Menuju konten utama

Kisah WNI Flotilla Ungkap Penyiksaan Brutal di Penjara Israel

WNI relawan Global Sumud Flotilla mengungkap penyiksaan di penjara Israel. Mereka dipukul, disetrum, diguyur air hingga ditelanjangi.

Kisah WNI Flotilla Ungkap Penyiksaan Brutal di Penjara Israel
Pengunjuk rasa membentangkan poster dalam aksi solidaritas untuk jurnalis dan aktivis GSF 2.0 di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (21/5/2026). ANTARA FOTO/Didik Suhartono/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam gerakan Global Sumud Flotilla (GSF) menceritakan kisah saat mereka berada di penjara Israel. Penyiksaan fisik menjadi salah satu hal yang mereka dapatkan.

Jurnalis Tempo Andre Prasetyo Nugroho menyebutkan, kapal yang ia tumpangi saat menuju Gaza, Palestina, dihentikan tentara Israel pada Senin (18/5/2026). Andre, WNI lain, serta aktivis GSF, kemudian dimasukkan dalam penjara yang berada di sebuah kapal.

"Saya habis itu dimasukkan ke dalam kapal penjara, kapal penjara besar, kapal milik IDF tentara Zionis. Terus habis itu saya mengalami banyak penyiksaan," ucapnya saat tiba bersama WNI rombongan GSF lain di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (24/5/2026) sore.

Ia mengaku disiksa dengan cara ikatan borgol yang kencang. Kencangnya ikatan borgol itu pun meninggalkan bekas luka di tangan Andre.

Menurut dia, aktivis GSF lain mengalami penyiksaan yang berbeda. Ada aktivis GSF yang ditembak menggunakan peluru. Lalu, tentara Israel membangunkan para tawanan menggunakan sebuah alat yang memekikkan telinga.

"Teman-teman saya dari Eropa ditembak dengan peluru karet dan saya enggak tahu apa namanya ya, untuk yang menembak di telinga itu, yang tuli dadakan itu kalau ditembak itu, untuk membangunkan kami setiap pagi," tuturnya.

Andre sempat melanjutkan gerakan melawan Israel dengan mogok makan selama beberapa hari. Ia kemudian kembali makan setelah dibebaskan.

Dalam kesempatan itu, Andre meminta masyarakat Indonesia agar terus mengupayakan kebebasan Palestina dari cengkraman Israel.

"Apa yang saya alami ini tidak ada apa-apanya, hanya setetes, hanya sebutir kecil penderitaan setiap harinya warga Palestina rasakan," ujarnya.

"Jadi, jangan lupa terus untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Saya meminta kepada pemerintah untuk terus mengupayakan proses diplomasi-diplomasi kemerdekaan Palestina," sambung Andre.

Penyiksaan Kejam Israel

Di lokasi yang sama, jurnalis Republika Thoudy Badai Rifan Billah mengaku bertugas untuk mendokumentasikan perjalanan rombongan GSF. Ia juga sempat mendokumentasikan saat intersep dari tentara Israel.

Akan tetapi, Thoudy berujar, tentara Israel menganggu jaringan peserta GSF. Dengan demikian, ia tidak dapat mengirimkan dokumentasi saat intersep tersebut.

"Akhirnya saya diintersep bersama teman-teman dari delegasi Indonesia lainnya. Selama di tahanan, sekitar kurang lebih empat harian, ya tentunya apa yang kami alami di sana memang keji," ungkapnya.

Menurut Thoudy, penyiksaan yang ia alami tidak sebanding dengan penyiksaan yang dialami warga Palestina oleh Israel. Ia meminta masyarakat Indonesia terus menyuarakan kebebasan Palestina.

"Ini bukan tentang saya, bukan tentang teman-teman yang lain, tapi ini semua tentang Palestina. Jadi, tetap suarakan terus Palestina, tetap terus dukung Palestina," tuturnya.

Kemudian, tim media GPCI Rahendro Herubowo menyatakan, rombongan GSF termasuk para WNI dibawa ke sebuah penjara di kapal. Semua aktivis GSF kemudian diminta untuk menelungkup saat berada di salah satu ruangan besar di kapal.

Penyiksaan pertama pun dimulai. Pihak Israel menyiramkan air ke badan para aktivis GSF yang tengah menelungkup. Secara bergantian, aktivis GSF ditanyai oleh pihak Israel di ruang yang berbeda.

"Saya dipukul kepala ya, sudah saya enggak tahu berapa kali ya. Terus badan depan, belakang, dan saya jatuh juga sempat diinjak. Terakhir saya disetrum sehingga akhirnya saya teriak cukup kencang, baru mereka akhirnya melepaskan," urai Heru di lokasi yang sama.

Ia mengaku penyiksaan terparah terjadi saat rombongan GSF tiba di penjara di kapal tersebut. Selain penyiksaan fisik, Heru mengaku juga disiksa melalui metode lain.

Makan, misalnya, rombongan GSF hanya diberikan satu buah roti berbentuk bulat dan air putih. Rombongan GSF sejatinya sepakat untuk mogok makan. Akan tetapi, Heru yang keadaan kesehatannya mulai menurun terpaksa makan.

"Teman-teman aktivis perempuan juga kalau saya dengar kabar ada yang mengalami pelecehan juga, tapi saya enggak bisa menjelaskan secara rinci pelecehannya seperti apa. Dan kita memang juga ada beberapa titik kita harus mohon maaf harus ditelanjangi ya, entah apa maksudnya, terus mereka foto. Seperti itu lah kurang lebih," urai Heru.

Baca juga artikel terkait PENANGKAPAN AKTIVIS GSF atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Dipna Videlia Putsanra