Max Born Pionir Sains Modern yang Menolak Persenjataan Nuklir

Oleh: Yuliana Ratnasari - 11 Desember 2017
Dibaca Normal 1 menit
Max Born percaya bahwa tidak ada ilmuwan yang dapat tetap bersikap netral secara moral akibat konsekuensi pekerjaannya, betapapun mendasar penelitiannya.
tirto.id - Max Born adalah fisikawan Jerman dan ahli fisika nuklir modern yang peringatan ulang tahunnya dirayakan Google Doodle hari ini, Senin (11/12/2017).

Sebagai ilmuwan yang brilian, hidup dan karya Max Born telah melampaui tiga abad. Dia belajar sains dalam tradisi klasik pada abad ke-19. Ilmunya ia kontribusikan pada perkembangan sains fundamental abad ke-20. Sementara itu, dalam pemikirannya, dia terutama menyumbangkan kepentingan terhadap konsekuensi sains modern abad ke-21.

Prediksinya terhadap sains modern, suram. Born percaya bahwa tidak ada ilmuwan yang dapat tetap bersikap netral secara moral akibat konsekuensi pekerjaannya, betapapun mendasar penelitiannya. Pada saat yang sama, dia tidak percaya bahwa kebanyakan ilmuwan, manusia seperti dirinya, mampu memprediksi apa kemungkinan konsekuensi itu.

Dalam karya profesionalnya, Born membantu meletakkan landasan bagi apa yang sekarang menjadi fisika nuklir modern. Untuk karyanya ia dianugerahi Hadiah Nobel pada tahun 1954. Penghargaan itu datang 28 tahun setelah pekerjaannya selesai. Ia percaya penundaan itu karena fakta bahwa butuh waktu lama agar teorinya diterima sepenuhnya di komunitas ilmiah.

Born mempelopori cara baru untuk menggambarkan fenomena atom. Sebab, sampai pertengahan 1920-an, sebagian besar fisikawan mencoba untuk menggambarkan perilaku partikel atom sesuai dengan hukum gerak dan perilaku Newton yang telah lama ada.


Born terkejut dengan banyaknya penerapan sains pada bidang militer yang dia bantu kembangkan setelah Perang Dunia I di Jerman. Dia merasa bertanggung jawab atas perkembangan itu dan mencurahkan tahun-tahun terakhir hidupnya untuk menulis dan berbicara, seperti yang dikatakan, tidak hanya tentang "konsekuensi sosial, ekonomi dan politik dari sains, terutama bom atom, tapi juga gejala patologis lainnya dari usia ilmu pengetahuan seperti pencarian roket, perjalanan luar angkasa, overpopuasi, dan sebagainya."

Pada 1957 Max Born bersama sejumlah ilmuwan nuklir lainnya kemudian menandatangani manifesto Fisika Nuklir dari German Physical Society. Penandatanganan itu untuk menolak partisipasi apapun dalam penggunaan senjata nuklir.

Karena pengetahuan yang dimiliki, mereka menolak penggambaran tiruan nuklir yang dibuat pemerintah Jerman Barat dan menuntut masyarakat untuk secara ekstensif mengetahui bahaya senjata nuklir. Pemerintah diminta untuk menghentikan senjata nuklir di Bundeswehr, agar tidak semakin membahayakan masyarakat Jerman.

Born termasuk ilmuwan dengan pemikiran yang dalam. Dalam otobiografinya, My Life and My Views, Born menjelaskan pandangannya tentang peran sains di dunia nyata.

Mengutip New York Times, Born menggambarkan sains sebagai "perasaan menembus alam semesta, menemukan rahasia penciptaan dan membawa beberapa perasaan dan ketertiban ke dalam bagian dunia yang kacau," dia mengatakannya sebagai "kepuasan filosofis."

Tapi sains, katanya, semakin disalahgunakan saat manusia modern bergerak lebih jauh memasuki abad modern ini. "Sains di zaman kita," tulisnya, "memiliki fungsi sosial, ekonomi dan politik, dan bagaimanapun karya jarak jauh sendiri berasal dari penerapan teknis, ini adalah kaitan dalam rantai tindakan dan keputusan yang menentukan nasib umat manusia."

Baca juga artikel terkait GOOGLE DOODLE atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari
Dari Sejawat
Infografik Instagram