Menuju konten utama

Kesaksian Aktivis Flotilla Disiksa Israel Sebelum Dideportasi

Ratusan aktivis Flotilla dideportasi Israel ke Turki usai ditahan. Sejumlah aktivis mengaku dipukul, disetrum taser, dan tidak diberi makan berhari-hari.

Kesaksian Aktivis Flotilla Disiksa Israel Sebelum Dideportasi
Tangkapan Layar Pemantau Kapal GSF yang didatangi Tentara Israel. youtube/Global Sumud Flotilla
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemerintah Israel pada Kamis (21/5/2026) mendeportasi ratusan aktivis internasional yang tergabung dalam armada bantuan Global Sumud Flotilla yang diculik setelah disebut berusaha menembus blokade laut Israel terhadap Jalur Gaza. Sejumlah aktivis mengaku mendapat penyiksaan selama ditahan Israel.

Sekitar 420 aktivis dari 44 negara akhirnya dipulangkan menggunakan pesawat menuju Turki dan tiba di Istanbul pada Kamis malam. Kedatangan mereka mendapat perhatian besar media internasional.

Para aktivis tampak mengenakan pakaian olahraga abu-abu dan syal keffiyeh khas Palestina sambil meneriakkan slogan “Free Palestine” serta mengangkat salam dua jari sebagai simbol solidaritas dan perlawanan.

Beberapa di antaranya terlihat pincang atau mengalami kelelahan fisik, sehingga otoritas Turki berencana membawa mereka menjalani pemeriksaan medis.

Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan bahwa seluruh aktivis asing dalam armada tersebut telah dideportasi.

“Semua aktivis asing dari armada PR telah dideportasi dari Israel. Israel tidak akan mengizinkan pelanggaran apa pun terhadap blokade angkatan laut yang sah di Gaza,” tulis Kemlu Israel pada 21 Mei 2026 di akun X @IsraelMFA.

Sebelunya, penculikan dan penahanan para aktivis Global Sumud Flotilla memicu kecaman internasional, terutama setelah beredar video perlakuan aparat terhadap para aktivis selama penahanan.

Sejumlah negara dilaporkan memanggil duta besar Israel untuk menyampaikan protes dan kekhawatiran mereka atas cara para aktivis diperlakukan.

Kontroversi semakin membesar setelah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video yang memperlihatkan dirinya berjalan di antara para aktivis yang ditahan.

Dalam salah satu video, sejumlah aktivis terlihat berlutut dengan tangan terikat di belakang punggung dan kepala menempel ke lantai di area yang tampak seperti ruang penahanan sementara di atas kapal.

Video tersebut menuai kritik luas karena dianggap merendahkan martabat tahanan dan memperlihatkan perlakuan yang tidak manusiawi. Banyak pihak menilai tindakan Ben-Gvir justru memperburuk citra Israel di mata internasional.

Kesaksian Aktivis Flotilla Selama Ditangkap Israel

Banyak dari para aktivis internasional yang dipulangkan setelah ditahan oleh Israel menggambarkan pengalaman penahanan sebagai perlakuan yang keras, menakutkan, bahkan penuh kekerasan fisik dan psikologis.

Dua warga negara Italia yang kembali ke negaranya pada Kamis (21/5) mengaku mengalami pemukulan dan intimidasi selama berada dalam tahanan Israel.

Aktivis sekaligus anggota parlemen Italia, Dario Carotenuto, mengatakan dirinya mengalami detik-detik terpanjang dalam hidupnya ketika aparat Israel mengarahkan senapan ke arah para aktivis di dalam fasilitas penahanan.

Seorang jurnalis Italia Alessandro Mantovani mengaku mengalami kekerasan fisik secara langsung. Ia mengatakan dirinya ditendang di bagian kaki dan dipukul di wajah oleh aparat.

“Mereka menendang kaki saya dan memukul wajah saya,” kata Mantovani dikutip AP News (22/5/2026).

Dua aktivis dari Spanyol dan Swedia, yaitu Saif Abukeshek dan Thiago Ávila, dibawa ke Israel untuk diinterogasi dan ditahan selama sekitar satu minggu sebelum akhirnya dideportasi. Mereka kemudian menuduh Israel melakukan penyiksaan selama masa penahanan.

Kesaksian paling emosional datang dari sejumlah aktivis Australia yang ikut ditahan. Sebanyak 11 warga Australia termasuk Juliet Lamont dan Zack Schofield tiba di Istanbul setelah dibebaskan.

Juliet Lamont menggambarkan situasi di bandara Istanbul sebagai kekacauan karena para aktivis berusaha mencari dan berkumpul kembali dengan anggota flotilla lain yang terpisah selama penahanan.

Zack Schofield menyatakan bahwa para aktivis dibawa ke penjara dan diperlakukan dengan sangat buruk. Ia mengatakan banyak dari mereka tidak makan selama berhari-hari.

Bahkan, menurut pengakuannya, beberapa aktivis mengalami penyiksaan menggunakan taser atau senjata kejut listrik dalam waktu lama ketika pertama kali masuk penjara. Ia juga mengklaim beberapa rekannya dipukuli oleh aparat.

“(Kelompok aktivis tersebut) dibawa ke penjara dan diperlakukan dengan sangat buruk. Banyak dari kami belum makan selama berhari-hari. Saya punya teman yang disetrum dengan taser, senjata kejut listrik dalam waktu lama hanya saat masuk penjara, dipukuli," ungkapnya kepada media lokal Turki dikutip ABC News (22/5/2026).

Setibanya di Istanbul, sebagian besar aktivis langsung menjalani pemeriksaan kesehatan di rumah sakit setempat karena kondisi fisik mereka yang menurun setelah masa penahanan.

Di tengah kerumunan pendukung yang menyambut mereka di bandara, salah satu aktivis meneriakkan bahwa rakyat Palestina tidak sendirian. Ia juga menyampaikan pernyataan yang sangat emosional, mengatakan bahwa mereka telah disiksa, dipukuli, dan ditangkap di perairan internasional, tetapi mereka tidak akan menyerah dan akan kembali lagi untuk mendukung Palestina.

Di sisi lain, Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono memastikan 9 WNI yang juga jadi tahanan Israel telah tiba di Turki dan sedang diusahakan untuk kembali ke tanah air secepatnya.

“Pemerintah Indonesia menyampaikan bahwa 9 (sembilan) WNI yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla 2.0 yang ditahan oleh militer Israel telah tiba dengan selamat di Istanbul, Türkiye (21/5),” tulisnya di akun X @Menlu_RI pada 22 Mei 2026.

Baca juga artikel terkait PENANGKAPAN AKTIVIS GSF atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra