Kenangan Ramadan

Lebaran di Munchen: Menu Opor dan Susahnya Cari Tempat Wudu

Oleh: Mawa Kresna - 27 Juni 2017
Dibaca Normal 1 menit
Lebaran kali ini merupakan yang pertama bagi Susi tanpa berkumpul bersama keluarga besarnya. Pada Mei lalu, usai melangsungkan pernikahan di Indonesia, Susi pindah ke Jerman ikut sang suami, seorang pria kewarganegaraan Jerman.
tirto.id - Minggu pagi lalu, Kota Munchen diguyur hujan di tengah musim panas yang sedang berlangsung di Jerman. Sekitar pukul setengah tujuh waktu setempat, Susi Ambi (29) sudah mengenakan jaket dan berjalan dari apartemennya ke Stasiun Stiglmaierplatz, Munchen untuk menunggu kereta dengan tujuan Machlfinger. Susi ingin melaksanakan Salat Id bersama dengan komunitas Muslim Indonesia di sebuah gedung GSG PM3 yang menjadi pusat kegiatan umat Islam dari berbagai negara di Munchen, Jerman.

Sebelum sampai tujuan, sembari menunggu kereta datang, Susi menghubungi orang tuanya yang tinggal di Lombok, NTB. Ia sengaja sejak dini mengucapkan selamat Idul Fitri dan meminta maaf kepada ayah ibunya.

Perjalanan ke Machlfinger tidak lama, hanya butuh 10 menit saja dari Stasiun Stiglmaierplatz. Susi kemudian berjalan ke gedung tempat Salat Id yang berjarak sekitar 20 meter dari stasiun. Ada sekitar 250-an orang Indonesia yang datang untuk salat Id termasuk Susi.

Para umat Muslim tidak mengambil wudu di lokasi salat. Mereka sudah wudu dari kediamannya masing-masing. Sebab pada lokasi gedung yang digunakan untuk salat tidak tersedia tempat wudu. Toilet yang tersedia merupakan toilet kering seperti kebanyakan toilet di Eropa.

“Gedung itu bukan masjid, cuma tempat kegiatan begitu. Sedih sih tahu tempatnya begitu, sempit, kita duduk dempetan susah, tempat wudu juga nggak ada,” ujarnya.

Susi sudah tahu itu, karena itu ia pun sudah wudu dari rumah sebelum berangkat. Sepanjang perjalanan naik kereta ia pun sedikit berhati-hati agar tidak bersentuhan dengan orang yang bukan muhrimnya.

“Tapi ya gimana ya, namanya ramai stasiunnya. Susah juga, tapi yang berusaha tidak bersentuhan,” kata Susi.

infografik Lebaran di Munchen REV



Di sana Susi bertemu dengan Tika, kawan lamanya yang sudah tujuh tahun tinggal di Jerman. Dari keduanya tak banyak obrolan di sana. Begitu sampai, mereka melaksanakan Salat Id, lalu mendengarkan ceramah dalam dua bahasa, Indonesia dan Jerman, dan diakhiri dengan saling bersalaman lalu makan-makan.

“Ceramahnya soal rasa bersyukur, kita diminta banyak bersyukur, meski tahu di sini nggak bareng keluarga. Juga diminta untuk minta maaf kepada orang tua, kepada Allah supaya dimaafkan dosa yang kemarin,” tutur Susi.

Acara makan-makan termasuk yang ditunggu olehnya. Menu makanan itu merupakan sumbangan dari masing-masing warga Indonesia yang datang Salat Id. Ada yang membawa opor ayam dan lontong, ada yang membawa rendang, bakwan dan aneka gorengan serta minuman. Makanan itu dikumpulkan, masing-masing orang bebas memilih makan apa saja. Susi dan suaminya tidak membawa apa-apa.

“Pendatang baru, jadi ya belum bawa makanan apa-apa,” ujarnya terkekeh.

Menyantap opor dalam kondisi hujan terasa nikmat, Susi jadi teringat lebaran di kampung halamannya. Susi ingat rasa opor buatan ibunya yang berbeda dengan opor di Jerman.

“Kalau suasana ya kayak di Indonesia, senang ada orang dari tanah air tercinta. Tapi rasa opor itu tidak bisa dipungkiri beda, mungkin karena santannya bukan santan segar, tapi kemasan,” ungkapnya.

Walau rasanya berbeda Susi tetap melahap habis opor ayam itu. Ia sadar opor ayam adalah makanan yang jarang bisa ditemui di Jerman, bila pun ada harganya pun mahal.

“Aku pernah makan opor ayam gitu, rasanya ala-ala, harganya 19 Euro. Itu belum sama minum. Mahal,” celetuknya.

Meski rasa opor tidak sama seperti di Indonesia dan repotnya Salat Id, Susi tetap merasa gembira. Sebab ini menjadi pengalaman pertamanya lebaran bersama suami.

“Memang ada rasa yang kurang, tapi sekarang kan lebaran bareng suami. Jadi selalu bersyukurlah,” tandasnya.

Baca juga artikel terkait DUNIA RAMADHAN atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Suhendra