Massa PA 212 Kumandangkan Azan untuk Memulai Unjuk Rasa

Oleh: Mohammad Bernie - 6 April 2018
Demonstrasi ini merupakan protes atas pembacaan puisi berjudul Ibu Indonesia yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputrri di ajang Indonesia Fashion Week, akhir Maret 2018.
tirto.id - Massa yang tergabung dalam Persaudaraan Alumni 212 menggelar demonstrasi di depan Kantor Badan Reserse dan Kriminal Polri, di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, Jumat (6/4/2018). Seorang demonstran mengumandangkan azan untuk memulai demonstasi.

“Inilah suara yang paling indah selain suara ayat suci Alquran," kata seorang orator saat hendak azan hendak dikumandangkan.

Saat azan berkumandang, ribuan massa aksi berkumpul di depan Bareskrim Polri mengibarkan bendera bertuliskan kalimat syahadat dan bendera Palestina. Mereka menuntut polisi segera menangkap Sukmawati Soekarnoputri karena puisinya yang dinilai menista agama Islam.

Sebelum berdemonstrasi, massa sempat berkumpul di depan Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Mereka kemudian longmars ke arah Kantor Bareskrim sekitar pukul 13.30 WIB. Sepanjang perjalanan, massa tak henti massa aksi mengumandangkan salawat dan mars Bela Islam.

Demonstrasi ini merupakan protes atas pembacaan puisi berjudul Ibu Indonesia yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputrri di ajang Indonesia Fashion Week, akhir Maret 2018. Dalam salah satu baitnya, Sukmawati menyitir kata azan, syariat Islam, dan cadar.

Sukmawati sudah meminta maaf dengan disampaikan langsung di depan media dan Majelis Ulama Indonesia. Permintaan maaf Sukmawati itu pun seolah tak didengarkan lantaran massa tetap memintanya ditahan.

Seorang orator yang memandu demonstrasi sempat berujar “Kalau Sukmawati dibiarin [bebas], Ahok iri saudara-saudara.”

Berdasarkan keterangan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, estimasi massa yang akan berunjuk rasa di Bareskrim Polri mencapai 1.000 orang. Polisi mengerahkan sekitar 6.500 personel gabungan TNI/Polri untuk mengamankan jalannya unjuk rasa. Sementara untuk pengamanan lalu lintas akan menyesuaikan situasi di lapangan.

Baca juga artikel terkait KASUS PENISTAAN AGAMA atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Mufti Sholih