Mengapa "Black Lives Matter" dan Bukan "All Lives Matter"?

Seorang demonstran mengangkat tangannya saat protes atas kematian George Floyd yang meninggal 25 Mei setelah ia ditahan oleh polisi Minneapolis, Rabu, 3 Juni 2020, di pusat kota Los Angeles. (Foto AP / Marcio Jose Sanchez)
Oleh: Hatib A Kadir - 12 Juni 2020
Dibaca Normal 3 menit
Komunitas kulit hitam bukan hanya menderita karena rasisme, tapi juga karena diskriminasi rasial telah mengikat mereka pada hierarki kelas paling bawah.
Lima tahun sejak gerakan Black Lives Matter (BLM) dibentuk pada tahun 2013, kasus penembakan di Amerika masih tinggi. Data dari Bureau of Justice Statistics mengungkapkan pembunuhan yang dilakukan polisi terhadap warga sipil rata-rata mencapai 900 kasus per tahun. Orang kulit hitam sembilan kali berpotensi terbunuh dibanding kulit putih. Data ini tentu saja merupakan fenomena gunung es karena banyak warga sipil mati dibunuh polisi tidak terekspos.

Polisi menyiapkan dana tidak sedikit untuk menutup kasus pembunuhan dan memenangkannya di pengadilan. Keeanga-Yamahtta Taylor penulis buku From #BlackLivesMatter to Black Liberation (2016) mengungkapkan bahwa polisi New York menghabiskan 150 juta USD setahun dan polisi Chicago 500 juta USD dalam sepuluh tahun terakhir, untuk memenangkan berbagai gugatan pengadilan (lawsuit) atas kekerasan yang mereka lakukan.

Tingginya pengawasan polisi terhadap lingkungan kulit hitam (policing neighborhood) dan pembunuhan juga berhubungan dengan permasalahan ekonomi. Bahkan setelah pemotongan anggaran belanja untuk fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, dan tempat tinggal, pemerintah kota sering mempertahankan subsidi kepolisian.

Rasisme Sistemik

Kasus rasisme di Amerika sudah sangat sistemik. Ia tidak lagi bersifat stereotip atau kebencian perorangan. Diskriminasi utang adalah salah satu contohnya. Miranda Joseph dalam bukunya Debt to Society (2014) menunjukkan bank-bank di Amerika cenderung memberi pinjaman dengan bunga hutang tetap (fixed rate) kepada debitor kulit putih. Sedangkan debitor kulit hitam dan Latino, meski kelas menengah dikenakan bunga bank mengambang (floating rate) karena dicurigai punya risiko gagal bayar lebih tinggi. Ketika fluktuasi ekonomi terjadi, semisal disaat bank sentral (the Fed) menaikkan suku bunga, maka kulit hitam-lah yang paling frustasi. Sistem utang ini menggiring warga kulit hitam ke arah perbudakan kembali (reenslavement). Jika gagal bayar, mereka akan kehilangan rumah (homeless), kehilangan property, dan sulit mencari pekerjaan.


Rasisme sistemik terjadi pada kawasan perkotaan dengan mayoritas kulit hitam berpendapatan rendah. Menariknya, bencana justru menunjukkan betapa diskriminasi berjalan begitu sistemik. Sosiolog urban Eric Klinenberg dalam Heat Wave (1995) menunjukkan korban bencana gelombang panas terdapat di komunitas kulit hitam. Semenjak melakukan pengetatan anggaran (austerity), pemerintah kota mengurangi fasilitas apartemen berbiaya rendah yang ditinggali lansia kulit hitam. Apartemen tidak terpasang AC, elevator rusak tidak sampai ke lantai terbawah dan tertinggi, akses transportasi buruk. Selain itu, tingginya angka kriminalitas dan pembunuhan, membuat lansia ketakutan dan memilih mati kepanasan dalam kamar daripada menyelamatkan diri keluar.

Minimnya fasilitas publik terlihat dari lingkungan warga kulit hitam yang rata-rata mengalami gurun pangan (food desert), yakni terbatasnya sumber makanan. Jarak dengan supermarket yang menjual sayuran dan daging segar cukup jauh. Lebih dari 5 kilometer. Sangat susah bagi mereka yang tidak punya mobil atau menunggu bus yang datang tiap sampai 55 menit sekali. Di sekitar lingkungan kulit hitam hanya tersedia supermarket kecil dengan makanan instan, sayur kaleng, sosis penuh MSG dan minuman soda penuh gula. Tidak heran jika jumlah anak kulit hitam yang mengalami diabetes dan gagal ginjal cukup tinggi.



Untuk mengatasi food desert, komunitas kulit hitam yang juga berafiliasi ke BLM, di Bronx New York, Englewood& North Lawndale Chicago sampai Frenchtown, Florida, membentuk pertanian urban (urban farming). Pertanian urban jadi solusi untuk warga kulit hitam yang diabaikan oleh pemerintah kota. Dari kebun pertanian urban ini komunitas bukan hanya dapat memenuhi kebutuhannya sendiri berupa sayuran organik tanpa pupuk dan pengawet, okra, kacang-kacangan, sayuran hijau, labu, tomat, cabe, hingga madu. Namun yang terpenting juga, dari pertanian urban komunitas dapat membangun kedaulatan pangan sekaligus martabatnya.

Politik Identitas dan Kelas Ekonomi

Gerakan BLM kali ini berbeda dengan gerakan Civil Rights Movement yang digawangi oleh Martin Luther Jr. pada 1960-an. BLM kali ini bukan hanya melawan rasisme, namun juga perjuangan kelas melawan ketidakadilan dalam hal perumahan, struktur pekerjaan, dan brutalitas polisi. Komunitas kulit hitam bukan hanya menderita karena rasisme, tapi juga karena diskriminasi rasial telah mengikat mereka pada hierarki kelas paling bawah.

Rasisme sistemik telah memicu ketidakadilan ekonomi. BLM bukan hanya gerakan politik identitas namun juga gerakan menentang kontradiksi kelas dan ketidakadilan ekonomi. Riset terbaru dari Valerie Wilson, direktur kebijakan ekonomi publik untuk permasalahan ras menunjukkan, semenjak pandemi Covid-19 rata-rata pengangguran di komunitas kulit hitam mencapai 16,8% dan kulit putih 12,4%. Selama pandemi, keluarga kulit hitam mempunyai cadangan uang tunai rata-rata 9 ribu USD, sedangkan kulit putih 50 ribu USD. Berbeda dengan warga kulit putih, keluarga kulit hitam umumnya hanya punya satu pencari nafkah sehingga posisinya lebih rentan sepanjang pandemi ini.


Data dari Central for Disease Control menunjukkan rata-rata kematian untuk kulit hitam karena Covid19 adalah 22% dan 12% adalah kulit putih. Hal ini karena diawalnya, kulit hitam telah mempunyai rata-rata penyakit hipertensi, asma, diabetes dan obesitas lebih tinggi dari kulit putih. Jika diurut ke belakang lagi, tingginya mortalitas pada kulit hitam karena mereka lebih sedikit mendapatkan jaminan sosial (social benefit) ketika bekerja, seperti asuransi kesehatan dan cuti sakit. Data penunjang lainnya juga menunjukkan tingkat depresi dan bunuh diri di kalangan kulit hitam lebih tinggi dibanding kulit putih.

"All Lives Matter"

Tak lama setelah diluncurkan, BLM mendapat reaksi berupa slogan “All Lives Matter” (ALM). Argumen yang seringkali diungkapkan pendukung ALM adalah setiap kehidupan manusia juga penting. Setiap orang mungkin pernah mengalami diskriminasi atau korban rasisme—meski tidak semua orang mengalami rasisme secara sistemik seperti yang dialami kalangan kulit hitam.

Tuduhan lain yang datang dari ALM adalah bahwa orang kulit hitam suka melakukan kekerasan. Namun, ALM mengabaikan bahwa kekerasan tersebut muncul karena frustasi terhadap diskriminasi rasial sistemik seperti telah disebutkan di atas. Banyak cerita tentang orang kulit hitam meneriaki orang Asia termasuk Indonesia untuk pulang ke kampung halaman mereka (“Go back to you country”). Tapi mereka hanya sebatas teriak. Si peneriak tidak mempunyai kekuatan sistemik untuk benar-benar memulangkan atau melakukan pemiskinan secara struktural terhadap yang diteriaki.

Secara historis, struktur politik dan ekonomi masyarakat AS telah membentuk ras kulit hitam untuk tetap berada di bawah. Dengan demikian, slogan ALM tidak punya target spesifik untuk dibela. Dengan kata lain, pemahaman ALM jelas mengaburkan siapa pihak yang terdiskriminasi sesungguhnya.

Banyak yang salah sangka bahwa BLM adalah gerakan mahasiswa yang elitis. Padahal BLM adalah gerakan benar-benar berasal dari komunitas pekerja kulit hitam yang orangtuanya atau dirinya sendiri pernah dipenjara, atau yang tidak menyelesaikan sekolah. Di beberapa kota di Amerika, BLM telah melakukan rekonstruksi radikal dengan mendesak pengurangan dana (defunding) untuk kepolisian. Yang luar biasa lagi, gerakan ini telah menjalin solidaritas dengan gerakan pembebasan di Palestina hingga menjadi salah satu inspirasi gerakan anti-rasisme di Papua.

================

Hatib A. Kadir Ph.D, Fulbrighter Alumni dan dosen Antropologi, Universitas Brawijaya.

Baca juga artikel terkait BLACK LIVES MATTER atau tulisan menarik lainnya Hatib A Kadir
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Hatib A Kadir
Penulis: Hatib A Kadir
Editor: Windu Jusuf
DarkLight