Menkeu Klaim RI Lebih Baik Meski Masuk 170 Negara Resesi di 2020

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 6 April 2021
Dibaca Normal 1 menit
Meski Indonesia masuk pada 170 negara yang mengalami kontraksi ekonomi, Sri Mulyani tetap menilai pertumbuhan ekonomi RI lebih beruntung.
tirto.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan pandemi COVID-19 telah memberi pukulan cukup berat bagi perekonomian berbagai negara. Ia bilang ratusan negara mengalami kontraksi ekonomi akibat pandemi dan menjadi capaian terburuk ekonomi dunia dalam sejarah.

“170 negara mengalami kontraksi ekonomi tahun 2020 dan ini kondisi terburuk dalam 150 tahun terakhir. Itu studi Bank Dunia,” ucap Sri Mulyani dalam webinar Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Indonesia, Selasa (6/4/2021).

Meski Indonesia masuk ke dalam 170 negara tersebut, Sri Mulyani tetap membanggakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020. Menurut Sri Mulyani pertumbuhan ekonomi Indonesia memang pada kuartal II (Q2) 2020 mengalami kontraksi 5,3 persen atau menjadi yang terburuk sejak krisis 1997-1998.

Beruntung kata mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini, pertumbuhan ekonomi RI tahun 2020 masih terangkat di kisaran kontraksi 2,07 persen.

Capaian itu menurut Sri Mulyani jauh lebih baik dibanding sederet negara lainnya yang mengalami kontraksi lebih dalam. Ia membandingkan kondisi Indonesia lebih baik dari negara G20 lainnay seperti Perancis yang kontraksi 9 persen, India kontraksi 8 persen, Italia kontraksi 9,2 persen Meksiko kontraksi 8,5 persen, Inggris kontraksi 10 persen, Brasil kontraksi 4,5 persen dan Kanada kontraksi 5,5 persen.

Di lingkup ASEAN, pertumbuhan ekonomi RI kebetulan kalah dibanding Vietnam yang masih mencatatkan pertumbuhan positif di 2020. Meski demikian, Sri Mulyani bilang kondisi Indonesia masih lebih baik dari Singapura kontraksi 6 persen, Filipina kontraksi 9,6 persen, dan Malaysia kontraksi 5,8 persen.

Dalam kelompok negara organisasi kerjasama Islam atau Organisation of Islamic Cooperation (OIC), Indonesia juga masih cukup mujur meski kalah dari Iran yang hanya terkontraksi 1,5 persen.

Ia mencontohkan Mesir terkontraksi 3,6 persen, Irak kontraksi 12 persen, Kuwait kontraksi 8 persen, Nigeria kontraksi 3,2 persen, Saudi Arabia kontraksi 3,9 persen, dan UEA kontraksi 6,6 persen.

“Poin saya situasi ini tidak memandang bulu dan berdampak konsekuensi luar biasa. Tentu dengan adanya kontraksi ekonomi ada konsekuensi kenaikan pengangguran dan berdampak kesejahteraan masyarakat,” ucap Sri Mulyani.


Baca juga artikel terkait PERTUMBUHAN EKONOMI atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Bayu Septianto
DarkLight