Mitos Pringgodani dan Kekuasaan di Gunung Lawu

Oleh: Ahmad Khadafi - 21 Februari 2017
Dibaca Normal 2 menit
Dari Brawijaya V, Pringgodani dikhidmati Pakubuwana II hingga Soeharto.
tirto.id - Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan keluarga pergi untuk rekreasi di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, (20/2). Beberapa media lokal menyebutkan kemungkinan SBY juga berkunjung ke kawasan Pringgondani, sebuah lokasi wisata religi yang dihormati penduduk setempat.

Sudah sejak lama Pringgondani dikenal sebagai tempat yang wingit. Sebuah kompleks pertapaan yang dipercaya sebagai salah satu petilasan Raja Majapahit yang terakhir, Prabu Brawijaya V. Ia disebut melarikan diri dari musuh-musuhnya sampai kemudian meninggal atau disebut moksa di sana.

Terletak di Kelurahan Blumbang, Gunung Lawu, yang secara administrasi berada di perbatasan antara Jawa Tengah dengan Jawa Timur, Pringgondani berasal dari kata "pring" (bambu), "nggon" (tempat), dan "dani" (memperbaiki). Secara sederhana bisa diartikan sebagai "tempat yang digunakan untuk memperbaiki diri". Dalam nama yang lain Pringgondani juga disebut “Eyang Panembahan Koconegoro”, karena di dalam kompleks pertapaan terdapat Pertapaan Koconegoro; sebuah tempat yang dituakan (dikeramatkan) yang digunakan untuk tempat bercerminnya kerajaan.

Dalam Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830-1939, Darsiti Soeratman (1980: 155) pernah menyebutkan bahwa dalam kepercayaan Jawa, dengan syarat-syarat tertentu manusia bisa meminta kepada penguasa dari empat mata angin. Termasuk tentu saja jika dia adalah seorang penguasa di daerah tersebut.

Di selatan ada Ratu Kidul atau Nyai Roro Kidul, di Samudra Hindia. Sebelah barat ada Kanjeng Ratu Sekar Kedhaton di Gunung Merapi. Di utara ada Bethari Durga yang berkedudukan di Hutan Krendawahana. Dan petilasan Pringgondani adalah salah satu tempat penguasa wilayah Timur berada; tempat petilasan Prabu Brawijaya V atau juga dikenal sebagai Kanjeng Sunan Lawu.

Dalam Dunia Spiritual Soeharto (hal. 128), Presiden Kedua Indonesia disebut-sebut sebagai salah satu presiden yang cukup konsisten menjalani laku spiritual demikian. Soeharto biasanya akan memulai dari arah selatan terlebih dahulu, baru kemudian ke barat, utara, dan terakhir sebelah timur. Ritual yang sudah menjadi tradisi dan dilakukan oleh raja-raja Mataram Islam sejak lama. Mitos yang kemudian berkembang menjadi kepercayaan bahwa seorang pemimpin (dari) Jawa harus melakukannya agar negara dan kedudukannya aman sentosa.

Menurut Karen Amstrong, penulis Sejarah Tuhan, sebuah mitos—walau seabsurd apapun alasannya—dianggap benar karena efektif memberi pengaruh. Sebuah mitos tidak perlu memberikan informasi faktual atau alasan logis, karena mitos pada dasarnya merupakan panduan atau aturan-aturan yang tidak tertulis pada masyarakat untuk menjalani hidup.

Dalam lingkup kekuasaan, Joseph Campbell dan Bill Moyers dalam The Power of Myth (1991) menyatakan bahwa mitos adalah usaha memperkuat seorang tokoh menjadi ikon yang tidak hanya punya kekuasaan secara formil namun juga kekuasaan secara kultural.

Artinya, jika hanya menggunakan kekuasan secara struktural, kedudukan Raja-raja Mataram Islam tidak akan bertahan dan mengakar begitu kuat. Mitos digunakan sebagai siasat kebudayaan agar rakyat percaya bahwa raja mereka memang merupakan manusia pilihan. Raja bukan manusia biasa, ia punya kekuatan yang tidak hanya terlihat secara kasat mata. Pada titik ini, rakyat akan merasa dilindungi secara alam bawah sadar mereka, di sisi lain juga rakyat akan selalu merasa diawasi dan tunduk tanpa perlu dibikin aturan-aturan yang tertulis.

Secara perhitungan ekonomi, terutama terkait dengan pengadaan alat-alat militer untuk menjaga stabilitas kerajaan, hal ini jelas jauh lebih efisien. Menggunakan cerita dan mitos jauh lebih mudah merasuk ke rakyat. Bahkan bisa terus berlangsung secara turun menurun. Ini jelas penghematan anggaran kerajaan yang luar biasa untuk membuat rakyat tunduk kepada raja.

Fungsi lainnya, mitos juga bisa digunakan untuk membuat rakyat tidak mudah berpaling begitu mudah dari raja mereka, terutama jika muncul tuan tanah atau orang kaya berpengaruh yang secara kekuasaan berpotensi mengancam kekuasaan raja. Inilah yang diungkapkan Onghokham dalam Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong, Refleksi Historis Nusantara (hal. 181).

Di Kerajaan Surakarta, ada perbedaan mendasar antara mitos Nyi Roro Kidul dengan Nyi Blorong. Nama terakhir ini punya konotasi negatif, karena Nyi Blorong dianggap sebagai sekutu untuk memperkaya diri, sedangkan Nyi Roro Kidul berkonotasi positif karena dianggap sebagai sekutu yang tulus. Nyi Roro Kidul pada akhirnya dianggap punya peran juga melindungi kerajaan. Di sinilah kemudian, orang-orang kaya dipersepsikan sebagai orang tamak yang harus dijauhi, sedangkan raja jarus didekati karena ia adalah orang baik.

INFOGRAFIK Tempat Keramat


Hal ini juga berlaku dengan hubungan raja-raja mataram dengan Sunan Lawu di kompleks pertapaan Gunung Lawu seperti di Pringgondani. Hal ini terkait karena roh-roh di Gunung Lawu yang dipercaya merupakan roh-roh Raja Majapahit di masa silam. Onghokham menyebut bahwa Keraton Surakarta pernah menggunakan mitos pertapaan di Gunung Lawu dalam sengketa perebutan kekuasaan.

Pada 1742, Paku Buwono II yang lebih condong ke VOC dikudeta oleh rakyatnya yang anti-VOC. Pada perkembangannya, rakyat kemudian ikut-ikutan menjadi anti-Paku Buwono II. Pemberontakan ini diinisiasi oleh gabungan masyarakat etnis Tionghoa dengan masyarakat Jawa yang kemudian mengangkat Raden Mas Gerendi menjadi raja dengan sebutan “Sunan Kuning”. Nama yang diusulkan rakyat etnis Tionghoa.

Karena disingkirkan dari singgasananya, Paku Buwono II kemudian bertapa di Gunung Lawu. Setelah bertapa, Paku Buwono II kemudian mendaku dan mengumumkan diri sebagai reinkarnasi Sunan Lawu atau Prabu Brawijaya, raja terakhir Kerajaan Majapahit. Menggunakan mitos ini, dengan bantuan tentara VOC, Paku Buwono II kembali dapat merebut tahtanya. Kejadian yang dikenal sebagai “Geger Pecinan” ini menjadi latar perubahan nama dan perpindahan letak geografis dari Kartasura menjadi Surakarta.

Menjadi menarik jika kemudian pengunjung kompleks pertapaan Pringgodani merasa punya nasib yang sama dengan Paku Buwono II. Menyingkir (sejenak) dari pusat kekuasaan karena merasa dikalahkan oleh penguasa etnis Tionghoa. Seperti kata George Orwell: “Mitos yang dipercayai, cenderung akan jadi benar.”

Baca juga artikel terkait PETILASAN PRINGGODANI atau tulisan menarik lainnya Ahmad Khadafi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Ahmad Khadafi
Penulis: Ahmad Khadafi
Editor: Zen RS