Kisah Seribu Satu Malam yang Mengubah Sastra Timur Tengah

Ilustrasi 1001 Malam. FOTO/iStockphoto
Oleh: Indira Ardanareswari - 29 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Intelektual Timur Tengah awalnya sama sekali tidak tertarik kisah-kisah 1001 Malam yang mereka anggap kasar dan tidak artistik.
Alkisah, hiduplah seorang raja penguasa daratan tinggi Iran bernama Shahriyar. Sang raja dikisahkan suka memenggal perempuan-perempuan yang dinikahinya dalam semalam sekadar untuk melampiaskan dendam terhadap istri pertamanya yang tidak setia. Patih kerajaan yang kedapatan tugas mencari perawan untuk memuaskan junjungannya itu pun sampai kewalahan.

Suatu ketika, putri sulung patih yang bernama Shahrazad merasa iba kepada ayahnya. Shahrazad lantas meminta kepada sang ayah untuk mempersembahkan dirinya sebagai istri semalam raja. Dengan berat hati, permintaan itu pun dikabulkan patih.

Shahrazad perempuan cerdas. Konon ia pernah membaca ribuan buku riwayat para raja dan sejarah panjang umat manusia. Setiap malam, Shahrazad akan mempersembahkan sebuah kisah yang pernah ia baca kepada Shahriyar. Begitu fajar menyingsing, Shahrazad akan menghentikan ceritanya untuk dilanjutkan saat malam tiba. Begitu terus selama 1000 malam.

Akibatnya, Shahriyar pun enggan untuk membunuh Shahrazad lantaran selalu antusias mendengar kelanjutan cerita dari istrinya itu. Sampai pada malam ke 1001, Shahrazad akhirnya kehabisan cerita. Alih-alih memenggal kepala Shahrazad, sang raja malah mengangkatnya menjadi permaisuri.


Dalam setiap versi tercetak, dongeng klasik 1001 Malam hampir selalu disusun ke dalam antologi berisikan cerita-cerita rakyat dan fabel yang berasal dari zaman keemasan Islam (abad ke 8-14). Kisah-kisah ini dibuat seolah-olah dituturkan oleh seorang tokoh bernama Shahrazad kepada raja lalim Shahriyar.

Menurut orientalis asal Amerika Duncan Black MacDonald dalam artikel “The Earlier History of the Arabian Nights” yang dimuat pada Journal of the Royal Asiatic Society (July 1924), versi kisah 1001 Malam yang diterjemahkan di Eropa sepanjang abad ke-18 memiliki perbedaan antara satu terjemahan dengan lainnya. Kendati demikian, ciri khusus berupa penuturan cerita di dalam cerita (frame story) seperti yang dikisahkan melalui hubungan tokoh Shahrazad dan Shahriyar selalu sama.

Menyesuaikan Selera Eropa

Kisah 1001 Malam pertama kali dibawa ke Eropa sekitar awal abad ke-18. Orang yang bertanggung jawab memperkenalkan 1001 Malam kepada orang-orang Eropa kala itu adalah Antoine Galland, seorang orientalis asal Perancis.

Selama kurang lebih 11 tahun, Galland melakukan pekerjaan terjemahan dan penerbitan koleksi sepanjang 12 volume. Seri terjemahan ini diberi judul Les Mille et Une Nuits, contes arabes traduits en français (Seribu Satu Malam, kisah-kisah Arab dalam bahasa Perancis).

Seri pertama 1001 Malam versi bahasa Perancis terbit pertama kali pada tahun 1704. Menyusul seri-seri selanjutnya yang terbit bertahap selama delapan tahun. Dua seri terakhir, yakni seri ke-11 dan 12, baru terbit dua tahun sepeninggal Galland pada 1715.

Di luar dugaan, kisah-kisah dalam 1001 Malam sangat digemari di Eropa. Menurut Katarína Kobzošová dalam artikel “The Changing Value of The Thousand and one Nights and its Influence on Modern and Contemporary Arabic Literature” yang dimuat di jurnal Graecolatina et Orientalia (2012), popularitas 1001 Malam bertanggung jawab mendorong penciptaan novel gotik, fiksi ilmiah, dan cerita-cerita detektif pada paruh kedua abad 18.

Tak banyak yang tahu bahwa hasil terjemahan Galland sendiri sebenarnya tidak otentik. Berdasarkan tulisan Kobzošová, diketahui bahwa Galland sekadar menerjemahkan manuskrip yang berasal dari Suriah abad ke-15 tanpa referensi tambahan. Selain itu, Galland juga membuat versi “Shahrazad”-nya sendiri yang disesuaikan dengan selera orang Eropa.

Saat menyusun terjemahan, Galland disebutkan banyak membuang bagian cerita yang dinilai kurang sesuai dengan selera masyarakat Eropa. Sebagai gantinya, ia memasukkan kisah-kisah petualangan magis yang dituturkan secara lisan oleh Antun Yusuf Hanna Diyab, seorang pengarang cerita asal Suriah yang hidup sekitar abad ke-17. Kisah Sinbad Si Pelaut, Aladdin dan Lampu Ajaib, dan Ali Baba dan 40 Pencuri dipercaya sebagai cerita karangan Hanna Diyab yang tidak masuk ke dalam kompilasi asli 1001 Malam.

Sempat Dilupakan di Timur Tengah

Asal-usul kompilasi asli kisah 1001 Malam hingga kini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Edward William Lane dalam pengantar buku Stories from the Thousand and One Nights mengatakan bahwa kisah ini dikumpulkan di sekitar Suriah dan Mesir sebelum akhirnya diterjemahkan oleh Galland ke dalam bahasa Perancis.

Lane menyadari argumennya ini tidak begitu populer. Sebaliknya, orang-orang lebih mempercayai keberadaan unsur-unsur Arab abad pertengahan dalam kisah 1001 Malam. Unsur-unsur ini yang lantas menjadi imajinasi orientalis orang-orang Eropa terhadap daratan Timur Tengah.

Popularitas 1001 Malam di daratan Eropa semakin meningkat tatkala muncul para ahli di bidang sastra Arab. MacDonald mencatat, sejak pertengahan abad ke-19, semakin banyak ilmuwan Eropa yang mendedikasikan diri untuk meneliti asal-usul dan perkembangan cerita-cerita dalam 1001 Malam.


Antusiasme di Eropa ternyata tidak sejalan dengan apa yang terjadi di daratan Timur Tengah, tempat asal 1001 Malam. Berdasarkan penelitian Kobzošová, para intelektual Timur Tengah pada awalnya sama sekali tidak tertarik pada kisah-kisah tersebut. Menurut mereka, 1001 Malam hanyalah kumpulan cerita rakyat jelata yang kasar, tidak artistik, dan penuh kesenangan seksual.

Kobzošová memaparkan, sikap yang ditunjukan para intelektual Timur Tengah terhadap 1001 Malam memiliki dasar yang cukup kuat jika ditempatkan pada konteks kesusastraan di zaman itu. Seiring perkembangan kesusastraan Islam, penulis-penulis dari Timur Tengah sebelum abad ke-20 lebih banyak terpengaruh oleh susunan sajak yang berasal dari Al-Qur’an sehingga meminggirkan dongeng-dongeng yang lebih banyak ditulis berdasarkan bahasa percakapan sehari-hari yang vulgar.

Taufik al-Hakim dan Munculnya an-Nahda

Penerimaan 1001 Malam di Timur Tengah lambat laun berubah sekitar akhir abad ke-19. Sebelumnya perubahan ini didahului oleh berbagai fenomena seperti kolonialisme, perkembangan di bidang pendidikan dan ekonomi, serta pengaruh sastra Barat yang terpusat di Mesir.

Di bawah kepemimpinan Muhammad Ali Pasha, Mesir banyak mengirim pelajar untuk menempuh pendidikan modern di Eropa. Sekembalinya ke Mesir, tak sedikit di antara mereka yang bergerak membawa perubahan, salah satunya perubahan di bidang kultural yang disebut an-Nahda atau Kebangkitan Budaya dan Sastra Arab.

Kobzošová melalui makalah “Traces of the Thousand and One Nights in Tawfiq al-Hakim’s Works,” yang dimuat dalam jurnal Asian and African Studies (2014), memaparkan keterlibatan Taufiq al-Hakim sebagai penulis Timur Tengah pertama yang terpengaruh oleh gaya penuturan kisah Thousand and One Nights.



Menurut Kobzošová, al-Hakim pergi ke Eropa untuk belajar ilmu hukum pada 1925. Sesampainya di sana, ia malah menggeluti drama dan teater. Lambat laun, al-Hakim menyadari adanya kesamaan antara gaya penulisan sastra Eropa modern dengan legenda dan mitos yang merangkai 1001 Malam.

Al-Hakim tidak habis pikir, kenapa 1001 Malam begitu populer di negara-negara lain, sebaliknya dilupakan di tanahnya sendiri. Untuk mengubah persepsi masyarakat Timur Tengah terhadap cerita 1001 Malam, al-Hakim membuat beberapa gubahan beberapa kisah di dalamnya.

Berdasarkan catatan Kobzošová, gubahan al-Hakim yang paling terkenal meliputi kisah Shahrazad dan Shahriyar. Melalui gubahannya, al-Hakim berusaha memasukkan dimensi intelektual yang sebelumnya belum pernah ditemui pada kompilasi klasik 1001 Malam.

Raja Shahriyar tidak lagi digambarkan haus darah, namun kegilaannya berubah menjadi pencarian atas diri dan istri barunya yang dianggapnya penuh teka-teki. Untuk tingkat lebih lanjut, al-Hakim banyak mengambil inspirasi dari filosofi Mesir kuno untuk membawakan konflik manusia dalam mengatasi batas ruang dan waktu.

Selain cerita-cerita gubahan al-Hakim, narasi Shahrazad dan Shahriyar juga berhasil merombak sastra modern Timur Tengah menuju ke arah magis-realis. Kobzošová menyebut kecenderungan ini nampak pada novel karya penulis asal Lebanon Ilyas Khuri. Novel itu mengisahkan seorang pelacur yang menceritakan kisah-kisah orang-orang yang gugur atau menghilang selama Perang Sipil di Lebanon (1975-1990).

Baca juga artikel terkait SASTRA atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight