Mengenal Penyakit Hepatitis B dan Cara Mengobatinya

Oleh: Balqis Fallahnda - 29 Juli 2019
Dibaca Normal 2 menit
Apa itu Hepatitis B atau penyakit peradangan hati dan bagaimana cara mengobatinya?
tirto.id - Hepatitis B menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Menurut data dari WHO, pada 2015 hepatitis B mengakibatkan sekitar 887.000 kematian, dan sebagian besar karena sirosis dan karsinoma hepatoseluler, misalnya kanker hati primer.

Menurut Kementerian Kesehatan, di Indonesia, berdasarkan Sistem Informasi Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan (SIHEPI) 2018-2019 jumlah ibu hamil yang diperiksa hepatitis B sebanyak 1. 643.204 di 34 provinsi.

Hasilnya, sebanyak 30.965 ibu hamil reaktif (terinfeksi virus hepatitis B), dan 15.747 bayi baru lahir dari ibu rekatif hepatitis B telah diberikan Imunoglobulin Hepatitis B (HBIg).

Tahun 2019 hingga Juni, ibu hamil yang telah diperiksa sebanyak 490.588 orang dengan 9.509 reaktif HBsAg.

Dari pemeriksaan itu diketahui 4.559 bayi telah diberi HBIg kurang dari 24 jam serta imunisasi rutin dan telah terlindung penularan virus hepatitis B dari ibunya.

Pencegahan penularan hepatitis B dari ibu ke bayi dilakukan dengan vaksinasi HB0 setelah bayi lahir kurang dari 24 jam.

Peradangan hati atau hepatitis disebabkan oleh virus hepatitis, perlemakan, parasite (malaria, ameba), alkohol, obat-obatan, dan virus lain (dengue, herpes).

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes mengatakan cara penularannya untuk hepatitis A dan hepatitis E melalui kotoran atau mulut, sementara hepatitis B, C, dan D melalui kontak cairan tubuh (ibu ke anak, anak ke anak atau dari dewasa ke anak, transfusi darah dan organ yang tidak di-skrining, penggunaan jarum yang tidak aman, hubungan seksual, serta kontak dengan darah).

''Cara penularan hepatitis A melalui kotoran, kalau ada orang membuang tinja sembarang, kemudian tidak cuci tangan pakai sabun dan menyentuh makanan dia bisa terinfeksi hepatitis akut, dia bisa menjadi carier sampai selesai masa inkubasi sekitar 50 hari,'' katanya di gedung Kemenkes, Jakarta, Senin (22/7), sebagaimana melansir laman resmi Kemenkes.

Hati dapat meradang karena berbagai alasan, seperti terlalu banyak minum alkohol, cedera fisik, respons autoimun, atau reaksi terhadap bakteri dan virus.

Beberapa virus Hepatitis dapat menyebabkan fibrosis, sirosis, gagal hati, atau bahkan kanker hati.

Gejala Hepatitis B

Hepatitis B Foundation menuliskan, hepatitis B dimulai sebagai infeksi jangka pendek, tetapi dalam beberapa kasus, Hepatitis B dapat berkembang menjadi infeksi kronis atau seumur hidup.

Hepatitis B kronis adalah penyebab utama kanker hati di dunia dan dapat menyebabkan penyakit hati yang serius seperti sirosis atau kanker hati.

Sebagian besar orang dewasa yang terinfeksi Hepatitis B mengembangkan infeksi akut dan akan pulih sepenuhnya dalam waktu sekitar enam bulan.

Namun, sekitar 90 persen bayi baru lahir yang terinfeksi dan hingga 50 persen anak kecil akan mengalami infeksi seumur hidup. Ini karena Hepatitis B dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi ke bayinya karena paparan darahnya.

Banyak ibu yang terinfeksi tidak tahu bahwa mereka terinfeksi dan karena itu tidak dapat bekerja dengan dokter mereka untuk mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk mencegah penularan.

Sangat penting bagi semua wanita hamil untuk dites hepatitis B - jika mereka terinfeksi, penularan ke bayi mereka dapat dicegah.

Pengobatan Hepatitis B

Tidak ada pengobatan khusus untuk hepatitis B akut. Oleh karena itu, penderita perlu menjaga kenyamanan dan keseimbangan gizi yang memadai, termasuk penggantian cairan yang hilang akibat muntah dan diare.

Yang paling penting adalah menghindari obat-obatan yang tidak perlu. Acetaminophen / Paracetamol dan obat anti muntah tidak boleh diberikan.

Infeksi hepatitis B kronis dapat diobati dengan obat-obatan, termasuk agen antivirus oral.

Pengobatan dapat memperlambat perkembangan sirosis, mengurangi kejadian kanker hati dan meningkatkan kelangsungan hidup jangka panjang.

Hanya sebagian (perkiraan bervariasi dari 10% hingga 40% tergantung pada pengaturan dan kriteria kelayakan) dari orang dengan infeksi hepatitis B kronis yang akan memerlukan pengobatan.

WHO merekomendasikan penggunaan perawatan oral - tenofovir atau entecavir- sebagai obat yang paling manjur untuk menekan virus hepatitis B.

Mereka jarang menyebabkan resistensi obat dibandingkan dengan obat lain, mudah dikonsumsi (1 pil sehari), dan memiliki sedikit efek samping, sehingga hanya memerlukan pemantauan terbatas.

Entecavir tidak paten. Pada 2017, semua negara berpenghasilan rendah dan menengah dapat secara legal mendapatkan entecavir generik, tetapi biaya dan ketersediaannya sangat bervariasi.

Tenofovir tidak lagi dilindungi oleh paten di mana pun di dunia. Harga rata-rata tenofovir generik yang dipra-kualifikasi WHO di pasar internasional turun dari US $ 208 per tahun menjadi US $ 32 per tahun pada 2016.

Namun pada kebanyakan orang, pengobatannya tidak menyembuhkan infeksi hepatitis B, tetapi hanya menekan replikasi virus.

Karena itu, kebanyakan orang yang memulai pengobatan hepatitis B harus meneruskannya seumur hidup.

Masih ada akses terbatas untuk diagnosis dan pengobatan hepatitis B di banyak rangkaian terbatas sumber daya.

Pada tahun 2016, dari 257 juta orang yang hidup dengan infeksi HBV, 10,5% (27 juta) menyadari infeksi mereka.

Dari mereka yang didiagnosis, cakupan pengobatan global adalah 16,7% (4,5 juta). Banyak orang didiagnosis hanya ketika mereka sudah memiliki penyakit hati lanjut.

Di antara komplikasi jangka panjang infeksi HBV, sirosis dan karsinoma hepatoseluler menyebabkan beban penyakit yang besar.

Kanker hati berkembang pesat, dan karena pilihan pengobatan terbatas, hasilnya umumnya buruk. Dalam pengaturan berpenghasilan rendah, kebanyakan orang dengan kanker hati meninggal dalam beberapa bulan setelah diagnosis.

Di negara-negara berpenghasilan tinggi, operasi dan kemoterapi dapat memperpanjang usia hingga beberapa tahun.

Transplantasi hati kadang-kadang digunakan pada orang dengan sirosis di negara-negara berpenghasilan tinggi, dengan berbagai keberhasilan.



Baca juga artikel terkait HEPATITIS atau tulisan menarik lainnya Balqis Fallahnda
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Balqis Fallahnda
Penulis: Balqis Fallahnda
Editor: Yandri Daniel Damaledo
DarkLight