Menuju konten utama

Laura Wasser dan Kehidupan Pengacara Perceraian

Di Hollywood, perkara cerai bukan sepele. Jika kamu adalah artis muda kaya raya dan secara impulsif mengajak seorang teman masa kecilmu menikah --halo Britney Spears-- dan dua tahun kemudian kamu sudah bosan dan ingin cerai, maka hal yang kamu lakukan pertama kali adalah mengontak Laura Wasser.

Laura Wasser dan Kehidupan Pengacara Perceraian
Laura Wasser, pengacara spesialis kasus perceraian. Laura berasal dari biro hukum Wasser, Cooperman & Mandles yang berbasis di Los Angeles, hanya menangani klien ultra kaya. [Foto/Shutterstock]

tirto.id - Seorang anak sedang iseng dalam sebuah pertemuan keluarga. Ia mengocok sebuah kaleng cola, kemudian mendiamkannya di tumpukan es batu. Siang sedang terik, dan kamu berpikir bahwa minum sekaleng cola dingin adalah ide brilian. Maka kamu mengambil cola yang ada di tumpukan es, lalu membukanya. Crottt!Cola itu menyembur mukamu. Hal seperti ini tentu tak bisa kau cegah. Sederhana, karena kamu tak tahu.

Begitu pula dengan perceraian.

Orang punya banyak alasan untuk menikah. Melanjutkan keturunan dan menambah populasi manusia di dunia yang sudah sesak. Takut kesepian di hari tua. Karena cinta. Dipaksa orang tua. Atau ingin punya teman berbagi sehari-hari. Apapun alasannya, menjalani pernikahan adalah sebuah upaya berjudi dengan masa depan. Kau tak akan tahu ke mana pernikahan akan membawamu. Bisa saja mahligai kalian abadi dan dibawa hingga liang kubur. Bisa juga berhenti di tengah jalan karena berbagai sebab, termasuk perceraian.

Di Hollywood, perkara cerai bukan sepele. Jika kamu adalah artis muda kaya raya dan secara impulsif mengajak seorang teman masa kecilmu menikah --halo Britney Spears-- dan dua tahun kemudian kamu sudah bosan dan ingin cerai, maka hal yang kamu lakukan pertama kali adalah mengontak Laura Wasser.

Britney melakukan itu. Pada 2004, saat Britney baru berusia 22 tahun, dia mengajak Kevin Federline, kawan masa kecil yang berprofesi sebagai penari latar, untuk menikah di Las Vegas. Masalahnya adalah: Britney saat itu sedang ada di puncak ketenaran sebagai artis idola. Albumnya terjual 27 juta keping. Kekayaannya diperkirakan mencapai 30 juta dolar. Setelah tahu pernikahan dadakan ini, tim manajemen Britney langsung mengontak tiga pihak: perencana pernikahan, pembuat perhiasan, dan Laura Wasser.

Laura adalah pengacara spesialis kasus perceraian. Bukan sembarang perceraian. Laura, yang berasal dari biro hukum Wasser, Cooperman & Mandles yang berbasis di Los Angeles, hanya menangani klien ultra kaya.

"Kami selalu sibuk," kata Dennis Wasser, ayah Laura yang mendirikan biro hukumnya pada 1976.

"Orang di California Selatan selalu bercerai. Selalu. Klien kami adalah orang-orang penting. Kalau mereka tidak punya kekayaan minimal 10 juta dolar, kami akan mereferensikan pengacara lain," kata si ayah pada Bloomberg.

Pagi itu, Dennis dan Laura duduk di ruangan Laura. Dennis tampak seperti pengacara yang bisa kamu temui di film John Grisham manapun. Dia serupa sosok Cameron Dennis di film serial Suits, pengacara yang liat dan tenang. Rambutnya berwarna keperakan. Hari itu dia mengenakan setelan jas berwarna beige, kemeja motif kotak, dan dasi berwarna ungu. Sedangkan Laura terkesan lebih santai dan chic dengan mengenakan blouse berwarna hitam tanpa lengan. Rambut ginger brown-nya tergerai hingga bawah bahu.

Selama puluhan tahun, kantor Wasser, Cooperman & Mandles berada di lantai 12 menara Century Plaza. Kantor Laura minimalis dan punya aura menenangkan. Kalau ada klien, Laura akan menjamunya di dua kursi berwarna hijau yang langsung berhadapan dengan kursi dan meja kacanya.

"Kalau orang mencari di internet, orang akan tahu siapa saja klien kami," kata Dennis.

"Mereka udah tahu, Yah," Laura menyela.

"Ya siapa tahu mereka belum..."

"Mereka tahu kok."

Laura tersenyum, seperti meminta pemakluman atas debat kecil di depan layar barusan. Ini sudah hal biasa. Menurut pengakuan sang ayah, sejak umur 9 tahun Laura sudah bisa berlagak seperti pengacara: tenang, berani, negosiator ulung, dan tahu bagaimana mengutip uang jasa. Saat itu Laura datang ke ruang tamu menemui ayahnya, dan menuntut agar sang ayah memberi uang saku untuk adiknya.

"Dia mendapatkan tuntutannya. Dan dia mengambil persentase dari uang jajan adiknya," kata Dennis pada New York Times.

Nama Laura sudah lama terdengar di jagat hukum Amerika Serikat. Wasser, nama turunan dari bapaknya, seperti bersinonim dengan kata perceraian selebriti. Si bapak mulai dikenal dunia saat mewakili Billie Jean King, mantan petenis perempuan nomer satu sejagat, yang menghadapi gugatan mantan kekasih sesama jenisnya. Di pengadilan, Billie Jean mengakui kalau dirinya adalah seorang lesbian.

"Kasus itu membuat kami masuk ke halaman depan semua koran di dunia," kata Dennis yang memenangkan kasus itu.

Sekarang Dennis sudah berusia 73 tahun. Di belahan dunia manapun, kebanyakan pria seusianya akan tenang menikmati masa pensiun. Tapi tidak dengan Dennis. Dia masih berpraktik. Kasusnya memang lebih sedikit, tapi khusus klien kelas paus. Dennis mematok tarif 950 dolar per jam.

Laura bergabung di firma hukum ayahnya pada 1995. Saat itu dia masih berumur 26 dan baru lulus dari Sekolah Hukum Loyola, dan sedang menghadapi proses cerainya sendiri. Sebelumnya dia menangani kasus-kasus kebijakan publik. Kariernya di dunia perceraian artis dimulai dengan alasan sederhana: fulus. Setelah cerai dan kemudian jadi orang tua tunggal bagi dua orang anak (yang lahir setelah perceraian), dia butuh uang. Maka dia pindah ke bagian perceraian dengan dibimbing oleh partner sang ayah, David Rosenson.

Sebagai anak bawang di dunia perceraian, kasus awal Laura hanya kelas teri. Hal ini terjadi selama nyaris 6 tahun. Barulah pada 2001, dia berpartner dengan koleganya, Johnnie Cochran untuk mewakili penyanyi Stevie Wonder yang digugat 30 juta dolar oleh mantan pacarnya. Kasusnya berakhir dengan jalan mediasi.

"Stevie tidak akan mengambil tindakan sebelum konsultasi dengan Laura," kata Dennis.

Dari sanalah pintu menuju Hollywood mulai terbuka. Klien besar pertama Laura adalah Alec Baldwin yang pada 2002 sedang mengajukan proses cerai dengan Kim Basinger. Tapi baru beberapa bulan, Alec memutuskan untuk menghentikan kerja sama itu. Pasalnya tarif Laura yang mencapai 850 dolar per jam itu dianggap terlalu mahal. Belum lagi harus ada deposito awal sebesar 25 ribu dolar.

"Keluarga Wasser mengira aku seperti Tom Cruise yang amat sukses dan kaya sehingga ongkos pengacara itu enteng belaka. Well, aku bukan Tom Cruise. Aku tidak punya uang sebanyak dia," kata Alec merutuk.

Kalau kamu belum punya bayangan semahal apa ongkos Laura, mari kami ilustrasikan. Pada 2011, Biro Tenaga Kerja Amerika Serikat merilis data rata-rata pemasukan pengacara. Setiap tahun, seorang pengacara bekerja sekitar 2.096 jam. Tarif dasar mereka sekitar 62 dolar per jam. Jadi seorang pengacara di firma hukum menengah, bisa mendapat pemasukan 130 ribu dolar per tahun. Sedangkan pengacara di firma hukum besar dengan pengalaman kerja minimal 10 tahun, pendapatan per tahun bisa mencapai 246 ribu dolar, dengan tarif per jam sekitar 117 dolar.

Jadi bisa bayangkan betapa mahal tarif Laura kan? Dengan tarifnya sekarang, dia bisa mendapatkan 1,7 juta dolar per tahun, atau sekitar Rp22,9 miliar per tahun. Jauh melampaui para pengacara lain. Semua biaya mahal itu dibayar tuntas dengan kerja yang memuaskan. Setidaknya itu menurut pengakuan kliennya. Kalau tidak percaya, coba tanya Angelina Jolie.

Tahun 2003, Jolie bercerai dengan Billy Bob Thornton. Dia menunjuk Laura sebagai pengacara. Tahun ini, Jolie mengajukan cerai dari Brad Pitt. Kembali, Laura yang ditunjuk sebagai pengacara. Jolie tak sendiri dalam hal mempercayai Laura. Selama kariernya, Laura sudah menangani kasus perceraian atau perpisahan Ryan Reynolds, Melanie Griffith, Denise Richards, Heidi Klum, Ashton Kutcher, Johnny Depp, dan Kim Kardashian. Media dan publik menjuluki Laura sebagai Disso Queen, dari kata dissolution, alias perpisahan.

Kerjanya memang berat. Selain mengurusi klien dan "musuh", Laura juga harus jadi juru bicara. Dia harus menghadapi media Hollywood yang terkenal sadis dan seringkali tak tahu aturan. Apalagi TMZ, media gosip yang kerap dijuluki 'hewan buas' dalam mengejar gosip selebriti. Di sana, Laura berperan sebagai penghalau hewan buas bernama media. Dia akan berperan baik sebagai pengalih perhatian media dari kliennya.

"Aku tidak pernah berbicara soal klienku pada wartawan. Aku akan bicara soal diriku sendiri. Juga soal bajuku. Tapi aku tak pernah bicara soal klienku," katanya suatu ketika.

Menurut para klien, Laura bukan tipikal pengacara yang emosional. Dia tenang dan logis. Bukan pengacara yang beralih wujud sebagai sahabat, yang mendengarkan keluh kesah lalu memeluk dan menguatkan. Tapi dia tetap komunikatif dan membuat kliennya nyaman untuk mengobrol. Di momen emosional seperti proses perceraian, sikap Laura yang dingin, nyaris tanpa emosi, tapi tetap logis dan runut inilah yang dibutuhkan.

Laura juga sangat dipercaya karena bisa membawa kasusnya ke balik kelambu. Tenang dan nyaris tanpa publikasi. Walau ini sedikit ironis, karena para kliennya kebanyakan hidup dari publikasi. Tapi karena itu, banyak klien yang menaruh rasa percaya padanya.

"Aku sangat percaya Laura. Dia adalah suara yang melegakan dalam momen ketidakpastian," kata Kim Kardashian, yang sudah dua kali menggunakan jasa Laura.

Dalam sebuah wawancara bersama tabloid selebriti, Laura punya tips agar tetap logis dan tak terbawa emosi kliennya. "Jadi," katanya, "perlakukan kasus perceraian seperti transaksi bisnis biasa. Jika lawanmu bersikap brengsek, kamu tak perlu terbawa jadi brengsek."

Selama bekerja, ada banyak hal menarik yang dia temui. Semisal, dari pengamatannya, bulan dengan tingkat perceraian paling tinggi adalah Januari dan Februari. Itu adalah momen setelah musim liburan usai. Dan, kata Laura, saat itu orang sudah selesai berpura-pura bahagia. Atau: pengacara lebih sering memasukkan berkas kasusnya pada musim panas, pada hari Jumat atau sebelum libur akhir pekan. Dan kalau memungkinkan, bersamaan dengan kasus cerai selebriti lain. Hal ini dilakukan supaya pemberitaan media tidak banyak.

Saat ini Laura sedang menangani 45 kasus, sebagian besar adalah kasus perceraian. Beberapa kasusnya baru akan diajukan setelah Maret, setelah perhelatan Oscars. Menurutnya, beberapa kliennya tidak mau datang ke acara penting itu sendirian. Sudah menangani kasus perceraian sejak 20 tahun lalu, bisa dibilang Laura sedikit antipati terhadap pernikahan. Pada majalah Interview, Laura punya satu tips untuk pernikahan: jangan dilakukan.

"Aku tidak tahu apakah manusia ditakdirkan berganti pasangan terus-terusan sepanjang hidup, ataukah monogami," katanya. "Tapi menurutku, yang bermasalah dari pernikahan adalah urusan hukum yang diatur oleh negara. Dan aku tak mau negara mencampuri urusan privatku."

Ini bukan berarti Laura tidak percaya cinta. Dalam wawancara bersama Bloomberg, dia percaya pernikahan bisa langgeng asal diusahakan. Paling tidak dengan jalan komunikasi yang jujur dan saling menghormati. Karenanya, Laura masih sering mendatangi pernikahan kliennya, entah itu yang kedua, ketiga, atau keempat kalinya.

Dan tentu saja, para kliennya itu tahu ke mana mereka harus pergi saat pernikahannya gagal.

Baca juga artikel terkait HUKUM atau tulisan lainnya dari Nuran Wibisono

tirto.id - Hukum
Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti