Menuju konten utama

Mengenang Didi Kempot: Sebagai Kultur dan Aset Budaya

Didi Kempot meninggal dunia hari ini, Selasa 5 Mei 2020 di usia ke-53.

Mengenang Didi Kempot: Sebagai Kultur dan Aset Budaya
Didi Kempot di video klip "Ojo Mudik" (YouTube/Didi Kempot Official Channel)

tirto.id - “Di Jawa, Didi Kempot adalah kultur, aset budaya, di mana kalian mendengarkan Punkrock lalu ketika patah hati balik bersenandung Cidro.

Ungkapan itu ditulis Gofar Hilman dalam deskripsi video berjudul “#NGOBAM Didi Kempot – NGOBAM Offair Pertama” yang diunggah pada 21 Juli tahun lalu.

Gofar sendiri merupakan seorang influencer yang sering membikin acara ngobrol bareng musisi atau “Ngobam” di channel Youtube-nya. Ia memiliki jumlah 824 ribu subscriber, dan video Ngobamnya bersama Didi Kempot hingga hari ini telah ditonton lebih dari 5 juta kali.

Malam itu menjadi titik balik dari karier sang maestro campur sari. Acara yang ditutup dengan dendangan beberapa lagu galaunya, berhasil menghanyutkan 1.500 orang yang menamakan diri mereka “Sobat Ambyar”.

Dalam video itu, terlihat anak muda mengenakan kaos Slayer (salah satu band Metal) ikut bernyanyi dalam balutan kesedihan. Ada juga yang berjoget mengikuti irama musik, hingga menangis ketika Didi menyanyikan lagu “Kalung Emas”, yang akhirnya menjadi viral di media sosial.

Sejak saat itu, pembicaraan akan penyanyi yang dijuluki sebagai “The Godfather of Broken Heart” tersebut seolah tak berhenti di media sosial.

Warganet beramai-ramai membagikan petikan lirik lagu ciptaan Didi Kempot yang mampu menggambarkan kesedihan mereka. Ada yang berupaya tetap optimistis, ada pula yang pasrah. Yang pasti: air mata membasahi jiwa mereka.

Kisah Hidup Sang Maestro

Sebelum dielu-elukan sebagai The Godfather of Broken Heart, Didi Kempot merintis karier dari musisi jalanan. Bahkan, nama Kempot adalah akronim dari "Kelompok Penyanyi Trotoar".

Ia lahir dari keluarga seniman di Surakarta, pada 31 Desember 1966. Tak heran kalau Didi terjun ke dunia seni, orang-orang terdekatnya juga berkecimpung di dunia yang sama.

Ayahnya, Ranto Edi Gudel adalah pemain ketoprak di Jawa Tengah. Ibunya, Umiyati Siti Nurjanah merupakan penyanyi tradisional di Ngawi. Sementara kakaknya, Mamiek Prakoso, pelawak yang tenar lewat grup Srimulat.

Pada pertengahan 1980-an, Didi Kempot memutuskan terjun ke dunia musik. Ia mengawali langkahnya di jalanan, dari Yogyakarta sampai Jakarta, sebagai seorang pengamen. Namanya yang semula Didi Prasetyo pun berubah jadi “Didi Kempot”.

Seiring waktu, Didi Kempot ingin menyeriusi karier bermusiknya. Ia lantas memilih campursari. Alasannya, Didi Kempot prihatin dengan sedikitnya anak-anak muda yang tertarik akan musik ini.

Debutnya di kancah campursari ditandai dengan rilisnya nomor “We Cen Yu” pada akhir 1980-an. Sementara kesuksesan besarnya lahir ketika balada “Stasiun Balapan” dirilis.

Lagu lain yang mengantarkan namanya menjadi semakin dikenal adalah "Cidro" dari album pertamanya dulu kurang terkenal di Indonesia, tapi justru menjadi pintu yang menghubungkan Didi dengan penggemar di mancanegara, khususnya Suriname dan Belanda.

Lagu tersebut dibawa oleh seorang turis Suriname di Indonesia yang berdomisili di Belanda. Setelah diputar di radio Amsterdam, lagu tersebut meledak dan digemari di sana.

“Saya keluar negeri itu pada 1993. Itu ke Suriname dan Belanda. Nah sekarang kalau saya datang ke Suriname, pasti selalu disambut oleh menteri yang ada di sana dan ditonton presiden. Wis koyo pejabat lah (sudah kayak pejabat lah),” ujarnya kepada Gofar.

Perlahan, Didi Kempot semakin populer di kancah campursari. Total, Didi Kempot telah membikin puluhan album dan ratusan lagu. Saking banyaknya, ia sendiri kadang lupa pernah menulisnya.

Penghargaan dan Konser Amal

Februari lalu, Didi Kempot mendapatkan Lifetime Achievement di ajang Billboard Indonesia Music Awards 2020. Setelah tiga dekade bermusik dan menulis ratusan lagu berbahasa Jawa, dua tahun belakangan karya Didi Kempot semakin digemari oleh anak-anak muda.

Ia pun didapuk oleh berbagai pihak untuk menjadi duta seni hingga duta e-commerce. Sebelum pembatasan sosial akibat pandemi virus corona (COVID-19), Didi Kempot sempat menggelar konser "Tresno Ambyar" awal tahun ini.

Didi Kempot pun ikut andil dalam konser amal dari rumah untuk membantu orang yang terkena dampak COVID-19 pada April 2020. Maret lalu, dia pun meramaikan konser #dirumahaja untuk menghibur orang-orang yang berdiam diri di rumah selama pandemi sekaligus menggalang donasi.

Hari ini, sang imam besar kaum patah hati itu menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 53 tahun di Rumah Sakit Kasih Ibu Solo, Jawa Tengah.

Seperti dilansir Antara, kabar meninggalnya pelantun "Pamer Bojo" itu diketahui pertama kali dari pesan yang beredar. Dikabarkan Didi kempot meninggal dunia pada pukul 07.45 WIB.

Para Sad Boys dan Sad Girls, sebutan untuk penggemarnya, betul-betul merasa patah hati. Tagar #SobatAmbyarBerduka menjadi trending di linimasa Twitter, sebagai manifestasi dari rasa kehilangan yang mendalam dari dewa ambyar mereka.

Seperti kata Gofar, Didi Kempot telah menjelma sebagai “kultur dan aset budaya”. Namun, bukan hanya di Jawa, tapi di seluruh barisan orang-orang yang patah hati, di mana pun itu, karyanya terus abadi. Selamat jalan sang maestro!

Baca juga artikel terkait DIDI KEMPOT atau tulisan lainnya dari Ahmad Efendi

tirto.id - Musik
Kontributor: Ahmad Efendi
Penulis: Ahmad Efendi
Editor: Alexander Haryanto