarakat satu dusun.

Nyadran dilakukan saat bulan Sya’ban, atau Ruwah dalam kalender Jawa. Ruwah sering dianggap sebagai kératabasa dari “meruhi arwah”, atau refleksi mengingat kembali dan mendoakan orang tua, kakek, buyut, dan leluhur yang sudah mendahului kita.

Yang paling menyenangkan dari mengikuti Nyadran tentu saja adalah membawa pulang nasi berkat yang isinya ayam, perkedel, kentang ati, dan lain-lain. Beda nasi berkat biasanya beda pula menu lauk pauknya. Satu kudapan yang biasanya tak pernah ketinggalan di dalam besek Nyadran adalah kue apem. Kue ini dibuat dari adonan tepung beras, telur, gula, ditambah campuran tape singkong, yang dikukus.

Di kultur Jawa, kue apem memang hadir dalam berbagai tradisi. Mulai dari tahlilan, selapanan, hingga Yasinan. Konon, kue apem dianggap sebagai bentuk perwujudan simbol dari permintaan maaf untuk segala kesalahan, khususnya permohonan maaf bagi mereka yang sudah mendahului.

Kue apem dengan rasa manis dan sedikit gurihnya itu menjadi perwakilan dalam mengenang leluhur. Simbol rasa tadi seolah menjadi satu fase pengejawantahan perjalanan hidup dalam mengikhlaskan kehilangan.

Kehilangan memang tak pernah mudah. Di awal, ada kepahitan di sana. Dan makanan, kerap menjadi simbol dari tahapan berdamai dengan duka.

Dalam tradisi kuliner Tionghoa, hidangan yang terbuat dari sayuran seperti fumak (sawi pahit) dan fukua (pare) adalah simbol saat masa berkabung. Dua santapan tadi disajikan ketika berduka karena kematian anggota keluarga yang disayangi. Rasa pahit dalam dua hidangan ini jadi simbol perasaan yang dialami oleh mereka yang ditinggalkan.

Begitupun ketika membawa buah tangan saat mengunjungi orang yang sakit. Dalam keyakinan masyarakat Tionghoa, sebaiknya tidak usah membawa buah semangka. Semangka disebut sikua dalam bahasa mereka. “Si”, selain berarti empat, juga diartikan sebagai kematian. Mereka menganggap kalau kita membawa semangka, sama saja mengharapkan si sakit yang ditengok supaya cepat mati.

Sering kali, ketika saya menyantap kupat tahu Magelang atau tengkleng, ingatan tentang almarhum kakek dan bapak berseliweran di kepala. Ini tak mengherankan, sebenarnya. Tengkleng adalah makanan favorit bapak. Sedangkan kupat tahu, almarhum kakek kerap mengajak saya menyantap kupat tahu di sebuah warung di pojok Magelang usai Jumatan.

Bondan Winarno, sang jurnalis dan penulis handal itu, juga pernah mengisahkan kenangan makanan dan kehilangan dalam esainya, "Gang Pinggir". Mendengar ibunya sakit, Bondan pulang dan membungkus dua makanan favorit kegemaran ibunya: sup asparagus kepiting dan mie goreng dari Gang Pinggir.

"Ternyata makanan kegemaran itu tidak sempat disentuh Ibu. Ia pergi hanya beberapa saat setelah saya tiba di rumah. Malam harinya, setelah kami mengantar ibu ke peristirahatan terakhir, makanan itu kami panaskan dan kami makan ramai-ramai sambil mengenang Ibu," tulis Bondan.

Gang Pinggir adalah salah satu tempat kegemaran Bondan di Semarang. Tempat tersebut bisa membawa gambaran masa lalu hidupnya soal kuliner. Dari tiga restoran di Gang Pinggir tempat orangtuanya sering berkunjung: Ki Twan Kie, Bien Lok, dan Phien Tjwan Hiang; sekaligus tentang makanan-makanan yang melekat kuat dalam ingatannya seperti swiekee, pimbak, cakwe, juga sate dan gulai tulang sumsum.

Santapan sup asparagus kepiting dan mi goreng yang dihangatkan kembali, kemudian dimakan bersama selepas acara pemakaman itu, bagi Bondan, membuat ibunya menjadi terus hidup dalam kenangan anak-anaknya.

Infografik Miroso Makanan Ziarah
Infografik Miroso Makanan Ziarah. tirto.id/Tino


Tentang penggambaran makanan dan rasa berduka ini, saya juga teringat dengan film Tabula Rasa garapan sutradara Adriyanto Dewo, yang berhasil menggondol beberapa penghargaan di FFI 2014. Bercerita tentang sosok Mak sebagai tokoh sentral yang mempunyai rumah makan Padang, dan masakan gulai kepala kakap sebagai pusakanya.

Mak berhenti memasak gulai kakap karena hidangan itu adalah favorit anaknya yang sudah wafat. Karena rasa duka yang belum pulih benar, Mak sengaja tidak memasaknya tiap hari. Ini ia lakukan dengan sadar, meski gulai kepala kakap adalah sajian favorit di warungnya. Mak hanya bersedia memasak gulai kepala kakap ketika rasa kangen pada anaknya benar-benar membuncah.

Tabula Rasa boleh saja fiksi, tapi cerita tentang bagaimana kasih sayang seorang ibu yang mengenang mendiang anaknya dengan masakan bukanlah kisah tunggal.

Di Jakarta kita bisa menemui Maria Sumarsih, yang tiap hari Kamis sore selalu berdiri memakai pakaian hitam dan payung dengan warna serupa di depan Istana Merdeka. Di sana, Maria mematung dalam aksi diam Kamisan yang sudah dijalaninya hampir 15 tahun. Ia, bersama puluhan orang lain, menuntut tanggung jawab negara dalam menyelesaikan kasus pelanggaran HAM.

Ibu Maria --begitu banyak orang memanggilnya-- secara personal punya tuntutan dan pertanyaan: siapa yang menembak Wawan, anaknya, di halaman kampus Atmajaya Jakarta, pada 1998 silam? Saat itu Wawan adalah mahasiswa Atmajaya yang tergabung dalam tim relawan untuk kemanusiaan, bertugas menolong demonstran dan mahasiswa lain yang terluka oleh keganasan aparat.

Mirip dengan tokoh Mak dalam Tabula Rasa yang memasak gulai kepala kakap untuk mengenang mendiang anaknya, Bu Sumarsih di setiap tanggal 15 Mei, akan meletakkan satu piring kosong di meja makan keluarga, lengkap dengan nasi kluban dan lauk pauknya. Hidangan ini biasanya hanya disiapkan saat ulang tahun Wawan.

Maka, di momen-momen kehilangan yang menyakitkan, makanan bisa jadi medium yang menjelma jadi penziarahan. Tengkleng, sup asparagus kepiting, mie goreng, gulai kepala kakap, nasi kluban, dan berbagai jenis makanan lain akan menjadi semacam perwakilan perasaan yang sukar digambarkan.

Masing-masing dari kita mungkin mempunyai menu makanan yang mengingatkan dengan anggota keluarga yang sudah berpulang. Mengenangnya, mungkin bisa dilakukan dengan menyantap masakan kesukaan mereka, dan mengenang hal-hal baik yang telah lewat.

Baca juga artikel terkait NYADRAN atau tulisan menarik lainnya Husni Efendi
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Husni Efendi
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight