Musisi Indonesia dan Ambisi Go International

Oleh: Nuran Wibisono - 5 November 2016
Dibaca Normal 4 menit
Ambisi go international ini sudah bukan lagi hal yang eksklusif. Dengan bantuan internet, semua bisa dikenal dunia. Go international pun bisa dilakukan dari kamar tidur.
tirto.id - "...Di atas panggung, dia begitu magis dan eksotis, dengan tangan yang bergerak elegan seolah menyibak kabut yang tak tampak. Lirik lagunya dinyanyikan dengan suara soprano, mengalir menggambarkan intisari kehidupan perempuan dari kebudayaan tanah yang jauh dari New York malam ini."

Deskripsi indah itu ditulis oleh wartawan Billboard, Chuck Taylor, untuk seorang perempuan asal Indonesia: Anggun Cipta Sasmi. Artikel yang dimuat di majalah Billboard tertanggal 25 April 1998 itu menceritakan tentang perjuangan Anggun menembus dunia musik internasional. Setahun sebelum artikel itu naik cetak, Anggun sudah merilis album internasional pertamanya, Au nom de la lune (versi Prancis) pada 24 Juni 1997. Setelahnya album versi Inggris bertajuk Snow on the Sahara dirilis bertahap ke 33 negara antara akhir 1997 hingga awal 1999.

Album itu mendapat tanggapan yang amat baik dari para kritikus maupun pendengarnya. Brad Webber, penulis musik dari Chicago Tribune menyebut album ini adalah pameran talenta penyanyi dengan suara mezzo-soprano yang luar biasa. Chuck Taylor dari Billboard memuji album ini setinggi langit, sebagai album yang "...menghadirkan pencarian jiwa, atmosfer liar, tapi elegan seperti beludru," pun menyebut Anggun sebagai "...harta karun terbaik tahun ini." Sedangkan Stephen Thomas Erlewine, kritikus musik dari Allmusic, memberi album ini 4 bintang. Ia menyebut album ini sebagai debut yang menjanjikan.

"Anggun berhasil membawakan gaya balada, pop Latin, juga dance-pop di album ini. Membuktikan bahwa dia bisa bernyanyi baik di semua gaya," tulis Erlewine.

Lewat album ini, Anggun berhasil masuk dalam nominasi La révélation de l'année award, alias Pendatang Baru Terbaik, yang diberikan dalam ajang Victoires de la Musique, ajang tertinggi musik di PErancis yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Prancis.

Secara pencapaian komersil, album ini juga amat berhasil. Total terjual 1 juta keping di seluruh dunia. Pada 2013, Sony Music Indonesia memberi penghargaan Diamond Award untuk album ini, yang dinobatkan sebagai album paling laris oleh musisi Indonesia di luar negeri.

Keberhasilan Anggun di kancah internasional kemudian menghasilkan apa yang disebut sebagai sindrom go international di kalangan musisi Indonesia.

Dari Agnez Mo hingga Rich Chigga

Sindrom go international adalah gejala di mana banyak musisi Indonesia berambisi mengukir nama di kancah dunia. Salah satu yang paling ngotot mencapai impian ini adalah Agnes Monica.

Dia menggandeng musisi luar negeri untuk berkolaborasi dan memproduseri albumnya, hingga datang ke beberapa acara penghargaan musik di luar negeri. Usahanya keras. Namun sayangnya, Agnes malah melupakan hal penting: menjadi diri sendiri. Dia tampak terlalu sibuk mengurus hal tak penting, seperti mengganti nama menjadi Agnez Mo, hingga memakai baju ultra aneh di video klip "Coke Bottle". Selain menggelikan, itu membuatnya tak spesial lagi. Dia hanya menjadi bagian dari statistik.

Kerja keras Agnes memang patut diacungi jempol. Perihal apakah usaha itu berhasil atau mentok di sana-sana saja, itu perkara lain.

Ketika orang sudah mulai melupakan nama Agnez Mo dan impiannya untuk menjadi The Next Anggun, publik Indonesia dibuat terbelalak oleh kehadiran Joe Alexander. Pianis jazz berusia belia ini menarik perhatian publik dunia karena dengan santai dan kalem memainkan musik jazz yang rumit.

"Dia menarik. Tidak seperti bocah ajaib lain, dia tampak tidak ditempa oleh latihan musik yang keras. Dan dia sepertinya bersenang-senang dengan apa yang dimainkan," kata Rizal Shidiq, penggemar jazz yang mengasuh situs Cafe Salemba.

Kemampuan Joey bermain musik bisa ditengok di album perdananya, My Favorite Things. Di album itu, tak kentara kalau yang memainkan piano adalah seorang anak yang mungkin belum mengalami mimpi basah. Begitu lepas, santai, sekaligus mengejutkan. Tak heran kalau Joey dinominasikan dalam dua kategori di Grammy Awards, juga tampil dan mendapatkan standing ovation. Joey menjadi orang Indonesia pertama yang masuk dalam nominasi Grammy --Anggun mendapatkannya ketika sudah berpindah kewarganegaraan.

Setelah Joey, nama lain dari Indonesia kembali bikin kaget banyak orang. Kali ini Rich Chigga yang mendapat lampu sorot. Lelaki 17 tahun bernama asli Brian Imanuel ini muncul dan mendapat nama dengan cara khas generasi Milenial: mengunggah video di Youtube. Video lagu berjudul "Dat $tick" yang diunggah pada Februari 2016 sekarang sudah mendulang 23 juta kali tonton.

Di video itu, Brian menyanyikan lagu rap, lengkap dengan pistol mainan yang mengesankan dirinya adalah gangster. Tapi dia tak mau repot-repot memakai baju seperti, katakanlah, 50 Cents, Eminem, atau para superstar rap dunia. Brian mengenakan baju kerah warna pink, celana pendek, dan tas pinggang merek Reebok. Tampak lucu pada awalnya. Di media sosial, banyak komentar yang meremehkan, dari yang lucu hingga bernada rasis.

Hingga para bintang rap dunia memuji lagu Brian. Tak ketinggalan, rapper legendaris Ghostface Killah pun sampai turun tangan membuat lagu "Dat $tick" versi remix. Orang Indonesia tersentak kagum. Mulai menaruh respek. Apalagi setelah Nash Jenkins menulis artikel panjang tentang remaja yang belajar Bahasa Inggris dari Youtube ini untuk situs Time.

Tapi reaksi Brian terkesan lempeng belaka. Dalam wawancara bersama Nash, remaja yang baru kenal hip-hop pada 2012 ini menunjukkan sisi lainnya: orang yang serius, pendiam, dan cenderung anti sosial. Dia tak banyak omong, pun tak pernah omong besar. Terlihat berbeda dengan, katakanlah, Young Lexx, rapper yang sekarang sedang naik daun walau belakangan tampak makin menggelikan. Bahkan ketika Ghostface Killah, anggota grup hip hop legendaris Wu-Tang Clan, memproduksi ulang lagu miliknya, Brian tampak tak percaya.

"Sebenarnya aku bingung bagaimana bisa Ghostface menyukaiku. Mungkin aku terlalu rendah diri. Mungkin aku memang keren. Entah. Ghostface adalah legenda dan fakta bahwa dia ingin merekam ulang laguku, itu rasanya susah dipercaya. Aku tak bisa mempercayainya," kata Brian dalam wawancara bersama Noisey.

Infografik Musisi Indonesia Internasional


Yang Kalem dan Santai

Respons Brian terhadap segala ketenaran ini memang menarik. Dia tipikal generasi Milenial yang lebih fokus mengerjakan hal favoritnya ketimbang berambisi meraih ini dan itu. Perihal karyanya mendapat apresiasi, itu hal belakangan. Nyaris tak jauh berbeda dengan Joey Alexander yang memang sejak kecil menyukai piano dan sering melakukan jam session dengan banyak musisi, termasuk Indra Lesmana.

Di era internet seperti sekarang, dunia memang nyaris tiada batas dan tanpa jarak. Hal ini membuat go international menjadi lebih inklusif. Bisa dijamah oleh siapapun. Tak terbatas pada artis terkenal seperti, misalkan, Agnez Mo.

Yang kerap tidak disadari banyak orang adalah, ada banyak musisi Indonesia yang jauh lebih terkenal di luar negeri ketimbang di Indonesia. Mereka menangguk kesuksesan internasional dengan cara masing-masing, dan ya, mereka amat terbantu dengan internet.

Mocca, misalkan. Grup asal Bandung ini besar di kancah musik independen. Band yang dibentuk pada 1997 ini merilis album pertama mereka, My Diary, pada 2002. Salah satu lagu mereka, "Happy" menjadi musik latar dari serial drama Korea berjudul Flower Boy of the Ramyun Shop. Mocca juga pernah mengisi satu lagu untuk album Pop Renaissance yang dirilis oleh label asal Jepang, Excellent Records.

Nama lain yang sudah sejak lama go international adalah Senyawa, band eksperimental asal Yogyakarta. Duo yang terdiri dari Wukir Suryadi dan Rully Shabara ini sudah malang melintang di berbagai festival musik di seluruh dunia, baik di Amerika, Eropa, Australia, juga Asia. Penampilan grup yang meleburkan musik noise, tribal, dan sedikit sentuhan musik Jawa ini banyak dipuji oleh kritikus musik dunia. Situs The Music asal Australia mengatakan suara yang dikeluarkan duo ini "...out of this world."

Senyawa merilis album pertamanya pada 2010 yang disebar gratis melalui situs netlabel asal Yogyakarta, Yesnowave. Hingga sekarang, ada 6 album yang sudah mereka rilis. Termasuk satu album hasil kolaborasi dengan musisi Jepang, Kazuhisa Uchihashi. Pada 2012, pembuat film asal Prancis, Vincent Moon, membuat video saat Senyawa manggung. Video dahsyat itu diberi judul Calling the New Gods.

Selain dua nama itu, ada banyak sekali musisi Indonesia yang bisa dibilang go international dengan cara mereka sendiri. Mulai Burgerkill, The S.I.G.I.T, Gugun Blues Shelter, Noxa, Superman is Dead, White Shoes and the Couples Company, hingga The Hydrant.

Lagi-lagi, ambisi go international ini sudah bukan lagi hal yang eksklusif. Dengan bantuan internet, semua bisa dikenal dunia. Mungkin ini yang disebut Oasis sebagai "...revolution from my bed." Go international pun bisa dilakukan dari kamar tidur.

Meski demikian, satu kunci yang tak bisa diabaikan untuk bisa dikenal dunia, dan kamu tak bisa memanipulasinya: karya.

Baca juga artikel terkait GO INTERNATIONAL atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti