Kloset-Kloset Jepang yang Membingungkan

Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra - 22 Januari 2017
Dibaca Normal 1 menit
Seperempat turis asing di Jepang bingung dengan penggunaan tombol-tombol di toilet.
tirto.id - Kloset di toilet-toilet umum di Jepang sudah jauh lebih maju dari yang ada di Indonesia. Teknologi kloset yang digunakan di Jepang bahkan sudah melampaui negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia.

John Daub, reporter NHK World yang sudah menetap di Jepang selama lebih dari 17 tahun, membuat video khusus tentang kloset yang digunakan di toilet-toilet di Jepang. Dalam video yang diunggah di YouTube itu, John mengundang temannya, Joseph Tame.

“Pertama kali aku ke Jepang, untuk pertama kali pula aku melihat toilet yang memiliki begitu banyak tombol, lebih banyak dari tombol remote TV di rumahku,” kata Tame kepada Daub pada awal video. Daub lalu mengajak Tame mengunjungi galeri pameran Toto, salah satu produsen kloset terbesar di dunia.

Di galeri itu mereka mencoba pelbagai fitur kloset. Dari fitur musik sampai fitur kloset, yang bisa membersihkan dirinya sendiri.

Video berdurasi 9 menit 20 detik itu menunjukkan betapa kloset-kloset di Jepang sudah sangat hemat air. Jika kloset pada umumnya menghabiskan 13 liter air untuk sekali flush atau proses penyiraman, sebagian besar kloset di Jepang hanya menghabiskan 3,8 liter air.

Kloset berteknologi tinggi ini memiliki cukup banyak tombol, setidaknya ada delapan tombol yang bisa digunakan untuk membuka penutup kloset, menyiram dari arah yang berbeda, mengeringkan, menarik tampon, memutar musik, hingga mengatur temperatur air.

Kloset-kloset tersebut tak hanya tersebar di tempat-tempat mewah seperti hotel dan restoran. Ia bisa ditemui di toilet-toilet umum hingga ke rumah-rumah warga. Namun, kecanggihan toilet itu tak melulu sejalan dengan kenyamanan.

Pada 2014, sebuah survei terhadap 600 wisatawan asing di Jepang menunjukkan bahwa seperempat turis kesulitan memahami makna beberapa simbol yang ada pada kloset. Memang, tak semua kloset menggunakan tombol berbahasa Inggris. Beberapa kloset hanya menggunakan tombol berbahasa Jepang.

Rovindo Maraden, mahasiswa Jepang asal Indonesia, menilai meskipun tak menggunakan Bahasa Inggris, simbol yang dipakai pada tombol di kloset sebenarnya cukup jelas.

“Anak muda yang sudah akrab dengan teknologi dan simbol-simbol tentu tidak kesulitan, karena menurutku simbolnya cukup jelas, meskipun menggunakan bahasa Jepang,” katanya kepada Tirto.

Namun, menurut Rovindo, bagi orang tua yang gagap teknologi, tombol-tombol itu bisa jadi memusingkan. Apalagi, tiap produsen kloset menggunakan jenis simbol yang berbeda. Jadi, simbol pengering antara satu produsen dan produsen lain tidaklah sama.

INFOGRAFIK Toilet Jepang


Sebenarnya, belum semua toilet di Jepang menggunakan kloset hi-tech. Rovindo memaparkan, di beberapa toilet umum, seperti di stasiun-stasiun, masih ditemuinya kloset biasa, yang hanya punya tombol flush, atau bahkan toilet jongkok.

“Di beberapa stasiun atau restoran, masih ada kok kloset biasa. Cuma ya biasanya ada pilihannya, yang jongkok, yang biasa, atau yang banyak fiturnya itu,” jelasnya.

Tahun 2020 nanti, Jepang akan menjadi tuan rumah Olimpiade. Atlet-atlet beserta pendukung dari seluruh dunia akan berkumpul di negeri itu. Untuk menjamin kenyamanan para pengunjung pada 2020 mendatang, Jepang menyamakan standar simbol pada tombol-tombol kloset.

Dilansir dari The Guardian, sembilan produsen peralatan sanitasi di Jepang telah sepakat melakukan standardisasi piktografi pada kloset buatan mereka sehingga pengguna bisa dengan mudah mengetahui fungsi dari tiap tombol. Simbol-simbol pada tombol pun akan disederhanakan. Hal ini dilakukan sebagai respons atas keluhan para turis asing yang bingung dengan simbol berbeda di sejumlah toilet.

Pemerintah Jepang juga mempertimbangkan mengubah simbol lain yang membuat bingung atau menyinggung pengunjung dari luar negeri. Para produsen seperti Toto menganggap standardisasi ini sebagai hal yang baik. Sebab kenyamanan bagi pengunjung dari luar negeri bisa menjadi peluang bisnis bagi mereka.

Baca juga artikel terkait TEKNOLOGI atau tulisan menarik lainnya Wan Ulfa Nur Zuhra
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti