20 Agustus 2008

Mata Tajam Donald Pandiangan

Oleh: Renalto Setiawan - 20 Agustus 2018
Dibaca Normal 3 menit
Meregang busur.
Mata panah menyusur
jarak terukur.
tirto.id - Dalam salah satu adegan film 3 Srikandi, Donald Pandiangan memimpin latihan pelatnas panahan yang dipersiapkan untuk ajang Olimpiade 1988 di Seoul, Korea Selatan. Membuka latihan, Donald lalu berkata kepada anak asuhnya, “Perlu kau ingat, disiplin itu mutlak.”

Beberapa menit setelah itu, sadar bahwa ia sudah telat, Lilies Handayani, atlet panah dari Jawa Timur, berlari kencang seolah sedang dikejar hantu. Sesampainya di tempat latihan, Lilies lalu minta maaf kepada Donald, “Maaf, pak pelatih. Aku harus kepontal-pontal mengejar bajaj.” Lilies memang terlambat karena mengejar bajaj untuk mengambil bukunya yang ketinggalan.

Donald sama sekali tak menggubris alasan Lilies. Ia menjawab ketus,”Tujuh menit kau telat. Tujuh kali kau keliling lapangan.”

Hari itu nasib baik memang sedang tidak berpihak pada Lilies. Ia begitu sembrono dan Donald memberikan dua hukuman tambahan usai Lilies berlari. Lilies diminta melepas perhiasan yang masih dikenakannya. Setelah itu, karena dianggap kurang fokus, Lilies disuruh latihan secara terpisah.

Barangkali, adegan menarik itu mungkin tak akan pernah terjadi dalam film 3 Srikandi jika Imam Brotoseno, selaku sutradara, fokus pada skenario awal. Semula, ia hanya ingin cerita berfokus pada tiga atlet panahan, Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman, dan Kusuma Wardhani. Namun, setelah mengetahui mimpi besar Donald Pandiangan untuk meraih medali emas dalam gelaran Olimpiade 1980 di Uni Soviet [sekarang menjadi Rusia] “dirampas” oleh kepentingan politik, ia mengubah idenya.

Saat itu, karena Uni Soviet melakukan serangan terhadap Afganistan, Indonesia memilih untuk memboikot Olimpiade 1980. Indonesia tidak mengirim satu atlet pun ke Olimpiade tersebut. Donald, yang sedang berada di puncak kariernya, marah besar. Ia kecewa.

Kekecewaan Donald itu kemudian diwakili oleh seorang wartawan Kompas, Valens Doy. Iman mengutip apa yang ditulis Valens pada 18 Mei 1980: “Kita terharu dan bersimpati dengan kecewanya Donald, atlet terbaik yang pernah kita miliki di luar cabang bulutangkis. Saya mengenal Donald sebagai pribadi yang polos dan cerdas. Memang, keringat perjuangan dan kejayaan seorang atlet, apalagi membawa nama negara, adalah sesuatu yang indah. Tetapi saya percaya, Donald juga tahu bahwa keindahan ini bisa terasa pahit jika di sekitar kita, jutaan orang, jangankan untuk berolahraga, untuk menghirup kemerdekaan hidup saja seakan-akan tidak punya hak.”

Dari situ, Imam kemudian membelah fokus cerita 3 Srikandi menjadi dua. Film yang mengisahkan perjalanan timnas panahan putri dalam mempersembahkan medali pertama [medali perak] bagi Indonesia dalam gelaran Olimpiade itu, tidak hanya tentang Lilies, Nurfitriyana, dan Kusuma Wardhani, tapi juga tentang Donald Pandiangan, sang pelatih, yang pernah mendapatkan julukan Robin Hood dari Indonesia karena keahliannya membidikkan anak panah.

Jalan Menjadi Robin Hood

Donald Pandiangan lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, pada tanggal 12 Desember 1945. Ia merupakan anak kesepuluh dari sebelas bersaudara. Untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang sarjana teknik, Donald memilih pergi ke Jakarta setelah lulus SMP. Namun, keinginannya tersebut ternyata tak terpenuhi. Lulusan SMA Taman Madya, Jakarta, tersebut urung kuliah karena terkendala biaya.

Donald kemudian bekerja di Perum Angkasa Pura. Di tempat kerjanya itu, ia mulai mengenal panahan. Mulanya adalah saat Soetardjo Sigit, Direktur Perum Angkasa Pura, memberikan hadiah berupa perlengkapan panah kepadanya. Setelah itu dia rajin berlatih bersama Klub Panahan Angkasa Pura. Satu set perlengkapan itu yang kemudian jadi batu pijakan Donald menjelma jadi atlet panahan berprestasi.

Meski usianya yang sudah 25 tahun terbilang telat memulai karier sebagai atlet, bakat dan kerja keras tak pernah berbohong. Dua hal itu kemudian menghasilkan sesuatu yang berharga. Sadar memulai panahan dengan terlambat, Donald selalu rajin berlatih, nyaris setiap hari.

Setelah tiga tahun berlatih panahan, tekad kuat Donald tersebut benar-benar menghasilkan sesuatu. Dalam gelaran PON Surabaya 1973, ia berhasil menyabet medali emas. Dalam gelaran PON 1977 di Jakarta, tidak hanya meraih emas, Donald juga berhasil memecahkan rekor dunia pada nomor recurve 70m. Donald lalu semakin ngebut dalam mengumpulkan gelar. Ia seperti tidak mempunyai rem. Jarak antara dirinya dan prestasi dalam sebuah kejuaraan panahan yang diikutinya terlihat hanya sebatas sepelemparan batu.

Dari SEA Games 1977 hingga 1987, ia tak pernah berhenti mempersembahkan emas untuk Indonesia, baik individual maupun tim. Bahkan, dalam setiap kejuaraan itu, ia tak hanya mempersembahkan satu medali emas. Dalam gelaran SEA Games 1979, misalnya. Turun dalam nomor individual recurve, individual recurve 30m, individual recurve 50m, individual recurve 70m, individual recurve 90m, dan team recurver, Donald meraih semua emas.

template-mozaik-logo-baru


Karena prestasinya itu, Donald kemudian mendapat julukan Robin Hood dari Indonesia. Konon julukan itu mulai diberikan saat Donald berhasil menancapkan anak panah di ekor anak panah lainnya. Yang menarik, julukan itu ternyata pas. Tidak hanya pandai memanah, Donald ternyata juga memiliki karakter tak jauh berbeda dengan tokoh legendaris dalam cerita rakyat Inggris tersebut.

Pribadi Sentimentil

Donald baru saja meraih medali emas PON 1977. Ia juga baru saja memecahkan rekor dunia di nomor recurve 70m. Berpeluang mendapatkan berita besar, para wartawan lalu mengerumuninya. Namun, saat ditanya mengenai prestasinya itu, Donald ternyata memberikan jawaban yang mengejutkan, “Tahu tadi atlet terjun payung yang meninggal? Hati saya hancur sekali. Sebagai sesama atlet, peristiwa ini sangat membekas.”

Cerita itu menjadi awal dalam salah satu tulisan Iman Brotoseno, “Tangis Donald, Pilihan Kita”, di dalam blog pribadinya. Dari blog sutradara 3 Srikandi itu, sosok Donald sebagai pribadi yang sentimentil memang terlihat begitu kentara.

Donald tak banyak bicara dan terkesan angkuh. Namun saat hatinya tersentuh oleh sesuatu, ia berubah total. Ia bisa tiba-tiba marah, gembira, juga sedih. Meski begitu, karakternya yang seperti itu berhasil ia bungkus dengan prinsip yang lugas: Donald menghormati orang-orang yang seprofesi dengannya.

Selain simpatinya mengenai atlet terjun payung, ia juga kerap bertengkar dengan Udi Harsono, sekjen Perpani pada saat itu. Meski Udi merupakan salah satu orang yang paling ia hormati, Donald tetap akan bicara blak-blakan saat atlet panahan tidak mendapat perhatian layak dari pemerintah.

Prinsip inilah yang juga membuat Donald membungkus egonya rapat-rapat saat gagal berpartisipasi di Olimpiade 1980. Saat ia diminta untuk melatih tim panahan putri dalam gelaran Olimpiade 1988, ia melakukan tugasnya itu dengan sebaik-baiknya: tangan dingin Donald berhasil mengantarkan Lilies, Nurfitriyana, dan Kusuma Wardhani meraih medali pertama Indonesia dalam gelaran Olimpiade. Setidaknya, meski tak berhasil meraih medali Olimpiade dengan tangannya sendiri, ia berhasil meraih mimpinya untuk menjadi “juara” Olimpiade.

"Meski ini medali perak, tapi bagi kami ini lebih dari 100 medali emas. Bahkan lebih berarti ketimbang tambang emas," ujarnya kala itu.

Selepas Olimpiade tersebut, secara perlahan Donald memang memilih untuk menyingkir dari kebisingan. Meski begitu, ia masih menyempatkan diri untuk mengikuti pertandingan panahan untuk bersenang-senang. Suratan takdir memang membimbing Donald untuk terus mencintai panahan. Langkahnya menuju keabadian lalu menyetujuinya: Hari ini, 19 Agustus 2008, saat usianya hampir menginjak 63 tahun, Donald tiba-tiba terjatuh dalam sebuah pertandingan panahan. Setelah itu Robin Hood dari Indonesia itu tak pernah lagi bangun.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Nuran Wibisono