Merunut Penularan Corona Varian India di Palembang & Palangka Raya

Oleh: Irwan Syambudi - 18 Mei 2021
Dibaca Normal 2 menit
Varian COVID-19 dari India masuk Indonesia. Epidemiolog meminta pemerintah lebih ketat memantau.
tirto.id - Varian COVID-19 B1617 dari India sudah menyebar di Indonesia. Hingga Senin 17 Mei 2021 sudah ditemukan 10 kasus. Tujuh di antaranya diduga berasal dari penularan lokal: empat ditemukan di Palembang, Sumatera Selatan dan tiga di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Kepala Seksi Surveilans Imunisasi Dinas Kesehatan Sumsel Yusri mengatakan kepada reporter Tirto melalui sambungan telepon, Senin (17/5/2021), bahwa penularan lokal disimpulkan karena yang terjangkit “tidak ada riwayat bepergian ke luar negeri, tidak ada kontak dengan warga asing, [hanya] ada kontak dengan keluarga yang tidak ada riwayat bepergian ke luar negeri.”

Empat kasus terkonfirmasi varian B1617 itu sudah ada di Sumsel sejak Januari 2021. Hal itu diketahui berdasarkan waktu pengambilan sampel yang dilaporkan di laman resmi Global Initiative for Sharing All Influenza Data (GISAID), inisiatif sains global dan sumber utama yang menyediakan akses terbuka ke data genom virus influenza dan Corona yang bertanggung jawab atas pandemi COVID-19.

Salah satunya berdasarkan pengambilan sampel swab cairan dari bagian belakang hidung dan tenggorokan seorang pasien laki-laki berusia 61 tahun pada 8 Januari 2021, kemudian berturut-turut sampel perempuan 62 tahun pada 12 Januari 2021; sampel perempuan 64 tahun pada 14 Januari 2021; dan sampel laki-laki berusia 45 tahun pada 15 Januari 2021.

Keempat sampel swab itu termasuk 10 sampel yang diperiksa setiap bulannya di laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS). WGS, menurut IASLC Thoracic Oncology, adalah “analisis dari seluruh urutan DNA genom sel pada satu waktu” yang dapat “memberikan karakterisasi genom yang paling komprehensif.” Sementara genom sendiri adalah keseluruhan informasi genetik yang dimiliki suatu sel.

Hasil WGS dilaporkan pada 8 Mei 2021 atau empat bulan kemudian. Yusri menerangkan empat pasien varian B1617 saat ini kondisinya sudah sehat.


Sementara tiga kasus penularan lokal di Palangka Raya dikonfirmasi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kalteng Suyuti Syamsul. Tiga kasus tersebut berasal dari pengambilan sampel swab cairan dari bagian belakang hidung dan tenggorokan pasien laki-laki berusia 30 dan 36 tahun pada 19 Maret 2021; kemudian pada pasien anak perempuan berusia 2 tahun 7 bulan pada 20 Maret 2021.

Tiga sampel yang berasal dari pasien di Palangka Raya tersebut, kata Suyuti, dikirim ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) pada 27 Maret 2021. Hasilnya di laporkan di GISAID pada 8 Mei 2021.

“Laboratorium Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI telah melakukan pemeriksaan sampel tersebut dan dinyatakan positif sebagai varian B1617,” kata Suyuti, Minggu (9/5/2021), dikutip dari Antara.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi juga mengonfirmasi temuan tiga kasus B1617 di Kalteng, bahkan mengatakan itu berasal dari penularan lokal. “Penularan lokal dan kondisinya saat ini sehat,” kata Nadia, Senin.

Sementara sisanya, dua kasus B1617 ditemukan di Jakarta, lalu satu di Tangerang.

Sumsel & Kalteng Jadi Perhatian

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga telah memberikan perhatian lebih pada penularan varian-varian ini. “Kita ketahui Indonesia sudah dimasuki 3 virus VoC (Variant of Concern) atau virus-virus yang relatif berbahaya versi WHO. Yaitu dari London B117, Afsel B1351, dan India B1617. Ini agak terkonsentrasi di Sumsel dan Kalimantan,” kata Budi dalam siaran pers virtual di YouTube Sekretariat Presiden, Senin (10/5/2021) pekan lalu.

Varian B117 sudah masuk ke Indonesia sejak Januari 2021, beredar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, juga Bali. Kemudian varian Afsel ditemukan satu di Bali. “Dan yang akhir-akhir ini cukup banyak masuk ke Indonesia adalah varian dari India. Ini banyak kita temui di Sumsel dan Kalteng,” katanya.

Untuk itu ia meminta masyarakat khususnya di Kalteng dan Sumsel untuk lebih berhati-hati dan meningkatkan protokol kesehatan. “Sekali lagi, penerapan prokes disiplin 3M dan penerapan PPKM mikro secara disiplin adalah cara yang paling ampuh untuk mengontrol penularan ini,” ujarnya.

Selain itu Budi juga berjanji Kemenkes akan memperketat pemeriksaan WGS, terutama di daerah yang kini banyak memiliki varian baru.


Epidemiolog dari Universitas Sriwijaya Palembang Rico Januar Sitorus mengatakan pemerintah tak hanya perlu melakukan peningkatan pemeriksaan WGS, tapi juga harus meningkatkan pelacakan atau tracing kasus.

“Kami dari epidemiolog sangat merekomendasikan agar tracing-nya diperketat jadi minimal satu kasus tracing kontak 1 banding 10 atau 20. Tracing perlu diperketat untuk memperkecil penularan varian baru ini ke masyarakat yang lebih luas,” kata Rico kepada reporter Tirto, Senin.

Ia melihat upaya tracing memang telah dilakukan oleh Pemprov Sumsel, namun menurutnya tak bisa terpaku dengan apa yang sudah dilakukan. Dengan situasi pandemi yang terus berlangsung dan varian baru bermunculan, peningkatan dan pengetatan pelacakan kasus wajib dilakukan.

Bersama dengan itu pengetatan mobilitas terhadap orang-orang yang berpotensi tinggi menyebarkan varian baru juga harus dilakukan. “Pintu-pintu masuk seperti di bandara itu harus dijaga ketat. Khususnya yang dari luar negeri harus diperketat untuk bisa masuk ke Indonesia,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait VARIAN COVID-19 INDIA atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi & Mohammad Bernie
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Rio Apinino
DarkLight