Macbook Akan Mati Jika macOS Bisa Dipasang di iPad

Oleh: Ahmad Zaenudin - 29 April 2021
Dibaca Normal 5 menit
Meskipun awalnya dibayangkan sebagai Macbook versi tablet, iPad adalah iPhone yang diperbesar.
tirto.id - Selama hampir tiga bulan, usai bertahun-tahun menggunakan iPad Air generasi pertama, saya akhirnya melakukan upgrade dan beralih menggunakan iPad Air 4 (atau iPad Air 2020). Generasi paling mutakhir seri "Air" ini yang didaulat Tim Cook sebagai "tablet yang memberikan kemampuan profesional dengan harga terjangkau".

Dirilis pada 16 Oktober 2020, iPad Air 4 Menggunakan system-on-chip (SoC) terbaru Apple bernama A14 Bionic, yang dibuat dengan teknologi 5 nanometer. Sistem ini membuatnya sanggup mengoperasikan 11,8 miliar transistor yang akhirnya dapat memproses 11 triliun operasi per detik. iPad Air 4, mengutip Vice President of Hardware Engineering Apple Laura Legos, "adalah tablet terbaru dengan lompatan kinerja yang luar biasa besar". Tak hanya performa grafik yang meningkat 30 persen dibandingkan generasi sebelumnya (seri Pro dan Air lainnya), iPad Air 4 diklaim memiliki kecepatan kinerja dua kali lipat dibandingkan rata-rata laptop berbasis Windows di pasaran.

Klaim Cook dan Legos rupanya tak berlebihan. iPad Air 4 terasa lebih cepat dibandingkan laptop Windows yang saya miliki (HP Pavilion x360 dengan prosesor i5, RAM sebesar 4GB, dan SSD berukuran 64GB), entah ketika digunakan untuk bekerja atau bermain game. Tercatat, segala aplikasi penunjang kerja seperti Google Docs, Safari, Readdle, hingga GoodNotes berfungsi lancar tanpa hambatan apapun. Meski kemampuan multitasking iPadOS tak bisa disamakan dengan kemampuan serupa pada MacOS ataupun Windows, keterbatasan ini bisa dimaafkan berkat kekuatan A14 Bionic. Saya tinggal swipe-right atau swipe-left untuk menjalankan dua aplikasi bekerja sekaligus.

Penggunaan iPad Air 4 pun makin dipermudah oleh integrasi yang mulus dengan Macbook. Apa yang saya lakukan di Macbook atau sebaliknya, seketika muncul di iPad Air 4, juga sebaliknya. Dengan memanfaatkan fitur bernama Sidecar, iPad Air 4 tak mengalami gangguan sedikit pun ketika digunakan layar tambahan Macbook.

Jika Anda menggunakan Apple Pencil (plus lapisan Paperlike buatan SwitchEasy), tablet ini akan makin terlihat mempesona, khususnya ketika digunakan dalam kerja-kerja desain pada aplikasi Procreate. Karena iPadOS telah mendukung transfer berkas yang lebih mulus dibandingkan iOS (tetapi masih buruk dibandingkan MacOS), dalam kondisi tertentu iPad Air 4 cukup baik apabila digunakan untuk melakukan editing foto melalui Adobe Lightroom.

Jangan tanya soal hiburan. Mulai dari aplikasi Netflix, Youtube, hingga beragam video game yang dikemas Apple dalam program langganan Apple Arcade, lancar digunakan. iPad Air 4 adalah kawan bersenang-senang.


Maka, meminjam slogan Majalah Bobo, iPad Air adalah sebaik-baiknya "teman bermain dan belajar" (dalam kasus saya, tentu, bekerja).

Sayangnya, hanya dalam tempo enam bulan sejak diluncurkan (atau tiga bulan usai saya gunakan), iPad Air 4 tiba-tiba terasa usang. Pasalnya, Apple merilis iPad Pro terbaru berprosesor Apple M1 tepat pada 20 April silam. Ada sedikit rasa sesal dalam diri saya yang tiga bulan silam memutuskan iPad Air 4.

Tapi, rasa sesal itu hanya bertahan sebentar, tepatnya selama Tim Cook mempresentasikan produk-produk baru Apple dalam acara Apple Event: Spring Loaded. Alasannya, Apple adalah Apple. Meskipun menggunakan M1, iPad Pro kemungkinan besar tidak akan digunakan sebagai Macbook (mengganti iPadOS dengan MacOS). iPad Pro M1 juga tak akan pernah serupa dengan Microsoft Surface, si komputer sungguhan dalam wujud tablet.

iPad adalah iPhone yang Diperbesar

Tepat pada 2005, Apple resmi menjadi perusahaan teknologi raksasa. Namun, namanya menjulang bukan karena kesuksesan lini komputer Mac, melainkan iPod--perangkat pemutar audio yang dirilis pertama kali pada 2001.

Kala itu, iPod terjual lebih dari 20 juta unit. Empat kali lipat dibandingkan hasil yang mereka terima setahun sebelumnya. Meski sukses, sebagaimana dikisahkan Walter Isaacson dalam biografi Steve Jobs (2011), Steve Jobs khawatir kesuksesan iPod tak bertahan lama karena ponsel semakin canggih. "Andai saja ponsel-ponsel itu memiliki kemampuan seperti iPod, iPod tak akan dibutuhkan lagi," ujar Jobs.

Sebagai langkah antisipatif, Jobs berjibaku menciptakan produk penerus iPod. Mulanya, Apple memilih bekerjasama dengan Motorola, yang kala itu sukses besar berkat RAZR. Pada akhir 2005, terciptalah ROKR, varian RAZR dengan iTunes di dalamnya. Sial, alih-alih sukses, ROKR jadi olok-olok semata. Bahkan, majalah Wired yang dianggap sebagai "santo pelindung Silicon Valley" memuat resensi ROKR berjudul "Kau Sebut ini Ponsel Masa Depan? Yang Benar Aja!".

"Sampah, saya enggak mau kerjasama lagi dengan perusahaan goblok kayak Motorola!" tukas Jobs.

Jobs akhirnya memilih memikirkan penerus iPod tanpa bantuan perusahaan lain. Percobaan pertama: mengubah iPod menjadi ponsel. Masalahnya, karena pada akhir 2005 Apple berusaha mempertahankan user interface (UI) iPod plus trackwheel untuk prototipe ponselnya, proyek ini menghasilkan masalah teknis tak berkesudahan.

Tapi, Apple pun punya proyek lain pengganti iPod kala itu: mengubah Macbook menjadi tablet. Sebagaimana dituturkan Brian Merchant dalam The One Device: The Secret History of the iPhone (2017), proyek ini bukan dari ide orisinal Jobs, melainkan segelintir teknisi Apple yang diam-diam untuk menghasilkan sistem UI baru. Merchant menyebut tim ini "Explore New Rich Interactions (ENRI)."


Tim ENRI awalnya tak berniat mengubah Macbook menjadi tablet. Mereka hanya ingin menciptakan fitur-fitur interaksi baru bagi Macbook yang tidak menggunakan keyboard dan mouse. Pada 2002, seorang anggota ENRI bernama Tina Huang memiliki masalah dengan pergelangan tangannya karena bertahun-tahun menggunakan mouse. Beruntung, seorang kandidat Ph.D dari University of Delaware bernama Wayne Westerman memiliki masalah yang sama dan menghadirkan solusi yang jitu.

Westerman, sebagaimana termuat dalam arsip The New York Times tertanggal 24 Januari 2002, terkena sindrom lorong karpal (Carpal Tunnel Syndrome), penyakit yang menyebabkan rasa nyeri di pergelangan tangan akibat saraf terjepit. Gangguan ini membuatnya tak bisa mengetik lebih dari satu halaman setiap harinya. Namun, alih-alih menerima kondisi tersebut sebagai takdir, ia mendirikan startup bernama FingerWorks dan melahirkan alat bernama TouchStream Mini dan iGesture Pad untuk komputer Mac dan Windows. Keyboard tanpa tombol dan tablet peka sentuhan pengganti mouse--lengkap dengan kemampuan multi-interaction seperti swipe, pinch, dan double/triple/multi touch. Oh iya, produk ini juga didukung oleh karya disertasi Westerman tentang keyless keyboard (keyboard tanpa tombol) serta bantuan dari pembimbingnya bernama profesor John G. Elias.

Huang dan seluruh anggota tim ENRI terkesima. Usai Huang membeli TouchStream Mini dan iGesture Pad untuk keperluan pribadi, tim ENRI menerjemahkan kemampuan dua alat tersebut ke komputer Mac, khususnya pada modul trackpad. Beberapa lama kemudian, ENRI menerjemahkan kemampuan multi-interaction ini lebih jauh sehingga Macbook untuk memiliki kemampuan touchscreen. Proyek ini akhirnya lebih mudah dilakukan tim ENRI karena Apple membeli startup ini ketika Jobs memikirkan masa depan iPod.

Apple mengambil alih paten-paten FingerWorks dan memerintahkannya untuk tidak mengerjakan proyek serupa untuk Windows (inilah salah satu sebab utama mengapa laptop Windows memiliki trackpad yang sangat buruk dibandingkan Macbook).

Awalnya, tablet Macbook ala tim ENRI memang mirip prakarya anak sekolahan alias tak hendak dijadikan produk utuh. Namun, terpujilah Bill Gates. Kembali merujuk biografi Jobs yang ditulis Isaacson, ada satu orang karyawan Microsoft yang memiliki hubungan perkoncoan dengan istri Jobs, Laurene, dan istri Gates, Melinda. Suatu hari pada 2005, si karyawan Microsoft ini mengadakan acara ulang tahun pernikahannya yang ke-15 dan mengundang Gates dan Jobs. Di acara ulang tahun pernikahan itulah ia membocorkan informasi kepada Jobs bahwa Gates (atau Microsoft) sedang mengembangkan tablet PC--dengan stylus sebagai alat interaksinya.

Bagi Jobs, tablet+stylus adalah kombinasi yang buruk (berkaca pada produk Apple bernama Newton). Jobs pun naik darah, "Asu! Gue tunjukin juga nih gimana caranya bikin tablet yang bener!"

Usai memerintahkan tim ENRI untuk memindahkan kemampuan tablet Macbook pada iPod sebagai pengganti trackwheel dan akhirnya menghasilkan iPhone pada 2007, Apple akhirnya merilis iPad pada 2010. Yang menarik, meskipun tablet ala Apple awalnya digagas sebagai penjelmaan tablet untuk Macbook, iPad lahir sebagai iPhone versi raksasa. Alasannya, pada versi paling awal iPad tersebut, Apple memilih membenamkan iOS (kala itu bernama iPhone OS dan versi yang dibenamkan adalah versi 3.2), bukan Macintosh (kini bernama macOS). Pilihan ini diambil karena jeroan iPad benar-benar menjiplak iPhone. Kala itu, iPad generasi pertama menggunakan SoC Apple A4 (yang dipakai pula pada iPhone 4) dengan RAM sebesar 256 megabita.

Infografik Ipad Pro
Infografik Ipad Pro. tirto.id/Fuad


Berkat iOS, iPad akhirnya hanya mampu menjalankan aplikasi-aplikasi iPhone. Ketika Apple di bawah kendali Tim Cook meluncurkan versi paling canggih iPad, yakni iPad Pro pada 2015, iOS (kala itu namanya telah berganti menjadi iPadOS) tetap menjadi pilihan meskipun Apple gembar-gembor meyakinkan publik bahwa iPad Pro adalah pengganti komputer melalui iklan “iPad Pro, What’s a Computer?”

Walhasil, Apple hanya menempatkan iPad sebagai "pelengkap" iPhone dan Macbook bagi para fanboy, bukan serupa Microsoft Surface yang benar-benar merupakan komputer sungguhan dalam wujud tablet.

Keputusan Apple membenamkan iOS (atau iPadOS) pada iPad tak bisa dibaca berdasarkan pertimbangan hardware semata. Musababnya, semenjak Apple merilis iPad Pro generasi ke-4, SoC Apple A12Z (versi update dari Apple A12X pada iPad Pro generasi ketiga yang dirilis pada 2018) juga digunakan dalam pengembangan macOS untuk prosesor berbasis ARM (yang kini mewujud dalam bentuk Apple M1).

Tak ketinggalan, arsitektur iOS (dan iPadOS) adalah versi macOS yang dilucuti, yang memiliki kakek buyut yang sama bernama NeXTSTEP. Artinya, Apple sesungguhnya memiliki pilihan untuk membenamkan macOS pada iPad sejak dulu. Masalahnya, merujuk laporan kuartal-1 2021 (PDF) saja, lini komputer Mac (Apple menggabungkan hasil penjualan Macbook Air, Macbook Pro, Mac Mini, iMac, dan Mac Pro) adalah penghasil uang sebesar USD 8,675 miliar bagi Apple. Merujuk kinerja Apple sepanjang 2020 (PDF) kemarin, Mac adalah mesin pengeruk uang senilai USD 28,6 miliar. Sumbangsih ini lebih besar dibandingkan iPad.

Apabila Apple membenamkan macOS pada iPad (yang di atas kertas sangat mungkin karena iPad Pro generasi terbaru menggunakan M1), banyak orang diperkirakan akan hanya membeli iPad dan mencampakkan Macbook. Jika ini terjadi, hancurlah Mac--mesin uang terbesar kedua setelah iPhone. Pendapatan Apple pun terkikis.

Tulisan Monica Chin di The Verge yang menyebut Apple "pengecut" karena ogah membenamkan macOS di iPad Pro generasi terbaru kelak hanya jadi bahan tertawaan Tim Cook semata. Tertawa pahit, tentunya.

Urusan duit, Bos!

Baca juga artikel terkait IPAD atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight