Menuju konten utama

Kondisi Terkini Perang Iran: Pembangkit Listrik Kuwait Diserang

Iran menggempur pembangkit listrik dan perusahaan desalinasi air milik Kuwait. Selain itu, tiga kapal Cina diancam tidak diperbolehkan lewat Selat Hormuz.

Kondisi Terkini Perang Iran: Pembangkit Listrik Kuwait Diserang
Ilustrasi Kuwait. Doc: x.com/@UK_MTO

tirto.id - Kondisi terkini Perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel masih menunjukkan serangan yang terjadi di kawasan Teluk Persia. Terbaru, pembangkit listrik Kuwait diserang dan seorang pekerja terbunuh karenanya.

Kementerian Kelistrikan Kuwait menyatakan pada Senin (30/3/2026) bahwa serangan di sebuah fasilitas pembangkit listrik dan pabrik desalinasi air itu merupakan serangan Iran.

"Sebuah gedung layanan di pembangkit listrik dan pabrik desalinasi air diserang sebagai bagian dari agresi Iran terhadap negara Kuwait," tulis keterangan Kementerian Kelistrikan Kuwait, dinukil dari Al Jazeera.

Pemerintah Kuwait mengonfirmasi "kematian seorang pekerja India" dalam serangan tersebut. Serangan itu juga dilaporkan mengakibatkan "kerusakan material yang signifikan pada bangunan".

Pabrik desalinasi air merupakan salah satu fasilitas krusial bagi negara-negara di kawasan Teluk. Kondisi iklim dan penipisan cadangan air tanah purba di kawasan tersebut telah membuat banyak negara Teluk bergantung pada pabrik desalinasi untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih.

Sejauh ini, belum ada keterangan resmi dari Teheran tentang serangan pada fasilitas pembangkit listrik dan pabrik desalinasi air itu. Namun, Kuwait merupakan salah satu negara Teluk yang jadi target serangan Teheran sejak pecah peperangan pada 28 Februari lalu.

Pada Minggu (29/3/2026), Kementerian Pertahanan Kuwait baru saja melaporkan serangan 14 rudal dan 12 drone yang menargetkan sebuah kamp militer. Serangan itu menyebabkan 10 tentara terluka dan mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.

Serangan Iran ke pabrik desalinasi air di Kuwait telah mengkhawatirkan banyak pihak akan eskalasi konflik di Teluk. Hal ini berbarengan dengan ketidakpastian upaya de-eskalasi konflik antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran.

Wawancara Presiden AS Donald Trump dengan The Financial Times yang dirilis pada Senin mengungkap potensi eskalasi konflik jadi pertempuran darat. Trump menyebut bahwa ia memiliki opsi pengerahan ribuan prajurit Angkatan Darat untuk merebut Pulau Kharg milik Iran di sekitar Selat Hormuz.

"Mungkin kami merebut Pulau Kharg, mungkin juga tidak. Kami memiliki banyak pilihan," kata Trump, dikutip dari AP.

Beberapa Kapal Cina Diancam IRGC di Selat Hormuz

Ketegangan juga terus terjadi di Selat Hormuz. Beberapa kapal Cina dilaporkan telah diancam oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) ketika hendak melewati selat tersebut.

Seturut Fox Business, setidaknya tiga kapal terkait dengan Cina terpaksa berbalik arah secara tiba-tiba ketika hendak menyeberangi Selat Hormuz pada Jumat (27/3). Ini menandai situasi tak biasa antara Teheran-Beijing yang selama ini dikenal sebagai mitra strategis.

Menurut layanan pelacakan kapal Marine Traffic dan kelompok riset FDD, dua kapal yang berbalik arah tersebut teridentifikasi sebagai milik perusahaan pelayaran asal Cina, Cosco Shipping. Kedua kapal itu adalah CSCL Indian Ocean dan CSCL Arctic Ocean.

Sedangkan, satu kapal lainnya teridentifikasi sebagai Lotus Rising. Kapal ini dimiliki oleh perusahaan asal Hong Kong.

Ketiga kapal dilaporkan berbalik arah di sekitar Pulau Larak, pulau yang kini digambarkan sebagai "pos tol" de facto Iran. Sebelumnya IRGC disebut telah menerapkan pembayaran biaya dalam yuan sebagai syarat bagi kapal di Selat Hormuz untuk melewati area sekitar Pulau Larak.

Kapal-kapal yang tidak memenuhi persyaratan dari IRGC itu dilaporkan akan dianggap sebagai pendukung AS dan Israel, serta mitra mereka di Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

Belum jelas mengapa kapal-kapal yang terafiliasi dengan Cina tersebut tak dapat melewati Hormuz, dan kapal milik Cosco Shipping dilaporkan telah mengunjungi pelabuhan di negara-negara musuh Iran sejak Februari.

Seturut media maritim Lloyd's List, kapal milik Cosco pernah berlabuh di Jebel Ali di Dubai; Dammam di Saudi; dan Pelabuhan Khalifa di Abu Dhabi, UAE.

Meski begitu, hal ini tetap menandai situasi tak biasa, terutama setelah Iran sebelumnya menyatakan bahwa Cina dan negara sahabat lain macam Rusia dan India dapat melewati Hormuz dengan aman.

Seturut Reuters, CSCL Indian Ocean dan CSCL Arctic Ocean juga diketahui telah menyiarkan pesan pada sistem identifikasi berisi keterangan bahwa pemilik dan awak kapal tersebut adalah berkebangsaan Cina. Namun, upaya tersebut tampaknya dianggap tak cukup bagi otoritas IRGC di pos pemeriksaan.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar