Mengapa Reuni 212 Kian Lembek?

Oleh: Mohammad Bernie - 2 Desember 2018
Dibaca Normal 1 menit
Tanpa kampanyekan Prabowo-Sandiaga, Reuni Akbar Alumni 212 dianggap bertujuan merangkul kalangan yang belum menentukan pilihan politik.
tirto.id - Reuni Akbar Alumni 212 dijanjikan tak mengandung unsur politik praktis. Koordinator Reuni 212 Yusuf Muhammad Martak rela bersumpah untuk penuhi janji itu.

"Supaya rakyat percaya ini hanya gerakan moral 100 persen, tidak ada hal-hal lain. Mau enggak bapak disumpah, Pak?" tanya Anggota Tim Kampanye Nasinal (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Razman Arif Nasution dalam sebuah acara diskusi di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (1/12/2018).

"Demi Allah, Wallahi saya bersedia, tidak punya agenda politik sama sekali di dalam pengadaan acara ini," balas Martak.


Reuni Akbar Alumni 212 itu memang dibentuk dan digerakkan, beberapa orang yang menjabat sebagai tim sukses Prabowo-Sandiaga dalam Pilpres 2019. Meski begitu Martak menjamin tak ada agenda mengkampanyekan calon presiden yang dia dukung itu.

Infografik CI dukungan untuk reuni 212


"Di dalam acara itu [Reuni 212] lebih dari 99 persen adalah keterkaitan dengan ritual. Baca doa, zikir, maulid, dan agenda utamanya adalah maulid akbar," kata Martak.

Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif menegaskan, harus ada batas antara Reuni Akbar Alumni 212 dengan pilihan politik masing-masing orang yang terlibat dalam acara itu.

"Kami ingin memperlihatkan kalau besok itu acara umat, acara keagamaan, acara kebangsaan, acara kemanusiaan yang kami buat aturan mainnya agar tidak menyangkut pada urusan politik praktis," kata Slamet di Menteng.

Gerakan 212 Kian Melunak

Peneliti Politik Islam dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wasisto Raharjo Jati menganggap, gerakan 212 semakin melunak. Sebabnya tidak ada lagi yang bisa mereka anggap musuh bersama, usai mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dipenjara.

"Sekarang itu apa minat dan kepentingannya untuk diadakan? Seolah ini aksi seremonial yang tidak ada aspirasi yang mau diperjuangkan," kata Wasisto kepada reporter Tirto, Sabtu (1/12/2018).


Selain itu, Wasisto berujar, memudarnya kekuatan gerakan 212 karena beberapa tokoh merapat ke kubu Jokowi-Ma’ruf.

Peneliti Politik dari UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno mengatakan, wajar jika Reuni 212 hanya akan dipenuhi acara keagamaan. Menurutnya strategi itu bertujuan untuk menarik kalangan yang belum menentukan pilihan di Pilpres 2019 mendatang.

"Kalau gerakan ini diklaim sebagai gerakan pendukung paslon nomor 02, tentu gerakan ini enggak akan besar, hanya akan dihadiri orang-orang dan tokoh-tokoh yang ingin ganti presiden," Prayitno kepada reporter Tirto, Sabtu (1/12/2018).

Baca juga artikel terkait REUNI 212 atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie
(tirto.id - Politik)

Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Dieqy Hasbi Widhana