STOP PRESS! BMKG Cabut Peringatan Dini Tsunami Pukul 02.30 WIB

Menjadi Rasis karena Menghargai Budaya Lain

Menjadi Rasis karena Menghargai Budaya Lain
Katy Perry dalam videoklip
Reporter: Aulia Adam
19 Juni, 2017 dibaca normal 3 menit
Yang tak banyak orang pahami, menghargai atau merayakan budaya orang lain bisa jadi adalah bagian dari rasialisme. Apalagi kalau Anda adalah mayoritas.
tirto.id - Wajah cantik Katy Perry sedang sering wara-wiri. Ia memasang banyak sekali iklan dalam rangka mempromosikan album terbarunya “Witness”. Katy dan manajemen tampaknya sadar kekuatan internet. Di Youtube, sejak 10 sampai 13 Juni kemarin, ia mengunggah lebih dari 34 video yang isinya macam-macam. Mulai dari video menyanyikan lagu-lagu baru dari albumnya  secara langsung, demo masak bersama Gordon Ramsay, hingga videonya menangis dalam sebuah sesi psikoterapi. Di Instagram, iklan Spotify-nya juga keluar lebih sering dalam seminggu terakhir.

Video-video itu adalah potongan live-streaming-nya selama empat hari, sebagai bagian dari promosi  Witness, ia ingin orang-orang memperhatikan. Topik-topik yang dibahas memang kontroversial sehingga menarik perhatian. Salah satunya adalah isi pembicaraan Katy dengan aktivis DeRay McKesson. Mereka membahas isu cultural appropriation, yang sering menghampiri Katy. Di sana, Katy meminta maaf dan mengaku sudah lebih paham tentang isu tersebut, dan menyebut dirinya selama ini tak sengaja melakukannya.

“Aku tak tahu kalau yang kulakukan salah… sampai, aku dengar sendiri kalau orang-orang memberitahuku kalau aku salah. Dan kadang, kau tahulah, kita butuh seseorang dengan penuh kasih dan sayang (untuk menjelaskannya),” ungkap Katy.

Cultural appropriation atau perampasan kebudayaan adalah istilah yang digunakan ketika seseorang mengadopsi atau menggunakan kebudayaan orang lain yang bukan dari etnis atau rasnya—tanpa permisi. Susan Scafidi dari Fordham University, mendefinisikan perampasan kebudayaan sebagai, “Mengambil kekayaan intelektual, pengetahuan tradisional, ekspresi budaya, atau artefak dari budaya orang lain tanpa izin. Ini bisa termasuk penggunaan yang tidak sah dari tarian budaya lain, pakaian, musik, bahasa, cerita rakyat, masakan, obat tradisional, simbol agama, dan lain-lain.

“Kemungkinan besar berbahaya ketika komunitas sumber adalah kelompok minoritas yang telah ditindas atau dieksploitasi dengan cara tertentu, atau ketika objek peruntukan sangat sensitif, misalnya benda suci,” jelas Susan.

Dalam kasus Katy Perry, perampasan budaya itu dilakukannya melalui sejumlah penampilan di beberapa video musik dan aksi panggung. Misalnya dalam video This Is How We Do It, Katy mengepang rambutnya dengan kepang khas orang Afrika. Kemudian memakai kostum ala Cleopatra dalam video musik Dark Horse. Kasus lain yang juga heboh adalah ketika ia menirukan pakaian Geisha dari budaya Jepang saat menyanyikan Unconditionally pada tahun 2013 lalu di panggung American Music Awards.

Katy sendiri mengaku, mengutip budaya-budaya itu kemudian menginterpretasikan mereka dalam karyanya adalah bagian dari merayakan keberagaman. Ia ingin mengapresiasi kebudayaan-kebudayaan tersebut melalui kreativitasnya. Lalu, mengapa mengapresiasi kebudayaan orang lain malah dianggap merampas?

Nadra Kareem Nittle, penulis yang fokus pada isu ini dari Thought.co, menganggap ada banyak faktor yang tak dilihat kelompok mayoritas dari ulahnya “mengapresiasi” kebudayaan kelompok lain. Salah satunya adalah sifat eksploitasi yang tersirat dalam hal tersebut. Menurut Nittle, ketika seseorang dari kelompok mayoritas menggunakan kebudayaan kelompok minoritas, mereka akan dianggap kreatif. Padahal yang harus mendapatkan kredit dari hal itu adalah kelompok minoritas itu sendiri.

Belum lagi, kelompok mayoritas biasanya tidak mengetahui arti budaya yang ia pinjam dengan penuh detail. Sehingga tak jarang terjadi, perayaan atau pengapresiasian yang dilakukan kelompok mayoritas justru berujung pada perpanjangan stereotip-stereotip negatif pada kelompok minoritas.

Contoh sederhananya adalah aksi Geisha yang dipertontonkan Katy empat tahun silam. Jeff Yang dari The Wall Street Journal tegas menekankan bahwa yang dilakukan Katy sama sekali bukan meninggikan budaya orang Asia, khususnya Jepang. Baginya, pakaian Katy dan isi lagu Unconditionally (yang menceritakan tentang perempuan yang mencintai kekasihnya tanpa syarat) sama sekali tak cocok.

“Masalahnya, ketika seember toner bisa melepaskan riasan Geisha dari wajah Perry, di saat bersamaan, tidak ada yang bisa menghilangkan ikonografi bunga teratai dan persepsi bahaya orang Barat terhadap wanita Asia—sebuah stereotip yang menyajikan mereka sebagai hamba sahaya dan (orang-orang) pasif,” tulis Yang.

Menurut Yang, yang dilakukan Katy Perry justru merayakan ketidakberdayaan wanita-wanita Jepang, yang dalam sejarahnya memang disiksa sedemikian rupa cuma untuk menjadi pelampiasan kebahagiaan para pria.

Tentu, untuk seseorang yang sering meneriakkan “Girl Power”, Katy terlihat sekali kurang paham dengan slogan itu.

Contoh kasus lain adalah ketika pagelaran lenggak-lenggok tahunan Victoria’s Secret, sebuah jenama pakaian dalam yang mendunia, mengadopsi budaya orang Indian pada penampilan model-modelnya.

Jennifer Weston, Manajer Endangered Languages Program dari Cultural Survival, adalah salah satu yang paling tersinggung. Kepada Jezebel.com ia bilang, sudah saatnya harus menuntut penghormatan terhadap kegiatan keagamaan kita, “ketika melihat anak-anak mulai terpengaruh pada perempuan cantik di atas panggung peragaan yang berjalan setengah telanjang dan memakai budaya dan keyakinan orang lain yang sama sekali tidak diketahuinya sedikit pun.

“Itu adalah seksualisasi, meng-komoditas-kan, dan menyesatkan budaya kami dengan cara yang jelas keliru. Ia juga memberikan (keleluasaan) pada anak-anak dari berbagai kebudayaan dan latar belakang untuk menganggap biasa ‘berdandan’ menjadi Indian, tanpa harus paham makna kegiatan ibadah kami, atau sejarah kekerasan yang dihadapi para buyut kami selama beribu-ribu tahun. Agama kami baru legal 1978! Buyut dan orang tua kami harus menyelamatkan diri dulu dari genosida.

“Jadi, berpura-pura bahwa kami adalah karakter fiksi alih-alih orang asli dengan budaya asli, bukan hanya ofensif, dan rasis, itu adalah tindakan kejam untuk menenggelamkan realitas kebudayaan kami sebagai Indian.”

Menjadi Rasis karena Menghargai Budaya Lain



Hal sama juga jadi alasan mengapa orang Amerika Serikat kini tabu untuk menyebut nigga atau negro, terutama orang kulit putih yang adalah mayoritas. Kata itu dinilai sangat ofensif dan punya makna buruk ketika diucapkan bangsa Aryan, yang dalam sejarahnya pernah memperlakukan ras lain, terutama kulit hitam Amerika sebagai masyarakat kelas rendah, kalau tak boleh dibilang budak.

Bagaimanapun seorang Aryan dan mayoritas mendidik dirinya tentang budaya orang atau etnis lain, ia sama sekali tak bisa memahami perjuangan kelompok minoritas itu untuk bisa hidup setara. Hal ini yang kemudian dipahami Katy Perry.

“Dia (salah seorang teman Katy) memberitahuku tentang kekuatan dari rambut perempuan kulit hitam, dan betapa cantiknya itu, dan perjuangan (di baliknya). Aku mendengarkan, aku dengar, tapi aku tak tahu. Dan aku tak akan pernah bisa memahaminya, karena aku terlahir begini (sebagai ras Aryan). Tapi aku bisa mendidik diriku sendiri, dan itulah yang selama ini sedang kulakukan,” kata Katy.

Baca juga artikel terkait RASISME atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - aad/nqm)

Keyword