Kongkalikong Industri Gula dengan Ilmuwan

Oleh: Maulida Sri Handayani - 21 September 2016
Dibaca Normal 2 menit
Ilmuwan Harvard dibayar oleh industri gula supaya menyalahkan lemak sebagai penyebab sakit jantung.
tirto.id - Hingga kini, penyakit jantung koroner adalah salah satu penyakit penyebab kematian tertinggi di dunia. Para promotor gaya hidup sehat pun kerap mengampanyekan untuk berhenti merokok dan mengurangi konsumsi makanan berlemak agar terhindar dari penyakit itu.

Tingginya angka kematian karena penyakit jantung koroner itu diendus sejak 50an tahun lalu di Amerika Serikat. Seperti ditulis Cristin E. Kearns, dkk, dalam jurnal JAMA Internal Medicine, tingginya angka kematian akibat PJK itu mendorong penelitian-penelitian ihwal peran asupan makanan. Jenis nutrisi apa yang menyebabkan sakit jantung? Semua yang dicurigai diperiksa, mulai dari kolesterol, fitosterol, kalori berlebih, asam amino, lemak, karbohidrat, vitamin, sampai mineral.

Pada 1960, penelitian-penelitian itu mengerucut menjadi dua aliran. Penelitian John Yudkin mengidentifikasi tambahan gula sebagai agen utama PJK. Di sisi lain, Ancel Keys menunjuk lemak secara keseluruhan, lemak jenuh, dan diet kolesterol sebagai penyebab penyakit itu.

Yang menarik, Kearns menemukan sejak dekade itu penelitian-penelitian ihwal penyakit jantung koroner banyak dibiayai oleh industri gula. Ujungnya adalah yang terpatri dalam panduan makanan untuk orang Amerika atau Dietary Guidelines for Americans ihwal penyakit jantung koroner: lemak dan kolesterol harus dikurangi jika seseorang ingin terhindar dari penyakit jantung koroner.

Follow the Money: Project 226

Pada 11 Juli 1965, New York Herald Tribune menurunkan laporan satu halaman yang menyebut bahwa penelitian baru menghubungkan antara makanan dan penyakit jantung. Artikel itu menjelaskan, selama ini memang faktor gula terhadap aterosklerosis (berkeraknya dinding dalam pembuluh arteri) hanya didukung sedikit hasil penelitian, namun kemudian ada penelitian yang menguatkan tesis gula meningkatkan risiko penyakit jantung.

Tak lama setelah turunnya artikel itu, terjadi tawar menawar antara Sugar Research Foundation (SRF)—sekarang bernama Sugar Association (SA)—dengan tiga ilmuwan Harvard: peneliti Hegsted dan McGandy, serta Stare sebagai pengawas. SRF awalnya menawarkan uang setara $3.800 nilai sekarang dan $7.500 buat Gandy. Tapi akhirnya SRF merogoh kocek lebih banyak: hampir $50 ribu.

Peruntukannya: sebuah artikel yang mengulas beberapa makalah yang menunjukkan bahaya metabolisme dalam sukrosa dan, khususnya, fruktosa.

Proyek penelitian itu bernama Project 226, yang terdiri dua bagian ulasan literatur berjudul “Dietary Fats, Carbohydrates and Atherosclerotic Disease,” terbit pada 1967. Pihak yang membiayai penelitian eksperimentalnya memang dinyatakan dalam tulisan itu, tapi soal pembiayaan SRF untuk ulasannya sama sekali tak disebut.

Ulasan yang diterbitkan jurnal prestisius New England Journal of Medicine itu—tentu Anda sudah bisa menebak—menyimpulkan bahwa orang bisa mencegah penyakit jantung koroner dengan mengurangi makanan berkolesterol dan mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh. Seperti dalam iklan-iklan minyak goreng.

Kolusi Industri dan Ilmuwan

Kini, orang-orang yang terlibat dalam kongkalikong itu sudah meninggal. Tapi Anda perlu melihat betapa berpengaruhnya posisi mereka. Mark Hegsted kemudian menjadi kepala bagian nutrisi di Departemen Pertanian Amerika Serikat. Pada 1977, ia termasuk yang merancang panduan makan pemerintahan federal. Sedangkan Dr. Fredrick J. Stare, yang menjadi supervisor penelitian itu, adalah ketua departemen nutrisi di Harvard.

The New York Times menulis, meski penelitian itu itu ditulis hampir 50 tahun lalu, laporan-laporan terkini menunjukkan bahwa industri makanan masih terus melakukan modus yang sama untuk mempengaruhi ilmu nutrisi.

Tahun lalu misalnya, The New York Times mengungkap soal Coca Cola yang mengeluarkan uang jutaan dolar untuk membiayai penelitian-penelitian yang mengecilkan keterkaitan antara minuman bergula dengan obesitas. Pembingkaian parah juga dilakukan oleh perusahaan permen yang mengklaim bahwa anak-anak yang suka makan permen cenderung lebih kurus dibanding mereka yang tak makan permen.

Ironisnya, pihak Sugar Association merespons dengan enteng temuan dokumen sejarah ini. Menurut mereka, saat penelitian itu diterbitkan pada 1967, jurnal-jurnal ilmu medis biasanya tak meminta para peneliti untuk membuka sumber pendanaannya. The New England Journal of Medicine yang memuat jurnal itu baru meminta agar peneliti melaporkan pendanaan pada 1984.



Mereka membela diri dengan mengatakan bahwa penelitian-penelitian yang didanai industri memainkan peran penting dan informatif dalam debat keilmuan. Beberapa dekade penelitian, menurut mereka, memang menunjukkan bahwa gula tak punya peran khusus dalam penyakit jantung.

Salah satu penulis penelitian yang membuka skandal ini, Stanton Glantz, mengatakan skandal itu berhasil membuat orang tak membicarakan gula selama puluhan tahun. Maka menurutnya, penemuan ini penting karena perdebatan 'gula vs lemak jenuh' ini masih berlangsung hingga kini.

Selama puluhan tahun, pegawai-pegawai kesehatan mendorong orang Amerika agar mengurangi asupan lemak. Yang terjadi, mereka mengkonsumsi makanan rendah lemak tapi bergula tinggi, hal yang menurut banyak ahli menyebabkan krisis obesitas.

Menurut Glantz, apa yang dilakukan industri gula itu hal yang sangat cerdas. “[...S]ebab tulisan-tulisan ulasan, terutama yang diterbitkan dalam jurnal terkemuka, cenderung membentuk semua diskusi keilmuan," katanya seperti dikutip The New York Times.

Persoalannya, kongkalikong Sugar Research Foundation dengan para ilmuwan itu adalah tindakan curang—jika tak bisa dibilang korup. Kolusi semacam itu bukan hanya merusak persepsi publik soal satu penyakit—dalam hal ini jantung—tapi juga menggerogoti profesi ilmuwan.

Ilmuwan seharusnya punya etos untuk menyajikan hasil penelitiannya secara jujur pada publik. Ketika ia ketahuan tak jujur, seperti diungkap dalam penelitian Cristin Kearns, dkk, khalayak bisa kehilangan kepercayaannya terhadap ilmuwan. Juga terhadap otoritas keilmuan.

Setidaknya, satu pertanyaan akan muncul: Jika ilmuwan bisa dibayar untuk menghasilkan kesimpulan yang menguntungkan industri, masih relevankah mempercayai para ilmuwan dan produk yang dihasilkannya?

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan menarik lainnya Maulida Sri Handayani
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Maulida Sri Handayani
Penulis: Maulida Sri Handayani
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti