Macbook dan Obsesi Jony Ive akan Desain Minimalis

Penulis: Ahmad Zaenudin - 25 Mei 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Usai ditinggalkan Ive, Apple akhirnya mengembalikan beragam port, MagSafe, dan memutar balik obsesi bentuk/ukuran tipis menjadi nilai guna.
tirto.id - Hingga pertengahan 2021, Apple, perusahaan yang didirikan Steve Jobs dan Steve Wozniak lebih dari 46 tahun lalu, terobsesi dengan keindahan. Sekali waktu Jobs mengeluarkan Macbook Air dari dalam amplop coklat berukuran folio pada 2008. Apple menerjemahkan keindahan sebagai ukuran atau bentuk yang tipis.

Pada 2015, standar ukuran ini membuat Apple menghilangkan MagSafe, slot kartu SD, port HDMI, dan lubang headphone jack berukuran 3,5 mm, serta mengganti keyboard universal menjadi "butterfly keyboard". Itu semua dilakukan demi menghasilkan pelbagai produk--khususnya Macbook--yang tipis, "sleekness," nan sedap dipandang mata.

Namun, enak dipandang belum tentu enak digunakan. Gara-gara Apple menanggalkan banyak port, colokan, dari Macbook demi meraih ukuran tipis, Macbook identik dengan "dongle" atau "adaptor". Memaksa penggunanya untuk mambawa alat tambahan (add-on devices) untuk misalnya menghubungkan kamera ke Macbook. Melalui Reddit, para pengguna melimpahkan kekesalan kepada Apple atas "kesengsaraan" menggunakan Macbook.

Obsesi Apple dengan bentuk tipis tak datang tiba-tiba. Adalah Jonathan Paul Ive, sahabat terdekat Jobs sekaligus orang nomor 2 di Apple (setelah Wozniak meninggalkan Jobs dan Apple) yang menjadi pemantik obsesi ini.

Terlahir dari ayah seorang instruktur desain pada Kementerian Pendidikan Inggris, sebagaimana dipaparkan Tripp Mickle dalam After Steve: How Apple became a Trillion-Dollar Company and Lost Its Soul (2022), Ive menyelami dunia desain produk sejak masa belia. Ia dipaksa ayahnya untuk menggambar secara terperinci sebuah produk (sketsa)--sebelum mengubahnya dalam bentuk produk utuh.

Saat duduk di bangku sekolah menengah, tempaan ini membuat Ive berhasil menciptakan sikat gigi paling ergonomis yang pernah dibuat manusia dalam acara desain yang digagas Loughborough University.

"Anak ini benar-benar memiliki bakat luar biasa," ujar Philip Gray, Direktur Pelaksana Robert Weaver Group, firma desain terkemuka di London, Inggris, yang menjadi juri dalam acara tersebut.

"Anak saya itu," kata Michael John Ive bangga.

Melalui sikat gigi paling ergonomis ini, Ive melanjutkan kuliah ke Newcastle Polytechnic. Ia menimba ilmu di kampus paling terkenal untuk urusan desain di seantero Inggris. Pilihan kampus ini mengharuskannya membayar biaya kuliah sebesar 1.500 pound sterling per tahun. Dana itu dipinjami teman sang ayah dengan syarat ia harus bekerja untuk teman ayahnya setelah lulus kuliah.

Keterbatasan dana membuatnya menghemat biaya pengeluaran, termasuk dengan cara menggambar wajah Ratu Elizabeth II secara presisi dalam setiap prangko yang hendak digunakan untuk mengirim surat mengabari keluarganya.

Di kampus yang hanya menerima 25 mahasiswa baru di bidang desain itu, salah satu yang dipalajarinya adalah tentang gerakan penyatuan seni dan desain ala Jerman, juga mempelajari seluk-beluk arsitektur. Saat Ive menimba ilmu, gerakan radikal di dunia desain post-modern yang mencampurbaurkan garis, bentuk, dan warna tengah gencar-gencarnya diimplementasikan.

Merujuk pada lagu bikinan Bob Dylan berjudul "Struck Inside of Mobile with the Memphis Blues Again", gerakan yang dinamai "Memphis" ini seakan tak punya aturan, merancang/mendesain sesuatu tanpa batasan apapun. Ive, yang juga diajari teori Bauhaus, tak suka dengan gerakan Memphis ini. Dalam teori Bauhaus, kesederhanaan adalah jiwa suatu desain/produk.

Infografik Jony Ive
Infografik Jony Ive. tirto.id/Nadya


“Orang-orang selalu berpikir bahwa kesederhanaan adalah ketiadaan kekacauan. Tapi bukan itu inti sesungguhnya. Sesuatu yang benar-benar sederhana dapat mengomunikasikan [desain/produk] apa adanya dengan cara alamiah. Sangat sulit untuk merancang sesuatu yang hampir tidak bisa Anda lihat (alias sangat sederhana) karena terlihat begitu jelas, alami, dan tak terhindarkan,” ungkap Ive kepada John Arlidge, jurnalis Wired, pada 2019.

Setelah lulus kuliah dan sempat bekerja untuk teman ayahnya, Ive akhirnya bergabung dengan Apple. Ia menuangkan obsesinya tentang kesederhanaan melalui pelbagai perangkat bikinan Apple.

Ketika tugasnya untuk merancang desain Apple Watch telah selesai dan Steve Jobs telah tiada, Ive mengundurkan diri dari Apple untuk mendirikan firma desainnya sendiri, LoveForm. Perlahan, meskipun Apple sempat menjadi klien LoveForm, Apple membebaskan diri dari pengaruh desain-desain Ive. Dan pada akhir 2021 lalu, Apple melahirkan Macbook yang berbeda dari obsesi kesederhanaan Ive. Macbook baru ini mengembalikan beragam port, MagSafe, serta memutar balik obsesi bentuk/ukuran tipis menjadi nilai guna.

"Memiliki banyak varian port membuat hidup lebih mudah," tegas Shruti Haldea, Direktur Produk sekaligus Kepala Staf untuk Direktur Utama Apple.

Baca juga artikel terkait JONY IVE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight