Mengapa Milenial Kepincut Pekerjaan Freelance?

Oleh: Patresia Kirnandita - 23 April 2017
Dibaca Normal 4 menit
Berbeda dari generasi terdahulu, sebagian milenial menampakkan kecenderungan memilih menjadi freelancer dan mengabaikan tradisi bekerja pukul 9-5 di perkantoran. Faktor apa saja yang membuat mereka tertarik menyandang titel ini?
tirto.id - Sudah bukan rahasia kalau mayoritas orangtua mematok jenjang kehidupan ideal bagi anak-anak mereka: sekolah setinggi mungkin atau minimal sarjana, punya pekerjaan tetap dengan penghasilan mencukupi—bonus bila diterima di perusahaan-perusahaan papan atas atau jadi pegawai negeri—, menikah dengan orang yang patut dibanggakan, sampai mampu memberikan cucu-cucu nan lucu yang memastikan bahwa garis keturunan mereka tak terputus. Sampai saat ini, banyak sekali yang masih menyepakati asumsi ini adalah kebenaran, tetapi sebagian lainnya justru berpaling dan mengambil jalan yang sama sekali bertolak belakang dengan ide konservatif ini. Salah satunya adalah para milenial yang memilih menjadi freelancer alih-alih menghabiskan sepertiga hari menjadi pekerja tetap kantoran.

Salah satu ciri utama milenial adalah penguasaan teknologi komunikasi yang mumpuni. Ciri ini pada perkembangannya memicu seseorang untuk berpikir menjadi freelancer. Betapa tidak? Sulit rasanya saat ini menemukan hal yang tidak bisa diakses dengan internet dan piranti komunikasi yang kian hari kian canggih. Arus informasi dimungkinkan berjalan dan dipertukarkan secepat kilat tanpa peduli berapa jarak yang mesti direngkuh. Inilah yang menjadi titik berangkat terbukanya aneka lapangan pekerjaan dan peluang bekerja sama yang tak melulu menuntut pertemuan tatap muka langsung bagi milenial freelancer dan perusahaan-perusahaan perekrutnya. Cukup ketik, beberapa kali klik, pekerjaan terkirim sesuai pesanan. Hanya butuh duduk rapi di depan kamera gawai dan membuka aplikasi video call, wawancara, penjelasan pekerjaan, atau rapat siap dilakukan. Tidak cuma satu dua kategori pekerjaan saja yang tersaji bagi para milenial freelancer, puluhan bidang bisa mereka temukan dan jajaki, bahkan bila sebenarnya mereka tak punya latar belakang studi yang terkait langsung dengan pekerjaan yang ditawarkan.

Dalam situs Social Media Week, Brenna Clarine menuliskan bahwa lebih dari 53 juta penduduk Amerika memilih pekerjaan freelance, mengokupasi sepertiga dari kebutuhan pekerja di Negeri Paman Sam tersebut. Pada tahun 2020, diprediksikan kenaikan jumlah peminat freelancing mencapai 50% kebutuhan pekerja di sana. Sementara dalam situs Forbes, Kate Taylor melaporkan bahwa 60% milenial memilih mengundurkan diri dari suatu perusahaan dalam waktu kurang dari tiga tahun. Kerugian antara $15.000 hingga $25.000 diakui 87% perusahaan di Amerika Serikat lantaran kehilangan karyawan sehingga menuntut mereka untuk mulai mengubah struktur perusahaan.

Ada sejumlah asumsi menarik dari Clarine mengenai alasan para milenial kepincut dengan ketiadaan label karyawan tetap untuk mereka. Alih-alih berfokus kepada karier, milenial lebih cenderung memandang seksi ide menikmati hidup. Generasi terdahulu dianggap "tidak seru", kaku, dan kurang bertualang sehingga bagi para milenial, kehidupan orangtua-orangtua mereka sebagai pegawai kantoran begitu membosankan. Kebebasan adalah gol milenial dan ini mereka dapatkan dari bekerja sebagai freelancer. Di lain sisi, Taylor berargumen bahwa 72% calon pekerja milenial tak ingin sekadar bekerja atau menyandang titel karyawan perusahaan, tetapi mereka ingin memperoleh pekerjaan di mana mereka bisa memberikan dampak signifikan bagi sekitar sehingga mampu memompa level kebahagiaannya.

Benarkah asumsi-asumsi ini?

Tirto mewawancarai dua orang milenial yang memilih bekerja lepas tanpa terikat status kepegawaian. Ignatius Aditya (30) adalah seorang lulusan ISI Yogyakarta jurusan etnomusikologi. Sejak merampungkan kuliahnya pada 2011, ia memilih menjadi freelancer di bidang ilustrasi musik. Alasannya? “Simpel… gue ngambil jurusan yang susah untuk cari kerja kantoran, dan gue belom ada akses untuk kerja kantoran buat kerja yang gua suka waktu itu,” papar laki-laki biasa disapa Adit ini.

Jika Adit menggeluti satu bidang pekerjaan freelance saja, lain cerita dengan pengalaman Mursydatul Umamah (26) yang kerap dipanggil Ida. Ia mengaku sempat menjalani beberapa pekerjaan freelance dari beragam bidang pada satu waktu mulai dari editor, instruktur outdoor adventure, jurnalis, sampai pengajar. Ida mengatakan bahwa dirinya memang sengaja mengambil banyak pekerjaan karena hal itu memungkinkannya berinteraksi dengan lebih banyak orang dengan latar belakang bermacam-macam. Perempuan asal Tegal ini pun menyatakan bahwa menjadi freelancer berarti dapat melakukan pekerjaan sesuka hatinya dalam artian ia dengan kehendak bebas dapat mengatur kapan ingin mengambil proyek atau bersantai sejenak.

Bukan perkara mudah menjalani aneka pekerjaan dalam satu waktu. Terkadang, terjadi bentrok jadwal pengerjaan proyek yang satu dan lainnya. Terkait hal ini, Ida berpendapat, “Biasanya gue bernegosiasi sama kerjaan yang lebih fleksibel, misalnya ngedit dan ngajar, kadang didahulukan atau minta ganti jadwal karena jadwal camping sekolah atau instansi nggak bisa dinego.” Ida juga mengimbuhkan, lazimnya ia menghabiskan waktu akhir pekan untuk kegiatan alam, sementara hari kerja berhadapan dengan laptop.

Alasan mobilisasi juga menjadi bahan pertimbangan seseorang memilih menjadi freelancer. Di Ibu Kota, sebagian besar masyarakat mengeluhkan kondisi lalu lintas pada jam-jam sibuk pada hari kerja. Hal ini membuat Ida mencetuskan keunggulan lain menjadi freelancer yang dialaminya, “Nggak perlu macet-macetan. Cukup kerja di rumah.”

Infografik Asiknya Menjadi Freelancer


Tak ubahnya dengan menjadi pekerja tetap, mengambil pekerjaan freelance pun memiliki beragam konsekuensi positif dan negatif. Selain yang telah dipaparkan Ida, terdapat sisi-sisi menyenangkan lainnya dengan menjadi freelancer sebagaimana disampaikan Clarine seperti bisa memaksimalisasi kemampuan individual, serta dapat memilih dengan bebas di mana dan kapan mereka ingin bekerja asalkan tak melanggar batas waktu pengumpulan pekerjaan yang telah disepakati.

Keuntungan adanya pekerjaan freelance rupanya tidak hanya dirasakan oleh para pekerja, tetapi juga para perekrut dari perusahaan, khususnya bisnis kecil menengah. Penghematan biaya operasional tetap adalah keuntungan pertama freelancing sebagaimana dituturkan Steve Dongo, Managing Director di The Plato Group—perusahaan penyambung kerja dan pelatih para freelancer—, dalam situs Business News Daily. Senada dengan Dongo, Clarine juga menemukan keuntungan bagi perusahaan yang merekrut freelancer seperti memangkas waktu perekrutan sebagaimana lumrah dilakukan jika ingin menambah karyawan tetap. Munculnya situs semacam Freelancer atau Upwork memudahkan para pencari pekerja menemukan orang-orang berkualifikasi yang dapat berkontribusi untuk perusahaannya.

Di lain sisi, sejumlah hal tak menyenangkan dari menjadi freelance pun sempat dialami Adit dan Ida. Ketidakpastian datangnya penghasilan adalah perkara klasik yang kerap dihadapi kedua orang ini. “Paling males kalau dibayarnya telat,” ujar Ida, “Makanya selama freelance gue mesti pinter-pinter ngatur strategi keuangan. Mana yang harus keluar duluan, mana yang bisa ditahan karena nggak tahu uang bakal datang kapan.”

Di samping persoalan jadwal turunnya penghasilan yang tak menentu, Adit menyoroti hal negatif lain dari menjadi freelancer. Meski bayaran dari bekerja lepas diakunya mampu mencukupi kebutuhan hidup dasar seperti pangan dan sewa kos, laki-laki yang aktif bermusik sebagai vokalis dan gitaris band ini mengaku masih ketar-ketir masalah biaya kesehatan kalau-kalau ia sakit. “Beda sama pekerja kantoran, gue yang freelancer ini nggak punya perlindungan apa-apa dari perusahaan klien. Plus, pekerjaan bisa diputus sepihak kalau di tengah jalan sakit. Intinya, hak sebagai pekerja jauh dari mereka yang ada di kantoran,” jelas Adit.

Lantaran bukan status pekerja yang dominan dalam masyarakat lokal, freelancer kerap dikenai stigma negatif. Beberapa beranggapan bahwa freelancer hanyalah eufemisme dari pengangguran terselubung. Ida sendiri menyatakan bahwa orangtuanya kerap tak paham apa yang dilakoni anaknya hingga bisa menghasilkan uang. Meski seseorang telah menjelaskan sejauh apa pun, bagi generasi terdahulu yang lebih menerima pekerjaan tetap sebagai sesuatu yang ideal, freelancing akan sulit dimengerti. “Segitu susahnya jelasin konsep freelance ke orangtua, sampe kalo ibu gue ditanya sama temennya, ‘Anaknya kerja apa sekarang?’, ibu gue bakal jawab ‘Masih nyari kerja, masih belajar cari duit’,” aku perempuan berhijab ini.

Tidak ada yang senantiasa statis di dunia ini. Pun demikian dengan budaya bekerja. Menjadi karyawan penuh waktu yang menghabiskan delapan hingga sembilan jam di kantor bisa jadi bukan kebenaran tunggal lagi. Selalu ada alternatif mencari penghasilan, terlebih ketika kondisi kota mempersulit terselesaikannya pekerjaan tepat waktu dan dengan kualitas mumpuni. Freelancing yang seiring dengan kemudahan yang ditawarkan perkembangan teknologi komunikasi bisa jadi jawaban atas kepelikan itu, apalagi kalau seseorang telah mengantongi sejumlah catatan hasil kerja yang cantik atau terkenal kredibel di mata para klien. Tak perlu lagi menjemput bola, bisa jadi justru seseorang yang jadi incaran macam-macam perusahaan untuk berkarya bersama mereka.

Jika freelance menjadi pilihan, jangan lupa untuk senantiasa pintar mengatur keuangan. Selalu siapkan dana cadangan yang siap untuk menyokong kehidupan selama 3-6 bulan, sebagai antisipasi jika sedang seret pekerjaan. Dan yang tak boleh dilupakan lagi adalah untuk tetap memproteksi diri dengan asuransi kesehatan pribadi, sebagai perlindungan pribadi.

Baca juga artikel terkait MILENIAL atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight