Mengapa Orang Senang Dapat Likes dan Komentar di Media Sosial?

Infografik saya suka postingan anda
Penanda di Facebook World Menlo Park, Silicon Valey, California, AS (5/15/2014). Getty Images/iStock Editorial
Oleh: Aditya Widya Putri - 7 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Rasa senang mendapat banyak likes atau komentar diyakini berkaitan dengan hormon yang memicu rasa senang.
tirto.id - “Gunakan saya sebagai tombol dislike”

“Komen RIP di postingan terakhir gue dong, biar dikira udah meninggal”

“#savegempi”

Pada kolom komentar akun-akun media sosial ternama, Anda akan menemukan komentar serupa di atas. Para pemilik akun itu berlomba-lomba membikin komentar yang mendatangkan likes dan balasan komentar dari warganet lain. Tujuannya, agar komentar mereka populer dan masuk jajaran top comment atau mendapatkan komentar terbanyak.

Mengapa pengguna media sosial berlomba-lomba untuk mendapatkan top comment di berbagai platform media sosial?



Penelitian Anthony L. Burrow dan Nicolette Rainone yang berjudul How many likes did I get? : Purpose moderates links between positive social media feedback and self-esteem (2017), bisa merepresentasikan jawaban dari pertanyaan tersebut. Penelitian dilakukan dengan dua percobaan terhadap 342 orang responden. Pertama, terhadap jumlah likes yang mereka terima di foto profil Facebook. Kedua, manipulasi likes terhadap foto profil Facebook tiruan.

“Jumlah likes di Facebook berkorelasi positif dengan rasa bangga terhadap diri sendiri,” tulis kesimpulan riset tersebut.

Psychological Science dalam ulasannya yang mengacu pada studi The Power of the Like in Adolescence: Effects of Peer Influence on Neural and Behavioral Responses to Social Media (2016), mengibaratkan kondisi mencari likes atau komentar setara dengan aktivitas memakan cokelat atau dapat uang.

Saat orang mendapatkan likes pada media sosial dapat memunculkan hormon dopamin dan membikin ketagihan. Dopamin adalah hormon yang bertanggung jawab terhadap rasa gembira, jatuh cinta, dan percaya diri.

Sistem dopamin yang kuat mempengaruhi perilaku individu menjadi lebih bersemangat. Pada pembuluh darah, hormon ini bertugas menjadi vasodilator (melebarkan pembuluh darah) sehingga melancarkan peredaran oksigen dalam darah. Ia juga melancarkan pengeluaran natrium pada sistem pembuangan air kecil dan mempengaruhi fungsi sistem pencernaan serta imunitas tubuh.

“Nucleus accumbens, saraf aktif di otak yang terlibat dalam proses penghargaan, kognisi sosial, dan perhatian akan aktif ketika melihat foto di media sosial mendapat banyak likes,” kata Lauren E. Sherman, dkk dalam studi tersebut.




Remaja, adalah kelompok yang diyakini mengambil peran besar dalam aktivitas di media sosial. Riset yang dilakukan Pew Research Center (2015) menyatakan bahwa media sosial dianggap lebih penting oleh remaja (13-17 tahun) ketimbang orang dewasa di Amerika. Ada sebanyak 92 persen remaja mengaku online setiap hari, dan 24 persen menyatakan selalu online.

Kondisi ini tercipta lantaran akses gawai semakin mudah diperoleh para remaja. Hanya sekitar 12 persen dari remaja sampel yang mengaku tidak memiliki telepon pintar. Kemudahan akses tersebut membuat mereka rajin berinteraksi dengan dunia maya. Sebanyak 71 persen remaja mengaku menggunakan lebih dari satu situs jejaring sosial. Platform media sosial yang sering digunakan adalah Facebook (41 persen), Instagram (20 persen), dan Snapchat (11 persen).

Interaksi dengan media sosial, kata peneliti Pew Research Center, dilakukan para remaja karena kelompok ini masih mencari identitas dan tujuan hidup. Jika dikaitkan dengan penelitian lain sebelumnya, maka bisa jadi, para remaja ini berlomba mencari banyak likes untuk meningkatkan rasa bangga, dan penghargaan pada dirinya.



Interaksi dan pencarian jati diri di media sosial oleh para remaja juga tercermin dalam penelitian Sherman. Ia menyimpulkan bahwa remaja cenderung lebih mudah memberikan likes ketika melihat foto yang sudah memiliki likes banyak ketimbang dengan foto yang hanya memiliki likes sedikit, padahal jumlah likes pada foto telah diatur peneliti.

Media sosial yang digunakan peneliti mirip dengan Instagram. Artinya, ada kemungkinan para remaja itu mengekor memberikan likes karena menganggap unggahan tersebut menarik atau populer. Padahal, bisa saja likes yang sebelumnya didapat, berasal dari BOT, robot web, yakni program komputer yang dirancang berperilaku seperti akun asli milik manusia. BOT membuat jumlah likes dan pengikut sebuah akun membludak, membuat seolah-olah mereka tampak lebih populer.

Apakah Anda termasuk yang senang mencari likes atau komentar di media sosial?

Baca juga artikel terkait MEDIA SOSIAL atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Suhendra
DarkLight