Menuju konten utama

15 Aktivis Flotilla Mengaku Alami Kekerasan Seksual

Tuduhan mengenai pelecehan seksual ini diperkirakan akan menambah tekanan terhadap otoritas Israel.

15 Aktivis Flotilla Mengaku Alami Kekerasan Seksual
Tangkapan Layar Pemantau Kapal GSF yang didatangi Tentara Israel. youtube/Global Sumud Flotilla
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Para aktivis yang dibebaskan dari tahanan Israel setelah ditahan dalam armada bantuan (flotilla) yang berupaya membawa bantuan ke Gaza mengaku mengalami perlakuan kasar. Beberapa di antaranya harus dirawat di rumah sakit karena luka-luka, dan sedikitnya 15 orang melaporkan mengalami kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan.

Meski demikian, dinas penjara Israel membantah tuduhan tersebut. Dalam kasus ini, militer Israel mengarahkan pertanyaan terkait dugaan penculikan kepada Kementerian Luar Negeri, yang kemudian merujuknya kepada dinas penjara.

“Tuduhan yang disampaikan itu tidak benar dan sama sekali tidak memiliki dasar fakta,” kata juru bicara dinas penjara Israel dalam sebuah pernyataan, dikutip Reuters.

“Seluruh tahanan dan narapidana ditahan sesuai hukum, dengan tetap menghormati hak-hak dasar mereka serta berada di bawah pengawasan petugas penjara yang profesional dan terlatih. Perawatan medis diberikan berdasarkan pertimbangan medis profesional dan sesuai dengan pedoman Kementerian Kesehatan,” tambahnya.

Sementara itu, Reuters tidak dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen. Di sisi lain, Jerman menyatakan bahwa beberapa warganya mengalami luka-luka dan sebagian tuduhan tersebut tergolong “serius”, tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Sementara itu, seorang sumber di Italia mengatakan bahwa jaksa di negara tersebut tengah menyelidiki kemungkinan tindak pidana, termasuk dugaan penculikan dan kekerasan seksual.

Sebelumnya, pasukan Israel menangkap 430 orang yang berada di atas 50 kapal di perairan internasional pada Selasa (19/5/2026) untuk menghentikan armada sukarelawan yang berupaya membawa bantuan ke Jalur Gaza.

Tuduhan mengenai pelecehan seksual ini diperkirakan akan menambah tekanan terhadap otoritas Israel untuk menjelaskan perlakuan terhadap para tahanan, setelah video seorang menteri kabinet Israel di dalam penjara yang mengejek sejumlah aktivis memicu kecaman internasional.

“Kami sangat prihatin dengan laporan-laporan ini,” kata juru bicara PBB, Stéphane Dujarric, saat dimintai tanggapan mengenai tuduhan tersebut dalam pengarahan rutin pada Jumat (22/5/2026).

Sementara itu, Global Sumud Flotilla, penyelenggara pengiriman bantuan tersebut, mengatakan pihaknya telah mendokumentasikan sedikitnya 15 kasus kekerasan seksual. Insiden paling parah disebut terjadi di salah satu kapal pendarat Israel yang diubah menjadi penjara darurat dengan kawat berduri dan kontainer pengiriman barang.

Menurut para aktivis yang berada di kapal tersebut, tahanan dilempar ke dalam kontainer lalu dipukuli di bagian kepala dan tulang rusuk.

Mereka juga disebut mengalami berbagai bentuk kekerasan seksual, termasuk “penggeledahan telanjang yang merendahkan, pelecehan seksual verbal, perabaan tubuh, penarikan alat kelamin, serta sejumlah kasus pemerkosaan.”

“Sedikitnya 12 kasus kekerasan seksual telah didokumentasikan di kapal itu saja, termasuk pemerkosaan anal dan penetrasi paksa menggunakan pistol,” demikian pernyataan tersebut.

Baca juga artikel terkait PENANGKAPAN AKTIVIS GSF atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Anggun P Situmorang