Menuju konten utama

Nilai Investasi Amerika Serikat di Indonesia Masih Rendah

Nilai investasi AS ke Indonesia masih rendah. Lantaran itu, Indonesia berharap AS berinvestasi di luar sektor migas.

Nilai Investasi Amerika Serikat di Indonesia Masih Rendah
Ilustrasi investasi. Doc. Istimewa

tirto.id - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan nilai investasi dari Amerika Serikat di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan Cina, Singapura, atau Malaysia.

Menurut Airlangga, capaian tersebut telah berlangsung dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Adapun investasi langsung Amerika Serikat di sepanjang Januari-September 2016 memang hanya sebesar 430 juta dollar Amerika.

Jumlah tersebut terbilang kecil apabila dibandingkan dengan nilai investasi dari sejumlah negara lain pada periode yang sama, seperti Singapura (7,1 miliar dollar Amerika), Tiongkok (1,6 miliar dollar Amerika), dan bahkan Malaysia (843,6 juta dollar Amerika).

Dari investasi yang mengalir itulah, investasi terbesar Amerika Serikat banyak dialokasikan untuk sektor migas (minyak dan gas). “Kami harap ke depannya, pemerintah Amerika Serikat yang baru ini dapat berinvestasi di sektor-sektor lain, selain migas,” kata Airlangga di Shangri-La Hotel, Jakarta, Kamis (20/4/2017).

Meski begitu, Airlangga menyebutkan migas tetap jadi prioritas utama dalam kerja sama yang dibangun antara perindustrian di Indonesia dengan di Amerika Serikat. “Tentunya seperti soal proyek-proyek migas, contohnya Exxon dan Natuna, yang sedikit tertunda. Serta sejumlah fasilitas di lepas pantai (offshore). Di samping itu, yang jadi prioritas utama lain adalah industri-industri jasa,” ujar Airlangga.

Lebih lanjut, Airlangga pun menuturkan Amerika Serikat cenderung suka berinvestasi di sektor-sektor yang terkait dengan pembangkit listrik, industri digital, dan produk konsumen.

Airlangga sendiri menyebutkan ekspor yang dilakukan Indonesia ke Amerika Serikat harus terus dijaga stabilitasnya. Menanggapi kemelut politik dari dalam negeri belakangan ini, seperti pada ajang Pilkada DKI Jakarta 2017, Airlangga berpendapat hal tersebut tidak berpengaruh pada kegiatan ekspor.

“Kalau ekspor ke Amerika Serikat kami harap tidak terganggu. Karena dalam ekspor itu kita memberikan perlakuan positif. Namun, kami juga dorong agar apa yang diproduksi di Indonesia, tidak diproduksi di Amerika Serikat, dalam artian complementary,” ungkap Airlangga.

“Ekspor kita ini kan banyak di industri tekstil, sepatu. Tapi memang menggunakannya merk-merk Amerika Serikat, seperti Nike, Reebok, dan sebagainya,” tambahnya.

Sementara itu, saat disinggung apakah dari Kementerian Perindustrian ada agenda pertemuan dengan Wakil Presiden Amerika Serikat, Mike Pence, yang tengah melakukan kunjungan bilateral ke Indonesia, Airlangga mengaku belum ada rencana.

Senada dengan pernyataan Airlangga perihal Amerika Serikat yang banyak berinvestasi di sektor migas tanah air, Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong juga sempat mengatakan besarnya kontribusi dari sektor tersebut terhadap total investasi nasional.

“Dengan banyaknya proyek baru di pembangkit listrik, migas, perkiraan saya bisa 25 sampai 40 persen dari total investasi nasional,” kata Thomas di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, pada 10 April lalu.

“Satu proyek nilainya bisa mencapai Rp100 triliun. Jadi memang kita harus memberikan perhatian khusus, untuk menjaga kelangsungan dari proyek-proyek investasi di migas,” ungkap Thomas.

Untuk target investasi di sektor ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) pada 2017 ini sendiri diperkirakan mencapai 43 miliar dollar Amerika. Nilai terbesar dari angka tersebut, yakni sebesar 22 miliar dollar Amerika, berasal dari sektor migas.

Baca juga artikel terkait KUNJUNGAN WAPRES AS atau tulisan lainnya dari Damianus Andreas

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Damianus Andreas
Penulis: Damianus Andreas
Editor: Agung DH