Periksa Fakta

Malaysia Diklaim Jatuhkan Indonesia di WTO, Benarkah?

Penulis: Fina Nailur Rohmah, tirto.id - 16 Mar 2023 15:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Narator dalam video hanya membacakan sejumlah berita yang sama sekali tak mendukung klaim.
tirto.id - Indonesia terlibat dalam dua kasus sengketa dengan Uni Eropa (EU) di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO); pertama sebagai pihak yang digugat EU mengenai kebijakan pelarangan ekspor bahan mentah nikel; kedua sebagai pihak yang melayangkan gugatan atas diskriminasi sawit EU berkaitan dengan kebijakan Arah Energi Terbarukan atau Renewable Energy Directive II (REDD II).

Pasca Indonesia dinyatakan kalah atas EU dalam gugatan terkait kebijakan pelarangan ekspor bahan mentah nikel, sebuah video dengan narasi “Malaysia halalkan segala cara untuk jatuhkan Indonesia” bertebaran di media sosial Facebook.

Video berdurasi 7 menit tersebut dibagikan akun Facebook bernama “Dunia Tarkam Indonesia” (tautan) pada 7 Maret 2023 dan dibubuhi takarir bahwa narasi ini berhubungan dengan kasus sengketa nikel di WTO.


Foto Periksa Fakta Malaysia Jatuhkan Indonesia
Foto Periksa Fakta Malaysia Jatuhkan Indonesia. foto/hotline periksa fakta tirto


Dengan footage beberapa rekaman konferensi, salah satunya momen konferensi tingkat menteri WTO ke-12 di Jenewa pada tahun 2022, narator dalam video berujar bahwa Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim tidak asing di Eropa. Ia dikatakan dikenal luas dan dihormati di kalangan politisi dan pembuat kebijakan di Brussel.

Narator video juga menyampaikan, Indonesia akan menghentikan ekspor komoditas mineral mentah pada tahun ini termasuk bauksit. Seperti kata narator video pula, Kementerian Perdagangan menyatakan pihaknya siap jika kebijakan larangan ekspor bauksit nanti dipermasalahkan negara sahabat, termasuk Malaysia ke WTO.

Pernyataan yang diungkap narator tersebut terdengar seperti menarasikan sejumlah artikel berita.

Hingga Kamis (16/3/2023), video yang lalu lalang ini telah diputar sebanyak 265 ribu kali. Sementara unggahan ini juga telah memperoleh 2.900 impresi dan 868 komentar.

Lantas, benarkah Malaysia jatuhkan Indonesia di WTO?

Penelusuran Fakta


Tim riset Tirto menelusuri klaim ini dengan memasukkan kata kunci dari narasi video ke mesin pencari Google. Pertama, kami mengetik “Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim tidak asing di Eropa.” Artikel teratas dari pencarian tersebut yakni berita dari media berbasis di Jerman Deutsche Welle (DW) berjudul “Prospek Hubungan Malaysia-Uni Eropa di bawah Anwar Ibrahim” yang terbit 30 November 2022.

Artikel tersebut membahas tentang bagaimana perdana menteri baru Malaysia Anwar Ibrahim mewarisi perselisihan Malaysia dengan EU soal minyak kelapa sawit. Disebutkan, Indonesia dan Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia telah mengajukan keluhan kepada WTO dan menyebut EU tidak adil serta diskriminatif.

Gugatan itu lahir di tengah rencana EU menghentikan impor minyak sawit yang tidak berkelanjutan pada tahun 2030. Jika Malaysia kalah, masih dari DW, pemerintahan baru Anwar disebut dalam situasi yang sulit. Dalam hal ini Malaysia justru berpihak pada Indonesia, alih-alih akan menjatuhkan Indonesia di WTO sebagaimana klaim video.

Dalam daftar gugatan yang telah terdafar dengan nomor DS593 di laman resmi WTO pun terlihat bahwa Malaysia termasuk dalam salah satu negara yang bergabung dalam gugatan, di samping negara-negara lain seperti Kolombia, Kosta Rica, Guatemala, dan Thailand. Reuters pada 9 Januari lalu juga melaporkan, Indonesia dan Malaysia telah sepakat untuk bekerja sama memerangi “diskriminasi” terhadap komoditas sawit.

Selanjutnya, Tirto mencari tahu asal muasal pernyataan “Indonesia akan menghentikan ekspor komoditas mineral mentah pada tahun ini termasuk bauksit.” Saat memasukkan kata kunci itu ke kolom pencarian Google, salah satu artikel yang muncul adalah berita CNBC tertanggal 3 Februari 2023. Judulnya yaitu “Pantas Jokowi Setop Ekspor Bauksit! Ternyata RI Mau Bikin Ini.”

Menurut laporan tersebut, pemerintah akan menghentikan ekspor bijih bauksit mulai Juni 2023 mendatang kemudian dilanjutkan dengan penyetopan eskpor tembaga hingga timah. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mendorong pengembangan industri pengolahan dan pemurnian (smelter) di dalam negeri.

"Bauksit, kenapa kita harus setop? Saya berikan contoh saja. Indonesia ini ekspor bahan mentah bauksit itu kita nomor 3 di dunia. Mentahan yang kita ekspor. Tapi ekspor aluminium kita nomor 33. Mentahnya nomor 3, barang setengah jadi, kok barang jadinya di 33," ungkap Presiden RI Jokowi saat di Mandiri Investment Forum, seperti dikutip CNBC.

Bahkan, apabila diolah lagi menjadi panel surya, menurutnya RI hanya menempati eksportir panel surya ke-31 di dunia. Padahal, nilai tambah dari penjualan panel surya bisa mencapai 194 kali lipat dibandingkan bauksit yang masih mentah, kata Jokowi lagi.

Lebih lanjut, kondisi itu dituturkan Jokowi berbanding terbalik ketimbang China. Jokowi bilang, ekspor bauksit China terbesar ke-18 di dunia, namun ekspor panel surya China terbesar di dunia padahal sumber bahan baku bauksitnya berasal dari Indonesia. Malaysia sama sekali tidak disinggung dalam berita tersebut, apalagi disebut akan menjatuhkan Indonesia.

Tim riset Tirto kemudian menelusuri pernyataan narator dalam video yang berbunyi, “Kementerian Perdagangan menyatakan pemerintah siap jika kebijakan larangan ekspor bauksit yang akan dijalankan Presiden Jokowi mulai Juni 2023 nanti dipermasalahkan negara sahabat, termasuk Malaysia ke WTO.”

Berdasar hasil penelusuran, rupanya sumber asli pernyataan itu menyebutkan negara China, bukan Malaysia, seperti diberitakan CNN Indonesia dalam artikelnya berjudul “Kemendag Siap Jika China Gugat Larangan Ekspor Bauksit RI ke WTO.”

Sama halnya dengan artikel CNBC sebelumnya, laporan CNN Indonesia yang tayang 2 Maret 2023 itu berisi tentang rencana larangan ekspor bijih bauksit oleh pemerintah. Jokowi menyadari, kebijakan itu kemungkinan akan mendapatkan perlawanan, termasuk dari China.

“Maklum, China merupakan salah satu konsumen terbesar bauksit Indonesia,” menukil CNN Indonesia. Presiden Jokowi bahkan menyebut 90 persen bijih bauksit RI dinikmati China. Dapat disimpulkan bahwa narator dalam video telah mengubah narasi aslinya, dari yang sebenarnya China menjadi Malaysia.

Terakhir, untuk memastikan konteks footage video, Tim Riset Tirto melakukan penelusuran Google tentang konferensi tingkat menteri WTO ke-12. Berdasarkan informasi dari situs resmi WTO, acara tersebut berlangsung selama 12 - 17 Juni 2022 di kantor pusat WTO di Jenewa, Switzerland.

Para menteri dari seluruh dunia hadir di konferensi itu untuk meninjau kembali fungsi sistem perdagangan multilateral, membuat pernyataan umum dan mengambil tindakan terhadap pekerjaan WTO di masa mendatang.

Konferensi itu diselenggarakan bersama oleh Kazakhstan dan diketuai oleh Bapak Timur Suleimenov, Wakil Kepala Staf Presiden Kazakhstan. Sekali lagi, konferensi itu pun tak menyebutkan tentang perselisihan antara Indonesia dengan Malaysia.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, narasi video akun Facebook “Dunia Tarkam Indonesia” menyoal Malaysia Jatuhkan Indonesia di WTO bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

Narator dalam video hanya membacakan sejumlah berita yang sama sekali tak mendukung klaim. Bahkan, terdapat narasi yang sengaja diubah, yakni terkait pernyataan kesiapan pemerintah jika mendapat perlawanan dari China atas rencana kebijakan pelarangan bijih bauksit Juni 2023 mendatang.

Adapun mengenai hubungan Indonesia dengan Malaysia dalam sengketa WTO terkait diskriminasi sawit oleh EU, Malaysia justru dalam posisi yang sama dengan Indonesia yakni telah sepakat untuk bekerja sama memerangi diskriminasi terhadap komoditas sawit.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Fina Nailur Rohmah
(tirto.id - Hukum)

Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Farida Susanty

DarkLight