MNC Sky Vision: Juara yang Selalu Merugi

Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan - 17 Juni 2016
Dibaca Normal 4 menit
Nilai pertumbuhan Industri TV berbayar mengalami pertumbuhan yang sangat pesat awal 2010 lalu. Sayangnya, dalam dua tahun terakhir angka itu malah cenderung turun. Imbas perekenomian yang landai pada tahun lalu berdampak sangat pada raksasa terbesar dalam industri ini.
tirto.id - Konten TV teresterial yang begitu-begitu saja membuat banyak keluarga di Indonesia mulai beralih ke TV berbayar, khususnya keluarga kelas menengah. Sayangnya potensi ini belum teroptimalkan. Berdasarkan data dari Media Partner Asia (MPA), pangsa TV berbayar di Indonesia baru menjangkau 9 persen atau sekitar 3-4 juta rumah tangga dari jumlah 40 juta rumah tangga yang mempunyai televisi di Indonesia.

Perkembangan TV berbayar di Indonesia meningkat sejak 2006 silam. Wajar jika banyak grup-grup besar seperti Lippo Group, CT Group dan Elang Mahkota Teknologi (EMTEK) hadir meramaikan persaingan demi menggeser MNC Sky Vision yang telah mendominasi hampir dua dekade lebih.

Nilai pertumbuhan Industri TV berbayar mengalami pertumbuhan yang sangat pesat awal 2010 lalu. Pada 2012, pertumbuhan mencapai 7 persen, dan naik lagi menjadi 9 persen di tahun 2013. Sayangnya, dalam dua tahun terakhir angka itu malah cenderung turun, dari 5 persen di 2014 menjadi 4,5 persen pada 2015. Untuk melihat tren itu kita mungkin bisa membedah laporan keuangan pemain terbesar di bisnis ini, yakni MNC Sky Vision.

MNC Sky Vision adalah pengelola dari TV berbayar Indovision, Okevision dan TopTV. Sebagai perusahaan yang mengelola TV berbayar tertua di Indonesia, mereka mengklaim saat ini menguasai sekitar 74,6 persen pangsa pasar industri ini.

Terhitung pada akhir 2015 lalu, jumlah konsumen mereka mencapai 2,43 juta pelanggan. Terjadi tren penurunan mencapai 4 persen jika merujuk pada tahun 2014, yang berkisar 2,52 juta pelanggan. Jika dirinci lebih detail penurunan paling besar dicapai oleh pelanggan Indovision yakni 11,46 persen.

Meski mulai ditinggalkan pelanggan, secara pendapatan keuangan mereka relatif stabil. Angka pendapatan mereka hanya minus 1,3 persen, dari Rp3,28 triliun di 2014 menjadi Rp3,235 trilun pada 2015.

Pendapatan stabil bukan berarti neraca keuangan stabil pula. Kerugian MNC Sky Vision melonjak hingga minus 80 persen pada 2015 lalu. Kerugian bersih pada 2014 hanya berkisar Rp155 miliar, lalu naik hingga empat kali lipat jadi Rp776 miliar pada tahun lalu.

Dalam laporan keuangannya, mereka mengklaim porsi terbesar dari kerugian bersih ini disebabkan rugi selisih kurs yang belum terealisasi atas pinjaman sindikasi akibat fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.

Saat ini, MNC Sky Vision memang memiliki tunggakan utang jangka panjang kepada 22 pihak asing yang mesti dibayar dengan dolar. Utang mereka berjumlah $243 juta atau Rp3,3 triliun. Pinjaman ini memiliki jangka waktu selama 3 tahun. Fasilitas kredit ini dikenakan bunga berdasarkan London International Offered Rate (LIBOR) + 4,25% per tahun. Bunga dibayarkan setiap triwulanan.

Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar yang semakin meningkat membuat utang ikut terkerek naik. Inilah yang ditengarai jadi biang kerok turunnya perkembangan bisnis mereka. Meski begitu, MNC Sky beralasan penurunan laba ini merupakan kerugian nilai buku yang tidak memengaruhi posisi keuangan Perseroan.

Dalam soal pengelolaan serta pengembangan konten dan program, terkuak dalam laporan keuangan triwulan I 2016 bahwa MNC Sky memiliki tunggakan menyentuh angka Rp963 miliar. Utang pada pihak berelasi yang satu grup MNC mencapai Rp163,8 miliar sisanya Rp799,8 miliar pada pihak luar, di antaranya HBO Asia Pacific (Rp51 miliar), Turner International (Rp57 miliar) dan lain-lain.

Menariknya dari rincian utang itu, hampir 80 persen atau Rp780 miliar dibayar dalam bentuk mata uang dolar. Untuk menyiasatinya, dalam laporan keuangan dipaparkan MNC Sky telah melakukan negosiasi ulang dengan sebagian besar pemasok konten program. Kesepakatan yang dicapai, untuk setiap pembayaran kewajiban, baik yang terutang maupun tagihan baru selama Licensing Period menggunakan nilai tukar tetap yang disepakati.

Pihak MNC Sky sebenarnya sudah sadar bisnis mereka mengalami penurunan. Manajemen membuat kebijakan efisiensi biaya konten dengan lebih selektif menambah program yang memiliki nilai iklan. Kebijakan ini sangat wajar mengingat pertumbuhan iklan berbayar mereka sangat lambat. Pendapatan dari iklan pada 2015 hanya Rp145 miliar atau 4,7 persen dari pendapatan total.

Apa yang dialami MNC Sky sudah diprediksikan jauh hari oleh Media Partner Asia yang menilai angka pertumbuhan iklan TV berbayar di Indonesia pada beberapa tahun ke depan hanya berkisar 3-4 persen. Sangat jauh dengan TV terestrial sebanyak 10 persen.

Bagi industri TV berbayar, meskipun pendapatan dari iklan itu kecil, tetapi catatan keuangannya bisa langsung dimasukan sebagai laba bersih. Karena tidak perlu biaya dan belanja untuk modal penayanganny. Cukup perlu terima materi dari si pengiklan kemudian menayangkan. Karena itu upaya MNC Sky Vision menggejot pemasukan dari iklan adalah hal yang wajar.

Sebenarnya turunnya persentase pelanggan MNC Sky hanya disebabkan Indovision saja. Di saat Indovision turun, OkeVision dan TopTV malah cenderung meningkat, meskipun kecil. Tahun lalu pelanggan OkeVision naik 2 persen, sedang TopTV naik 5 persen.

Dua jaringan TV Kabel ini memiliki target pasar berbeda dari Indovision. TopTV secara khusus untuk konsumen dari kalangan menengah-bawah, sementara OkeVision untuk kawula muda yang butuh lebih tayangan film dan hiburan. Sebuah catatan menarik adalah dua TV berbayar ini meneguk sukses terhadap pasar di luar Jawa – yang notabene belum digeluti secara serius oleh para kompetitor.

Di Jawa dan kota-kota besar sendiri, pamor Indovision kini sudah mulai ditinggalkan. Terutama setelah kompetitor mulai memberikan paket bundling internet dan TV Kabel sejak tahun 2011-an. MNC Group sendiri sudah terjun di bisnis ini sejak awal 2014 lalu. Hanya saja pengelolaanya tak diserahkan pada MNC Sky, tetapi pada PT MNC Kabel Mediacom dengan tajuk Play Media.



Jika menilik dari gaung yang ada, Play Media tampaknya kalah bersaing dengan IndiHome dan First Media. Keduanya menawarkan bundling TV Kabel dengan internet ke perumahan dan perkantoran. IndiHome bahkan lebih agresif dengan menawarkan bundling TV Kabel, internet, dan telepon rumah. Iming-imingnya, akses internet yang lebih cepat dan stabil karena kabel fiber. Inilah yang membuat konsumen tertarik untuk berpaling dan pindah provider.

Persaingan paket bundling ini tentu saja membuat MNC semakin waspada. Wajar jika Hary Tanoe kini kembali mengalihkan perhatiannya kepada MNC Sky, tentunya dengan jualan produk yang sama: bundling internet dan TV Kabel.

Pengguna internet di Indonesia cukup besar dan belum tereksploitasi secara penuh karena akses yang belum begitu merata. MNC Sky jeli dengan hal ini dan menggandeng PT XL Axiata, Tbk. (XL) untuk melakukan kerja sama strategis pemanfaatan layanan 4G LTE bagi masyarakat melalui program “Super Bundle!! TV Kabel dan XL Internet Super Cepat” .

Untuk tahap awal, program hanya ada di kota Jakarta, Bandung dan Surabaya, dan akan terus diperluas secara menyeluruh ke 85 kota yang akan terlayani jaringan XL 4G LTE sampai dengan akhir tahun 2016 ini. XL saat ini memiliki jaringan kabel serat optik sepanjang 30.000km. Ini menjadikan XL sebagai operator dengan jaringan serat optik terbesar kedua setelah Telkom.

Dengan jumlah pelanggan MNC Sky mencapai 2,4 juta, XL melihat ini sebagai peluang. Mereka tentunya tak perlu bersusah payah lagi melakukan pemasaran. Di sisi lain, MNC Sky butuh XL agar membuat mereka bisa bertahan.

Dari sisi bundling, MNC Sky mungkin kalah dari IndiHome yang menawarkan paket yang termasuk telepon rumah. Namun, MNC Sky tampaknya punya kartu andalan yakni melarang saluran televisi milik grupnya tayang di TV kabel pesaingnya. Saat ini, saluran televisi milik MNC Grup yakni RCTI, MNC TV, Global TV, sudah tidak ditayangkan di UseeTV IndiHome dan juga First Media.

Dalam pengumumannya kepada pelanggan pada Maret lalu, IndiHome menyatakan bahwa pihak MNC Grup tidak lagi ada kerja sama dengan UseeTV. IndiHome menjanjikan saluran lain dengan konten yang lebih menarik. Tapi, trik ini tentunya tidak banyak berdampak karena toh pelanggan masih bisa menikmati saluran MNC grup tanpa TV kabel. Kebijakan ini bisa jadi malah merugikan MNC.

Persaingan bisnis TV kabel memang cukup sengit. Apalagi, tidak ada tipikal pelanggan setia untuk TV kabel ini. Mereka umumnya gampang beralih jika ada provider lain yang menawarkan paket lebih menarik dan murah. Tentu saja, kualitas tetap nomor satu mengingat konsumen segmen menengah atas termasuk golongan yang rewel. Inilah tantangan yang harus dihadapi oleh para provider TV kabel di Indonesia.

Baca juga artikel terkait BISNIS atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti