Mereka yang Bertahan Lebih dari 1 Abad

Oleh: Petrik Matanasi - 27 Agustus 2016
Dibaca Normal 5 menit
Perjalanan melewati 1 abad memang tidak mudah. Pasang dan surut silih berganti. Namun, produk-produk ini ternyata bisa bertahan meski sudah melewati sejumlah generasi. Banyak produk-produk tua yang sudah akrab dengan kehidupan sehari-hari. Produk-produk ini umumnya mampu bertahan hingga satu abad karena mempertahankan orisinalitasnya.
tirto.id - Produk kecap cap Orang Jual Sate, Dji Sam Soe merupakan satu dari sekian produk yang sudah berumur lebih dari 100 tahun. Banyak lagi produk-produk tua yang sudah akrab dengan kehidupan sehari-hari. Produk-produk ini umumnya mampu bertahan hingga satu abad karena mempertahankan orisinalitasnya. Kecintaan terhadap produk itu diturunkan secara turun temurun.

Beberapa dari produk berusia seabad ini, adalah produk yang jadi konsumsi masyarakat sehari-hari. Ada yang dikenal di seluruh nusantara, ada juga yang hanya dikenal di kota tertentu saja. Bertahan adalah hal yang tak mudah. Apalagi hingga seabad. Perlu ada konsistensi dari generasi ke generasi. Di Indonesia hanya sedikit produk yang bisa bertahan seperti itu. Beberapa produk yang sama bisa jadi berganti nama silih berganti. Ada juga yang sedari awal hingga ini memakai nama yang sama.

Soda Tjap Badak (1916)

Jauh sebelum Coca Cola dan sekutunya masuk ke Indonesia, minuman bersoda kemasan produk lokal sudah ada. Di sekitar Medan dan Pematang Siantar, ada minuman soda cap Badak. Minuman itu dihasilkan dari NV Ijs Fabriek Siantar yang berdiri sejak 1916 di Pematang Siantar. Coca Cola sendiri baru masuk ke Indonesia tahun 1927. Pabriknya di Jakarta baru berdiri sejak 1932.

Pabrik soda cap Badak didirikan Heinrich Surbeck, pria kelahiran Halau, Swiss. Keturunan Surbeck pernah mengelola perusahaan ini sebelum ada nasionalisasi di tahun 1950-an.

Pabrik NV Ijs Fabriek Siantar menghasilkan minuman soda dengan rasa jeruk, anggur, sarsaparila dan soda murni. Minuman serupa seperti Fanta milik Coca Cola baru muncul 1941 di Jerman.

Selain minuman soda, pabrik Es Siantar ini juga memperoduksi sari buah markisa dengan merek Marquisa Sap. Minuman-minuman ini sebagian sempat diekspor. Sayangnya, produk soda cap Badak ini semakin kalah populer oleh produk-produk milik perusahaan asing seperti Coca Cola ataupun Pepsi.

Djie Sam Soe (1913)

Sejarah rokok kretek tak lepas dari nama Nitisemito dari Kudus. Nitisemito yang asli Kudus itu pernah mendirikan pabrik rokok kretek. Awalnya, Nitisemito memberi label rokoknya: Tjap Kodok Mangan Ulo (Kodok makan ular). Merek ini tak membawa hoki, bahkan jadi bahan tertawaan. Nitisemito lalu ganti merek menjadi: Bulatan Tiga. Kotak pembungkus rokok ini bergambar bulatan mirip bola. Hingga orang mengenalnya sebagai Bal Tiga. Rokok ini mulai diproduksi sekitar 1914, dan bubar setelah kematian Nitisemito di tahun 1953.

Satu zaman dengan Bal Tiga, ada merek legendaris yang masih hidup sampai hari ini. Perokok kretek Indonesia kenal Dji Sam Soe. Sejak 1913, rokok ini sudah ada. Rokok ini dulunya diproduksi oleh Liem Seeng Tee bersama istrinya, yang merupakan imigran Tionghoa. Mereka memulainya dengan produksi rokok rumahan. Di bawah bendera HM Sampoerna, bisnis rokok Liem Seeng Tee terus membesar.

Setelah Bal Tiga tenggelam, keluarga Sampoerna generasi kedua menerapkan manajemen yang lebih modern. Perusahan Sampoerna bahkan terus berkembang ke sektor non rokok. Industri rokok keluarga ini kemudian dijual ke Philip Morris pada tahun 2005. Namun, rokok Dji Sam Soe terus berjaya. Penggemar setia rokok kretek masih setia dengan Dji Sam Soe. Sisa sejarah Dji Sam Soe terpelihara di House of Sampoerna, Surabaya. Tak jauh dari Penjara Legendaris Kalisosok.

Bah Kacung (1912)

Tahu merupakan makanan tradisional masyarakat Jawa. Di Kediri, orang-orang terbiasa dengan tahu kuning Bah Kacung. Seorang Tionghoa bernama Lauw Soe Hoek membuat tahu kuning ini pada 1912. Pelopor pembuat tahu kuning lain, Liem Ga Moy baru mengawali usahanya pada 1948. Lauw Soe Hoek lalu dikenal sebagai Bah Kacung. Tahu buatannya dikenal sebagai tahu Bah Kacung.

Imigran Tionghoa menganggap, ada kesamaan karakter air di Kediri dengan Tiongkok, daerah asal mereka. Pembuatan tahu harus menyesuaikan dengan jenis air, karena berpengaruh pada hasil akhirnya. Tahu kuning menggunakan kunyit sebagai pewarna yang membuatnya berwarna kuning.

Setelah Lau Soe Hoek meninggal pada 1963, penerusnya melanjutkan usaha tahu Bah Kacung. Tahu itu bisa dibeli di toko keturunannya di Jalan Trunojoyo, yang merupakan area pecinan kota lama Kediri. Meski produsen tahu lain sudah menggunakan alat canggih, tetapi penerus Soe Hoek mempertahankan cara produksi tahu Bah Kacung secara tradisional. Saat ini usaha tahu Bah Kacung dilanjutkan oleh cucunya A. Herman Budiono putra dari Yosef Seger Budi Santoso (Lauw Sing Hian).

Toko Oen (1910)

Oen adalah nama yang cukup legendaris di Indonesia selain Tip Top. Toko Oen pertama kali didirikan pada 1910 di Yogyakarta oleh Nyonya Liem Gien Nio (Oma Oen). Semula bernama Oen Cookies Store, lalu lebih dikenal dengan nama Toko Oen. Toko itu menjual kue kering. Nama Oen diambil dari nama Oen Tjoen Hok (Opa Oen). Toko itu semakin berkembang, tak hanya jual kue kering tetapi juga es krim. Menu restoran Toko Oen bercitarasa Tionghoa, Indonesia dan Belanda.

Toko Oen membuka cabang di Jakarta dan Malang pada 1934. Sejak 1936, Toko Oen cabang Semarang pun beroperasi. Cabang Jakarta tutup tahun 1973 dan gedungnya diambil alih lalu direnovasi jadi Gedung Baru. Sementara Toko Oen cabang Malang tetap ada dengan merek dagang Toko Oen, tetapi tanpa izin dari pemilik nama paten Toko Oen.

Toko Oen cabang Semarang, dianggap pemegang resmi resep-resep keluarga Oen. Tak jelas bagaimana nasib Toko Oen cabang Yogyakarta, sebelum belakangan Toko Oen buka cabang kecilnya di Jogja City Mall. Toko Oen dibuka di Delf (1997) dan Den Haag (2000), Negeri Belanda. Nuansa Hindia Belanda masih dirindukan sebagian orang Belanda.


Roti GO (1898)

Roti Go sudah dikenal masyarakat Indonesia sejak zaman kolonial. Orang-orang Eropa memperkenalkannya kepada orang Indonesia. Makanan ini dulunya dianggap makanan elit. Tak semua orang Indonesia bisa makan roti. Dari sekian banyak roti yang sudah ada sejak zaman kolonial, Roti Go adalah salah satunya.

Tahun 1898 merupakan tahun penting bagi Roti Go. Nyonya Oei Pak Ke Nio dan suaminya, Go Kwe Ka, sedang mencoba-coba membuat roti. Terbersitlah dalam kepala mereka untuk membuat toko roti. Mereka memakai nama depan si suami. Jadilah Roti Go.

Pasangan pendiri toko Roti Go itu adalah kakek dan nenek dari Ibu Rosani Wiogo. Saat Toko Roti Go dibangun, ayah Rosani baru enam bulan umurnya. “Istri saya adalah generasi ketiga pemilik toko ini. Toko ini berdiri 1898, jadi usianya sudah 117 tahun,” terang Pak Pararto, suami dari Ibu Rosani.

Toko beserta dapur Roti Go terletak di jantung kota Purwokerto, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman No. 724. Toko ini tak terlalu mencolok, tetapi terlihat klasik dan bersih. Tata ruangnya juga sederhana, sama seperti toko roti lainnya. Hanya saja sejarah Roti Go lebih panjang.

Pemanggang roti yang digunakannya pun masih tradisional. Belum ada niatan mengganti oven gas. Mereka berusaha mempertahankan aroma aslinya. Adonan mereka saja masih menggunakan tangan. Mereka tak mau mengecewakan para pelanggan setianya. Dulu toko ini punya beberapa pengecer keliling. Kemudian hanya tersisa satu saja.

Pasangan pengelola toko yang sudah uzur itu berpikir keras agar toko roti itu berlanjut sejarahnya. Anak-anak mereka, yang sudah punya usaha lain, belum ada yang bersedia meneruskan usaha mereka. Mereka berencana mewariskannya pada saudara yang lain, agar Roti yang jadi bagian dari sejarah kota Purwokerto ini lestari.

Cap Istana (1882) dan Orang Jual Sate (1889)

Kecap-kecap di Indonesia, awal sejarahnya tak lepas dari orang-orang Tionghoa yang hidup di Indonesia. Pendiri kecap-kecap terkenal adalah orang-orang keturunan Tionghoa. Di daerah Tangerang, terdapat beberapa pabrik kecap tradisional yang sangat tua.

Kecap Cap Istana dianggap paling tua yang masih bertahan. Pabrik kecap ini didirikan oleh Teng Hay Soey pada 1882. Usaha ini kemudian diambil alih oleh Giok Seng. Pabrik itu, kini dijalankan oleh anak cucunya. Kecap ini juga dikenal sebagai Kecap Cap Burung dan diklaim sebagai Kecap Benteng No 1.

Beberapa tahun setelah Teng Hay Soey, muncul pabrik kecap yang didirikan oleh Ong Tjin Boen pada 1888 di Probolinggo, Jawa Timur. Letaknya di sekitar Jalan Jenderal Sudirman. Kecapnya kemudian dikenal sebagai kecap Cap Orang Jual Sate. Kecap ini lebih beredar luas ketimbang Kecap cap Istana.

Kecap-kecap tadi, kalah besar dengan kecap Bango yang baru muncul tahun 1928. Kecap Bango didirikan oleh Tjoa Pit Boen, dan berasal dari daerah Benteng juga. Penerus usaha kecap ini belakangan membuat PT Anugrah Damai Pratama dan PT Anugrah Indah Pelangi. Pabriknya tak lagi di Benteng tapi di Subang. Belakangan, usaha ini dinaungi oleh grup usaha Unilever setelah proses akuisisi.

Warung Tinggi Koffie (1878)

Ada banyak warung kopi di Indonesia, termasuk di Jakarta. Dari sekian banyak warung kopi itu, sepertinya Warung tinggi Koffie cukup tua. Warung tinggi Koffie terletak di jantung kota Batavia yang tak lain adalah ibukota dari tanah koloni Hindia Belanda. Tepatnya di jalan yang dulu bernama Molenvliet, kini Jalan Hayam Wuruk, tak jauh dari Istana Gubernur Jenderal yang kini jadi Istana Presiden. Warung kopi ini diuntungkan karena berada di jalur ramai.

Semula warung kopi ini bernama Tek Soen Hoe, belakangan dikenal sebagai Kopi Warung Tinggi. Warung kopi Tek Soen Hoe didirikan tahun 1878 oleh Liauw Tek Soen dengan istrinya yang perempuan pribumi. Awalnya, mereka mendirikan warung nasi. Namun, hidangan kopi mereka lebih disukai ketimbang menu lain. Konon, pelangan warung kopi ini dulunya adalah orang-orang kaya. Tak hanya pribumi, tapi juga Tionghoa, Arab dan juga Belanda.

Usaha ini diteruskan oleh keturunan mereka. Generasi baru pengelola warung kopi itu menjual aneka ragam kopi seperti: Rajabica, Arabica dan Robusta. Mereka juga pernah mengirim kopi keluar negeri. Saat ini usaha keluarga keturunan Liauw Tek Soen ini terpecah jadi dua, yakni Warung Tinggi dan Bakoel Koffie.

Produk-produk tersebut hanya secuil dari produk-produk yang sudah melegenda di Indonesia. Ada lagi yang usianya hampir seabad seperti jamu Njonja Meneer (1919). Ada juga produk yang sudah berusia lebih dari 50 tahun. Sebut saja Blue Band (1936), permen Davos (1931), Wajik Week (1939), sirup tjap Buah Tjempolay, Ting-Ting Jahe (1935), tahu Yun Yi (1940), the tjap Botol (1940), deterjen B-29 (1930) juga kecap Bango (1928). Uniknya, produk-produk yang sudah berusia lanjut itu kebanyakan dirintis oleh orang-orang Tionghoa.

Produk-produk tadi tentunya berusaha berinovasi untuk terus bertahan di pasaran, diantaranya juga berusaha menjaga rasa dan kualitasnya. Semakin lama produk-produk itu bertahan, tentu akan semakin kuat mereknya. Produk yang punya usia panjang, cenderung lebih dipercaya pasar. Umur produk biasanya mempengaruhi daya tarik konsumen. Ujian panjang sudah dilewati produk-produk itu. Karena pasar adalah seleksi alam.

Tentu saja tak semua produk yang ada di Indonesia bisa punya usia panjang. Membangun merek, mempertahankan rasa, dan menghadapi persaingan bukanlah hal mudah. Sering ditemui produk yang tumbang karena kalah bersaing dengan produk lain. Mereka harus belajar dari yang sudah bertahan lebih dari 100 tahun.


Baca juga artikel terkait KECAP atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti