Mengenal Ikhlas dalam Islam dan Apa Saja Tingkatannya?

Kontributor: Ilham Choirul Anwar - 7 Jan 2021 15:30 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Mengenal pengertian ikhlas dalam agama Islam dan apa saja tingkatannya.
tirto.id - Ikhlas menjadi salah satu syarat penting dalam beramal dan beribadah sehingga seorang muslim harus senantiasa menjaganya.

Dalam Islam, syarat diterimanya amalan ibadah adalah ikhlas dan mengikuti sunnah atau tuntunan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.

Tanpa salah satunya, amalan menjadi tidak sempurna. Ikhlas menunjukkan jika amalan dilakukan semata-mata hanya untuk Allah subhanahu wa ta'ala.

Sementara itu, mengikuti tuntunan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam dalam ibadah adalah keharusan.

Ibadah tidak bisa diada-adakan sendiri. Pasalnya, terkait ibadah, kaidah usul fikih mengatakan hukum asal ibadah adalah terlarang. Suatu ibadah tidak disyariatkan, kecuali ibadah yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Terkait dengan ikhlas, menurut Ibnu Faris dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah, bermakna mengosongkan sesuatu dan membersihkannya. Menurut Hamka, arti ikhlas adalah bersih dan tidak ada ikut campur sesuatu apa pun.

Sementara menurut Abu Thalib Al Makki, seperti dikutip dari laman NU, ikhlas mengandung pemurnian agama dari hawa nafsu dan perilaku menyimpang, pemurnian amal dari bermacam-macam penyakit dan noda yang tersembunyi, pemurnian ucapan dari kata-kata yang tidak berguna, dan pemurnian budi pekerti dengan mengikuti apa yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Prof. Dr. M. Quraish Shihab menganalogikan ikhlas dengan sebuah gelas yang dipenuhi dengan air bening. Di situ, air tampak murni jernih tanpa bercampur dengan zat lain apa pun.

Begitu pula saat seseorang ikhlas, dia melakukan amalan hanya untuk mencari ridho Allah dan tanpa motivasi apa pun selain itu.

Tingkatan ikhlas


Syekh Muhammad Nawawi Banten dalam kitabnya Nashâihul ‘Ibâd telah membagi ikhlas ke dalam tiga tingkatan. Dikutip dari laman NU, tingkatan ikhlas itu adalah:

1. Tingkat ikhlas yang tertinggi, yaitu saat seseorang mampu membersihkan perbuatan atau amalaanya dari perhatian manusia lain.

Dia beramal seakan tidak ada yang diinginkan dari ibadahnya selain menjalankan perintah Allah dan melakukan hak penghambaan.

Dia melakukan itu semua tidak didasari mencari perhatian manusia baik berwujud kecintaan, pujian, harta dan sebagainya.

2. Tingkatan kedua atau pertengahan, yaitu orang yang melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian-bagian di kehidupan akhiratnya.

Contohnya adalah meminta dijauhkan dari siksa api neraka dan termasuk sebagai penghuni di dalam surga dengan menikmati berbagai macam kelezatannya. Ada pamrih, namun pamrihnya untuk kehidupan setelah kematian.

3. Tingkatan ketiga, yaitu orang yang melakukan perbuatan atau amalan karena Allah agar diberi bagian duniawi. Misalnya orang beribadah untuk mencari kelapangan rizki dan terhindar dari hal-hal yang menyakitkan.

Untuk menjadi ikhlas dalam melaksanakan berbagai amalan atau ibadah adalah hal yang gampang-gampang sulit.

Pasalnya, setan akan selalu menggoda hati manusia untuk memunculkan sifat riya' atau pamer dengan amalan. Dengan begitu, seseorang menjadi bersemangat saat amalannya dilihat yang orang lain.

Sebaliknya, setan juga menggoda agar seseorang menangguhkan diri untuk beramal dengan membisikkan ketakutan terhadap riya' saat beramal.

Ketika godaan itu berhasil, orang justru meninggalkan amalan shalih gara-gara takut dikatakan riya'. Sebaiknya, amalan atau ibadah tetap dilaksanakan dan berusaha menjaga hati untuk tetap ikhlas sekuat tenaga.


Baca juga artikel terkait IKHLAS atau tulisan menarik lainnya Ilham Choirul Anwar
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Ilham Choirul Anwar
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Dhita Koesno

DarkLight