Pius Ginting
Kordinator Perkumpulan Aksi Ekologi & Emansipasi Rakyat (AEER)

Lampu Kuning Produksi Nikel untuk Baterai Kendaraan Listrik

20 Februari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Film seri Blue Planet yang dinarasikan naturalis David Attenborough sukses menggambarkan kehidupan spesies laut dalam. Film itu menuturkan bahwa kemampuan laut mendaur material yang dilepaskan manusia ke dalam laut bukannya tak terbatas. Pengaruh industri bagi kehidupan laut kian berjejak luas membuat spesies dan produktivitas laut dalam kian berkurang. Laut dalam tak sepenuhnya terpisah bagi kehidupan laut permukaan, karena fenomena arus naik ke permukaan, upwelling, membawa nutrisi dari bagian bawah ke permukaan laut.

Integritas sistem kehidupan laut terancam rusak bila praktek pembuangan limbah pengolahan bijih tambang ke laut terus berlanjut. Sayangnya, kini industri pengolahan nikel baterai kendaraan listrik mendesak diperbolehkannya pembuangan limbah pengolahan bijih ke laut.

Kendaraan bermotor adalah sumber polusi udara utama di perkotaan. Mengatasi persoalan ini, industri dan pemerintah beberapa negara Eropa dan Tiongkok tawarkan peralihan ke kendaraan listrik: menghentikan penjualan kendaraan bahan bakar fosil tahun 2030-2040. Pemerintah Indonesia pun merencanakan agar ibu kota baru menggunakan kendaraan listrik.

Kendaraan listrik punya satu komponen penting, yakni baterai yang berdaya simpan tinggi akan energi listrik untuk mencapai kemampuan jarak tempuh kompetitif dibandingkan kendaraan bahan bakar fosil. Nikel salah satu bahan baku penting, bahkan volumenya berpersentase terbanyak dalam tiap unit baterai kendaraan listrik. Nikel juga lebih murah dibandingkan cobalt—yang dihasilkan Kongo sebagai produsen utama saat ini. Baterai kendaraan listrik kian banyak digunakan jenis NMC 811, singkatan Nickel, Manganese, Cobalt dengan perbandingan berat 8:1:1. Persentase nikel adalah yang terbanyak.


Sebelumnya bijih nikel kadar rendah (limonite) dibiarkan tertinggal di daerah tambang tak direhabilitasi. Sebagian tererosi ke daerah pantai membuat sedimentasi parah kawasan pesisir, hancurkan perikanan lokal seperti di Tambea, Sulawesi Tenggara. Kini, teknologi proses HPAL (High Pressure Acid Leach) dinilai bisa diterapkan secara ekonomis mengolah nikel kadar rendah menjadi baterai kendaraan listrik.

Berbeda dengan nikel untuk stainless steel yang menggunakan suhu dan tekanan tinggi (pyrometalurgy) serta tidak menghasilkan limbah pengolahan tailing, teknologi HPAL menghasilkan limbah tailing. Hal ini mencuatkan persoalan lingkungan besar: di mana pembuangan akhirnya? Karena lokasi pengolahan umumnya di tepi laut, ada keinginan industri agar laut jadi tempat pembuangan.

Sebuah perusahaan yang menerapkan teknologi HPAL di Pulau Obi, Maluku Utara menyebutkan dari 7,6 juta bijih nikel kadar rendah akan menghasilkan 51,9 juta ton tailing. Ada enam proyek pengelolaan HPAL yang sedang dibangun, di antaranya di Morowali Sulawesi Tengah, Weda Maluku Utara, Konawe Utara Sulawesi Selatan.

Ekosistem laut yang sehat penting bagi kehidupan nelayan, kelangsungan keragaman hayati. Ekosistem laut yang sehat juga menyimpan potensi bagi kesehatan, pengobatan, dan produk nelayan aman konsumsi. Mark J. Costello dari (Institute of Marine Science, University of Auckland, Selandia Baru) dalam sebuah kajiannya menyatakan laut wilayah tropis punya keragaman hayati lebih kaya dibanding laut garis lintang lain. Laut Indonesia bagian timur kaya keragaman hayati yang dinamakan Coral Triangle.

Karena terdapat fenomena upwelling, pembuangan limbah ke kedalaman lebih 200 meter tidaklah aman di banyak tempat di laut Indonesia. Noir P. Purba (Departemen Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran) menyatakan upwelling membawa nutrisi laut bagian dalam ke permukaan sehingga laut permukaan menjadi produktif bagi perikanan dan keragaman hayati. Lokasi terjadinya upwelling berklorofil tinggi berperan dalam fotosintesis penyerapan karbon.


Pemerintah Indonesia sukses membuat UNFCC mengakui pentingnya peran laut sebagai medium pengurangan emisi gas rumah kaca di pertemuan perubahan iklim Madrid, Desember 2019. Inisiatif ini akan ternegasikan bila pembuangan limbah pengolahan nikel untuk produksi baterai kendaraan listrik ke laut diperbolehkan.

Di samping itu, semua proyek HPAL dibangun saat ini menggunakan PLTU Batu bara, bahan bakar tertinggi yang mengeluarkan emisi gas rumah kaca dari tiap unit energi yang dihasilkan. Niat pengurangan emisi gas rumah kaca dari peralihan ke kendaraan listrik justru berpeluang menghasilkan dampak yang berkebalikan dari yang diharapkan jika dilihat prosesnya dari hulu ke hilir.

Negara mulai mempromosikan kendaraan listrik yang mampu menjaga udara agar tetap bersih. Namun, penduduk sekitar lokasi pabrik pengolahan nikel baterai menderita polusi udara dari pembakaran batu bara serta kerusakan ekosistem laut. Di situlah timbul ketidakadilan ekologi.

Prinsip kehati-hatian dan daya dukung lokasi pengolahan seharusnya jadi panduan penentuan kapasitas produksi. Kapasitas pengolahan semestinya tidak melebihi kemampuan sebuah pulau menampung dan mengasimilasi limbah sehingga pembuangan limbah tailing ke laut dapat dihindarkan. Yang perlu dikedepankan adalah gaya hidup penggunaan transportasi publik, bukan penggunaan kendaraan listrik pribadi di daerah perkotaan.

Pembuangan ke laut berdalih curah hujan tinggi atau ke daerah gempa adalah praktik bisnis yang memaksimalkan produksi dan keuntungan—namun merusak laut publik—bertentangan dengan semangat penyelamatan ekologi yang kian kuat saat ini.

Kisah klasik produksi minyak sawit yang menyebabkan kerusakan hutan dan kawasan gambut semestinya memang tidak terulang dengan kerusakan laut dalam produksi nikel untuk baterai kendaraan listrik.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.
DarkLight