Microsoft Surface: Kenapa Produk Itu Tidak Pernah Masuk Indonesia?

Infografik Microsoft Surface
Microsoft Surface Duo ditampilkan, Rabu, 2 Oktober 2019, di New York. (AP Photo/Mark Lennihan)
Oleh: Ahmad Zaenudin - 7 Oktober 2019
Dibaca Normal 4 menit
Microsoft baru merilis versi baru lini produk Surface.
tirto.id - Ketika hendak merilis Windows 10 pada empat tahun lalu, CEO Microsoft, Satya Nadella, berjanji hendak melakukan perubahan tak hanya di lingkar dalam perusahaan, tetapi juga mengenai cara pandang masyarakat terhadap perusahaan yang didirikan Bill Gates dan Paul Allen itu.

“Kami ingin beralih, mengubah orang-orang yang menggunakan Windows karena membutuhkannya menjadi menggunakan Windows karena memilihnya. Nantinya, orang-orang menggunakan Windows karena ia mencintainya,” tegas Nadella ketika itu.

Niat Nadella mengubah Microsoft diimplementasikan melalui beberapa reorganisasi perusahaan. Misalnya, mengubah nama salah satu divisi perusahaan dari "Windows and Device Group" menjadi “Experience & Device”, divisi yang membawahi Windows, Office, dan bintang baru dalam keluarga Microsoft: Surface.

Surface sebetulnya merupakan produk "lama" Microsoft. Ia tak lahir di zaman Nadella, melainkan di saat Steve Ballmer masih berkuasa. Kala itu, pada 2012, sebagaimana dilansir Ars Technica, Surface lahir untuk memastikan Microsoft turut ambil bagian dalam bisnis tablet.

Presiden "Windows and Windows Live Division", Steven Sinofsky, merujuk kepada Google, Amazon, dan Apple yang sudah punya tablet terlebih dahulu. Menurutnya, Google memanfaatkan tablet untuk mengumpulkan data, sementara Amazon merilisnya untuk menggiring orang berbelanja, dan Apple membuat tablet sebagai kepanjangan dari iPhone.

Microsoft, di sisi lain, menghadirkan Surface sebagai "versi ringan dari Windows". Sedihnya, niatan itu gagal. Pasar menganggap Surface memang produk yang "ringan", tapi bukan merujuk pada versi sederhana seperti yang diinginkan Windows, melainkan dalam arti produk yang diremehkan.

Microsoft, yang lebih dari 30 tahun hanya berbisnis dengan cara merancang program bagi perusahaan lain, seakan tidak bisa membuat perangkat keras utuh yang menggabungkan perangkat keras dan lunak.

Menurut Peter Bright, yang mengulas produk ini di Ars Technica, alasannya sederhana saja: Surface bahkan "tidak bisa menjalankan hampir semua aplikasi Windows yang pernah dibuat". Bright menyebut produk itu "lemon".

Namun, tujuh tahun berlalu, Surface kini menjelma menjadi cerminan perubahan yang dijanjikan Nadella.

Diversifikasi Produk


Pada pekan pertama Oktober, Microsoft meluncurkan versi pembaruan Surface. Di lini laptop/tablet, perusahaan yang bermarkas pusat di Redmond ini merilis Surface Pro 7, Surface Laptop 3, dan Surface Pro X.

Sekilas tidak ada yang spesial dari Surface Pro 7 selain penggunaan edisi ke-10 prosesor Intel. Namun, jika melihat dalaman perangkat itu, khususnya Surface Laptop 3 dan Surface Pro X, keinginan Nadella bahwa produk buatan Microsoft dibeli karena dipilih--bukan dibutuhkan--terwujud.

Pasalnya, Surface Laptop 3 dan Surface Pro X mulai dilakukan diversifikasi. Dengan demikian, konsumen tak hanya disuguhkan satu opsi saja, melainkan beragam pilihan.

Pada Surface Laptop 3, khususnya yang berukuran 15 inci, Microsoft membenamkan prosesor garapan AMD, yakni Ryzen, alih-alih menggunakan Intel. Rick Bergman, AMD Executive Vice President, Computing and Graphics Business Group, dalam keterangan pers yang diterima Tirto, mengklaim bahwa prosesor garapan perusahaannya yang dibenamkan pada Surface merupakan "prosesor mobile paling bertenaga".

Ryzen yang dibenamkan pada Surface memang merupakan prosesor khusus. Sebagaimana dilansir The Verge, chip ini sanggup bekerja hanya dengan tenaga sebesar 15 watt. Lantas, jika dipacu, Ryzen sanggup bekerja di kisaran 1,2 teraflops, yang setara dengan kerja Xbox One memproses mesin konsolnya.

AMD sendiri, menurut Jack Huynh, General Manager AMD, mengatakan bahwa proses pembuatan Ryzen yang khusus untuk Surface itu dilakukan "ribuan jam kerja, yang bukan hanya untuk mengoptimalkan CPU dan GPU, tapi segala aspek seperti manajemen kelistrikan, pen, sistem layar sentuh, memori, bandwidth, firmware, dan driver".

Pada Surface Pro X, Microsoft membenamkan prosesor Qualcomm SQ1, suatu prosesor berarsitektur ARM yang lazim digunakan pada ponsel. Sebetulnya, prosesor berarsitektur ARM pernah digunakan Microsoft pada Surface, yakni Surface edisi pertama. Namun, sebagaimana diulas Peter Bright, tablet itu bagaikan "lemon" yang kecut dan asam.

Kini, SQ1 diciptakan dengan teknologi 7 nanometer, dengan memiliki delapan inti pemrosesan. Alhasil, SQ1, yang menggunakan chip bernama Kryo di dalamnya ini sanggup dipacu hingga 2,1 teraflops.

Dengan kekuatan SQ1 itu, Microsoft mengklaim bahwa Surface Pro X akan menyajikan "performa sekelas PC," tetapi ditambah dengan betapa hematnya prosesor berbasis ARM.

Diversifikasi AMD dan ARM yang diusung Surface mungkin sederhana. Diversifikasi yang lebih menggairahkan di tahun ini adalah Microsoft memperkenalkan Surface Duo, ponsel pintar bersistem operasi Android, bukan Windows.

Sebentar, Android?

Tak Hanya Windows

"Sistem operasi bukanlah sesuatu yang penting lagi bagi kami," tutur Satya Nadella.

Di dunia komputer, Windows berjaya sebagai sistem operasi pilihan sejuta umat. Ia menguasai 79,1 persen pasar sistem operasi bagi komputer. Sialnya, di ranah ponsel, Windows melempem dengan hanya menguasai 0,1 persen.

Microsoft pernah berupaya memenangkan Windows di pasar ponsel, salah satunya dengan menghadirkan Windows Phone dan bahkan membeli divisi ponsel Nokia. Hasilnya gagal. Upaya terakhir Windows selanjutnya adalah pada 2016 dengan merilis Lumia 650 menggunakan merek Nokia. Setelah itu, tidak ada lagi ponsel berbasis Windows yang dibuat.

Hingga kemudian, Panos Panay, Chief Surface, memperkenalkan Surface Duo, ponsel berlayar dua yang mengusung sistem operasi Android. Menurut Panay, sebagaimana dikatakannya kepada The Verge, pilihan menggunakan Android karena ekosistem sistem operasi ini telah sukses di dunia ponsel.

"Karena di Android ada ratusan ribu aplikasi dan orang-orang menginginkannya," tegas Panay. "Di ponsel, segalanya tentang aplikasi (bukan sistem operasi)," tambahnya kemudian. Pengerjaan Surface Duo, sebut Panay, turut dibantu oleh Google. Maka ia pun mengklaim, pengguna akan merasakan keunggulan Microsoft dan Google dari perangkat ini.

Tapi, meski pun mengusung Android, Panay menegaskan bahwa Windows masih sangat penting bagi Microsoft. Hanya saja persoalannya, dunia ponsel memang jauh lebih cocok untuk Android.

"Kami telah mempelajari ini. Pilihannya, gunakan sistem operasi yang tepat pada produk yang salah atau sebaliknya. Tapi, pertanyaan penting, apa sistem operasi yang tepat untuk ponsel? Dan dalam hal ini, Android merupakan pilihan yang jelas. Tapi apapun itu, Windows adalah segalanya," tegas Panay, masih dalam wawancaranya dengan The Verge.

Menurut Nilay Patel, Pemimpin Redaksi The Verge, tujuan Microsoft untuk menghadirkan ponsel berbasis Android hanya untuk menambal lubang kekalahan perusahaan tersebut. Dengan Android, Microsoft dapat "memaksa" pengguna untuk tetap menggunakan produk Microsoft lain.

Menurut Panay, pendapat Patel tersebut "merupakan teori yang baik".

Di luar diversifikasi atau pilihan Microsoft mengusung Android, kenyataan yang diterima publik Indonesia adalah sejak lini Surface diluncurkan, produk ini tak pernah masuk ke Indonesia secara resmi. Tidak ada jawaban pasti mengapa hal tersebut terjadi. Namun, menarik membandingkannya dengan kasus yang dialami Apple.

Produk-produk Apple, khususnya iPhone, selalu telat datang secara resmi ke Indonesia. Chuck Jones, kontributor Forbes mengungkapkan, salah satu alasan terbatasnya negara yang menjadi penjual resmi pertama produk-produk yang diproduksi Apple karena faktor manufaktur.

Mitra Apple yang memasok bahan baku mesti menjaga betul kualitas dan menambah produksi dan ini memerlukan waktu yang tidak sebentar.



Selain itu, lambatnya penetrasi iPhone masuk ke pasar Indonesia punya banyak alasan. Salah satunya ialah terkait regulasi. Antara lain adalah Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 82/M-DAG/PER/12/2012 tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet.

Aturan tersebut kemudian direvisi dengan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 41/M-DAG/PER/5/2016 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 82/M-DAG/PER/12/2012.

Permendag mengatur masuknya perangkat (impor) barang seperti iPhone harus melalui perusahaan yang telah menjadi importir terdaftar telepon selular. Perusahaan importir yang memasukkan barang harus perusahaan yang telah mendapatkan persetujuan impor dari Kementerian Perdagangan.

Selain dari Permendag, batu sandungan lainnya adalah Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 65 tahun 2016 Tentang Ketentuan dan Tata Cara penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) Produk Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet.

Aturan tersebut merinci besaran persentase kandungan lokal pada suatu perangkat berbasis jaringan 4G. TKDN, dibuat untuk mengurangi defisit perdagangan karena terlalu banyaknya impor ponsel yang masuk Indonesia. Aturan TKDN juga dimaksudkan untuk mendorong nilai tambah di Indonesia dari proses manufaktur atau investasi.

Tapi, selain membandingkan dengan kasus yang menimpa Apple, kasus tidak masuknya Surface ke Indonesia juga mungkin terjadi karena tekanan dari berbagai rekanan Microsoft sendiri.

Pada 2012, Computer World memberitakan bahwa pilihan Microsoft menciptakan Surface ialah "langkah yang radikal" karena bisnis mereka masih sangat bergantung dengan banyak pencipta laptop. Asus, Dell, Hewlett-Packard, hingga Lenovo kemungkinan tidak akan senang dengan sikap Microsoft ini. Sebab, setelah mereka membeli lisensi Windows, Microsoft justru membuat perangkat sendiri.

Dengan sikap ini, mungkin Microsoft akan membatasi ketersediaan Surface. Dan Surface, sebagaimana Pixel dari Google, hanya dijadikan contoh bahwa inilah produk Windows yang paling baik.

Baca juga artikel terkait MICROSOFT atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight