Noor Rahmani
Dosen Fakultas Psikologi UGM, ahli SDM dan Kepemimpinan

Mendidik Anak dengan Teori XY

15 Agustus 2016
Dibaca Normal 2 menit
Mengikuti pemberitaan tentang Karin Novrida, banyak orang pusing melihat tingkahnya. Sebagian dari yang pusing berkomentar negatif dan memojokkan dia. Tapi jangan lupa, Karin adalah remaja berusia 19 tahun, usia yang masih mentah dan labil. Lalu mengapa Karin begitu mudah berbagi kehidupan pribadinya yang heboh melalui media sosial?

Satu hal yang harus kita cermati, ketika remaja berperilaku ekstrem dibanding sesama temannya. Bahwa remaja seperti Karin itu banyak, namun remaja yang mengkomunikasikan isi hatinya kepada publik di sosial media itulah yang patut dicermati. Kemungkinan besar ia merasa tak dipahami dan satu cara yang ia tahu adalah mengkomunikasikan isi hatinya melalui media sosial.

Banyak orang tua yang mengeluh, merasa kesulitan memahami anak remaja mereka. Beberapa dari mereka kebingungan, gemas, jengkel, karena anak remaja mereka tidak mau mendengarkan nasehat orang tua dan berperilaku semaunya.

Kita perlu memahami bahwa anak atau remaja butuh pemimpin, orang yang ia hormati, sayangi dan percaya, tempat dia bertanya, mengeluh dan bersandar. Memimpin bukanlah mengatur, memerintah dan menasehati. Ada rahasia penting agar orang tua mampu memimpin anak mereka sehingga disayangi, ditiru dan menjadi panutan anak. Bagaimana caranya?

Kita bisa meminjam konsep kepemimpinan yang sebenarnya dikenal di kalangan ahli pengelolaan sumber daya manusia. Karena ternyata konsep-konsep kepemimpinan tidak hanya dapat diterapkan di dunia kerja tetapi juga di rumah. Salah satu konsep kepemimpinan yang dikenal adalah Teori X dan Teori Y yang diajukan oleh Douglas McGregor.

Bila orang tua dikatakan menganut Teori X maka ia cenderung berpikiran negatif pada anaknya. Ia terbiasa berpikir bahwa anaknya malas, bahwa anaknya ingin selalu melanggar aturan, ingin selalu melakukan hal-hal yang negatif dan ingin selalu berbohong. Apa dampak pikiran-pikiran seperti itu terhadap sikap orang tua terhadap anak? Orang tua menjadi gampang curiga dan tidak percaya kepada anaknya sendiri. Perasaan itu membentuk sikap orang tua menjadi selalu ingin menyelidiki, sering bertanya dengan ekspresi penuh curiga dan interogatif.

Bagaimana efek sikap orang tua seperti di atas terhadap anak? Perasaan tidak dipercaya akan membangun mekanisme pertahanan diri pada diri anak. Anak akan menjaga jarak dari orang tua, merahasiakan isi hati dan perasaannya, bahkan merahasiakan kegiatannya. Ini karena ia merasa bahwa orang tuanya pasti akan memberikan penilaian-penilaian negatif terhadap isi hati, perasaan bahkan kegiatannya.

Jika situasi ini berlangsung sejak anak masih kecil, maka semakin lama jarak antara anak dan orang tua menjadi semakin jauh, anak sedikit demi sedikit akan membangun tembok antara dirinya dengan orang tua dan semakin dewasa tembok itu semakin tebal. Tiap kali anak memiliki masalah, maka ia tak akan berkonsultasi kepada orang tuanya. Dia justru mencari orang lain, seperti kepada teman-temannya. Di sini pengaruh teman menjadi kuat. Sikap dan cara anak menghadapi masalahnya pun menjadi tergantung dengan siapa ia berteman dan bagaimana cara pandang maupun perilaku teman-temannya.

Sebaliknya, jika orang tua menerapkan Teori Y di rumah, maka orang tua akan selalu berusaha berpikir positif terhadap anak. Selalu percaya bahwa anak adalah makhluk yang baik, polos, jujur dan bisa dipercaya. Selalu percaya bahwa anak akan melakukan hal yang baik dan selalu ingin menjadi orang yang baik. Pikiran-pikiran positif seperti itu, disertai dengan kasih sayang yang tulus tanpa pamrih, akan menghasilkan sikap orang tua yang selalu percaya, tidak pernah mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang menyelidik, ekspresi wajah selalu positif penuh kasih sayang dan pengertian.

Bagaimana efek sikap dan perilaku seperti ini terhadap anak? Anak akan merasa dipercaya, merasa dilindungi, dimengerti dan dipahami. Anak akan menceritakan semua hal yang terjadi pada dirinya kepada orang tuanya tanpa tedeng aling-aling. Sebagai orang tua, kita dengarkan dengan penuh perhatian tanpa sikap menghakimi. Kita tanggapi ceritanya dengan kesediaan memahami sudut pandang anak dan sahabat mereka.

Apakah kemudian anak di Teori Y tidak akan melakukan hal-hal negatif jika orang tua menjadi teman mereka? Belum tentu. Besar kemungkinan anak akan tetap melakukan kesalahan. Namun bedanya, anak akan merahasiakan perbuatannya seperti dalam Teori X atau anak akan berterus terang kepada orang tuanya seperti dalam Teori Y. Jika anak sudah berani jujur atas perbuatannya, lalu bagaimana seharusnya reaksi orang tua?

Orang tua dengan Teori Y tidak akan marah atau menghakimi. Orang tua Teori Y yakin bahwa anak mereka sebenarnya memahami perbuatannya itu tidak baik. Orang tua dengan Teori Y akan bertanya pada anaknya: “Bagaimana menurutmu perbuatanmu itu?” atau “Mengapa kamu lakukan perbuatanmu itu?” Jika kemudian anak mengeluhkan perbuatannya atau dampak atas perbuatannya, maka orang tua Teori Y akan bertanya: “Apa yang bisa bapak ibu lakukan untuk membantumu?”

Pada prinsipnya, anak ingin dimengerti. Mereka ingin tahu apakah perbuatannya baik atau buruk, mengapa mereka melakukan perbuatan buruk, dan pada akhirnya ingin dibantu orang tuanya agar mampu menghindari perbuatan buruknya. Sebagai orang tua, tentu kita ingin mendampingi mereka dan permasalahan hidupnya.

Namun kesempatan mendampingi anak hanya akan didapatkan orang tua jika mereka menganut Teori Y. Jika orang tua selalu berpikir positif, selalu mendengarkan, dan selalu berusaha memahami, maka orang pertama yang akan dicari oleh anak saat mereka memiliki masalah adalah kita, orang tuanya, bukan teman-temannya. Efek dari jalur komunikasi yang terbuka lebar antara anak dan orang tua inilah yang sebenarnya didambakan oleh setiap orang tua, bukan?

Fenomena Karin (@awkarin) adalah fenomena remaja yang berteriak ingin didengarkan. Ia hanya butuh dipahami dan diterima apa adanya, disayangi dan diyakini bahwa dia adalah anak baik dengan niat-niat yang baik.




*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.
DarkLight