Materi Seni Teater Tradisional: Ciri-Ciri & Contohnya di Indonesia

Penulis: Maria Ulfa, tirto.id - 24 Nov 2021 12:41 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Sejalan dengan perkembangannya, teater di Indonesia meliputi teater tradisional, teater modern dan teater kontemporer.
tirto.id - Pada dasarnya, orang Indonesia sudah mengenal seni teater sejak zaman dahulu kala. Sejalan dengan perkembangannya, teater di Indonesia meliputi teater tradisional, teater modern dan teater kontemporer.

Teater tradisional hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakatnya yang berkesenian dalam keseharian mereka. Mereka berkesenian dalam daur hidup mereka.

Artinya, masyarakat kita, secara tradisional, menggelar peristiwa-peristiwa kesenian ketika memperingati atau merayakan momen-momen penting dalam kehidupan mereka.


Momen-momen penting tersebut berkaitan dengan kelahiran, perkawinan, dan kematian. Oleh karena itu pada masa lalu pementasan cenderung tidak membutuhkan panggung.

Istilah teater sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata “Theatron” yang memiliki arti “Persembahan.” Sehingga, pada zaman Yunani istilah teater ini merupakan kegiatan upacara persembahan.

Teater ini merupakan persembahan kepada dewa Dyonesos dan upacara pesta untuk menghormati dewa Apollo. Kedua dewa ini merupakan anak dewa Zeus dan merupakan kepercayaan rakyat Yunani.

Sementara, pengertian seni teater sendir dibagi menjadi 2, yaitu:

a. Dalam arti luas, teater adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak, misalnya wayang orang, ketoprak, ludruk, dan sebagainya.

b. Dalam arti sempit, teater adalah drama kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan oleh orang banyak dengan media percakapan, gerak dan laku, dengan atau tanpa dekor, didasarkan pada naskah yang tertulis dengan atau tanpa musik, nyanyian, tarian.

Ciri-Ciri Seni Teater Tradisional


Adapun, ciri-ciri dari seni teater tradisional di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Tidak menggunakan naskah dan bersifat anonim.
  2. Pementasan lebih mengutamakan isi dan tujuan seni daripada bentuk seni.
  3. Sifat pertunjukan santai dan ada interaksi antara pemain dengan penonton.
  4. Spontanitas menjadi dasar pertunjukan.
  5. Cerita turun-temurun bercerita tentang dongeng, sejarah, mitos, dan kehidupan sehari-hari dengan lebih banyak berisi nasihat dan petuah.
  6. Penyajian melalui dialog, tari, dan nyanyi. Tertawa dan menangis merupakan dua unsur yang menjadi mendasar untuk pertunjukan.
  7. Tempat pergelaran terbuka di halaman rumah atau di mana saja ada tempat yang layak untuk pergelaran).
  8. Menggunakan properti/peralatan pentas seadanya.
  9. Ilustrasi musik menggunakan tetabuhan atau musik-musik tradisional.

Contoh Seni Teater Tradisional di Indonesia


Berikut ini adalah contoh-contoh seni teater tradisional di Indonesia, seperti dikutip dalam modul Berkenalan dengan Teater (2018):

1. Lenong dan Topeng

Lenong adalah teater tradisional Indonesia yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Betawi yang bermukim di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Tangerang, Bekasi, Depok dan Bogor.

Menurut perkiraan, teater ini muncul pada kisaran tahun 1920-an. Lenong terbagi dua, yaitu Lenong Denes dan Lenong Preman.

Lenong Denes mempunyai ciri khas yakni menggunakan pakaian resmi dan seragam kerajaan. Sementara itu, lenong preman menggunakan pakaian sehari-hari dan pakaian jawara. Yang paling mencirikan Lenong adalah bahwa teater rakyat ini diiringi musik Gambang Kromong.

Teater Topeng Betawi adalah teater tradisional yang hidup di tengah-tengah masyarakat Betawi Ora atau Betawi Pinggiran.

Sama seperti lenong, teater tradisi ini juga menggunakan iringan musik gambang kromong. Secara budaya, topeng lebih dipengaruhi oleh kebudayaan Sunda daripada kebudayaan lain.

2. Makyong

Makyong adalah satu jenis teater tradisional dari tanah Melayu. Konon, teater tradisional ini berasal dari Patani di Thailand Selatan. Kemudian, teater khas masyarakat pesisir ini kemudian berkembang ke seluruh tanah melayu; Riau, Riau Kepulauan, Deli, dan Malaysia.

Makyong dapat dimainkan pada upacara-upacara adat dalam masyarakat Melayu. Ciri khas Makyong ada pada cerita yang berpusat pada cerita-cerita kerajaan yang diambil dari kisah Panji dan Wayang Sri Rama.

3. Dulmuluk

Teater Dulmuluk adalah teater daerah Sumatera selatan yang lahir dan diciptakan di kotamadya Palembang. Terbentuknya teater ini melalui tahapan yang panjang yang dimulai dari proses yang paling awal sejak pembacaan syair atau tutur, hingga menjadi teater utuh seperti sekarang ini.

Kata Dulmuluk sendiri berasal dari nama pemeran utamanya yang bernama Raja Abdul Muluk Jauhari. Kesenian ini dibawa oleh seorang pedagang keliling yang masih mempunyai darah keturunan Arab yang bernama Wan Bakar ke kota palembang dengan sistem perdagangan.

4. Mamanda

Mamanda adalah seni teater rakyat atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Dibanding dengan seni pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip dengan Lenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton.

Interaksi ini membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar-komentar lucu yang disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih hidup. Bedanya, Tokoh-tokoh yang dimainkan adalah tokoh baku seperti Raja, Perdana Menteri, dan lain-lain.


Baca juga artikel terkait TEATER TRADISIONAL atau tulisan menarik lainnya Maria Ulfa
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Maria Ulfa
Editor: Addi M Idhom

DarkLight