Kisah Jenderal Batak yang Menolak Menjadi Sponsor Masuk Akabri

Sejumlah prajurit TNI melakukan perimeter tempur disela-sela Bhineka Eka Bhakti TNI di Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (27/6/2018). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Oleh: Petrik Matanasi - 9 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
TB Silalahi dan Sudi Silalahi pernah meminta sponsor saat akan mendaftar menjadi tentara, namun ditolak. Mereka akhirnya lulus secara murni.
tirto.id - Suatu hari seorang pemuda mendatangi TB Silalahi. Ia hendak minta sponsor agar bisa masuk Akademi Militer di Magelang. Namun, seperti dikisahkan Atmadji Sumarkidjo dalam TB Silalahi: Bercerita Tentang Pengalamannya (2008:121-123), lulusan Akademi Militer Nasional tahun 1961 itu menolaknya.

“Mulai kapan harus ada sponsor untuk masuk ke Akademi Militer?” tanya TB Silalahi yang saat itu (tahun 1968) masih berpangkat Kapten Kavaleri.

“Teman-teman yang ikut sama-sama tes masuk taruna ini semuanya memiliki sponsor. Ada di antara calon taruna itu putra perwira TNI, kalau bukan anak pamen atau jenderal, paling tidak mereka mempunyai sponsor,” jawab si pemuda.

TB Silalahi tetap pada pendiriannya, padahal dulu ia sempat melakukan hal sama dan ditolak saat meminta sponsor kepada pamannya, Kolonel Angkatan Darat Washington Siahaan. Waktu itu ia ingin masuk Akademi Angkatan Laut (AAL) Surabaya pada 1958, saat KSAL dijabat oleh Laksamana Soebijakto.

TB Silalahi pasti telah mempertimbangkan permintaan itu, sebab pamannya dengan Laksamana Soebijakto cukup dekat, keduanya pernah menjadi prajurit Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Namun, Washington Siahaan malah memarahinya.

Meski sang paman memberinya uang untuk ongkos pulang ke Bandung, tapi TB Silalahi tetap merasa kecewa. Ia pun kemudian mendaftar di AMN (Akademi Militer Nasional) Magelang dan diterima. Puluhan tahun kemudian ia menjadi Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara.

Pengalaman ditolak oleh sang paman itulah yang membuat ia tak mau memberi sponsor bagi pemuda yang mendatanginya, yakni Sudi Silalahi. Kelak, pemuda ini menjadi Menteri Sekretaris Negara periode 2009-2014.

“Kalau kamu tidak bisa atau tidak sanggup, mending pulang saja kamu ke Samosir!” kata TB Silalahi yang saat itu menjabat sebagai instruktur di Pusat Pendidikan Kavaleri.

Persis seperti orang yang menolaknya menjadi sponsor, Sudi Silalahi pun kemudian mendaftar ke AMN yang telah berganti nama menjadi Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) dan diterima. Ia lulus dari Akabri pada tahun 1972, berbeda 11 tahun dengan TB Silalahi yang lulus pada 1961.


Perwira Tertib dan Jujur

Pangkat Washington Siahaan jelas terlampaui oleh TB Silalahi dan Sudi Silalahi. Jika dua Silalahi itu mencapai pangkat letnan jenderal (bintang tiga), maka Washington hanya mencapai pangkat brigadir jenderal (bintang satu).

Washington seumuran dengan Jenderal Abdul Haris Nasution. Ia hanya lebih tua tiga bulan sebab lahir pada 12 September 1918, sementara Nasution lahir pada 3 Desember 1918. Jika Nasution mengawali kariernya sebagai tentara Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL), maka Washington memulainya dengan bekerja di bagian administrasi Koninklijk Marine (KM) alias Angkatan Laut Kerajaan Belanda.

Surat kabar De Indische Courant (24/07/1941) mencatat namanya sebagai salah satu Adelborst atau taruna Angkatan Laut pada bagian administrasi. Adelborst lain yang berdarah Indonesia dan bekerja bersamanya di bagian administrasi adalah MLJ Nelwan.

Ketika Jepang menguasai Indonesia, Washington termasuk taruna yang diungsikan ke luar negeri. Dan sepanjang Perang Pasifik, ia menjadi bagian dari armada laut pasukan sekutu. Saat Perang Pasifik berakhir dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, ia belum juga pulang ke tanah air.




Pada akhir tahun 1946, ia yang telah menjabat sebagai Opsir Administrasi Kelas Dua, merasa tidak cocok dengan dinas Angkatan Laut Belanda. Menurut laporan surat kabar Nederlandsche staatscourant (07/03/1947), ia bersama Letnan Laut Kelas Tiga, Raden Soebijakto, akhirnya mengundurkan diri. Ia resmi keluar dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda terhitung sejak 1 Januari 1947, berdasar Koninklijk besluit van 16 Januari 1947 nomor 25.

Mereka pun pulang ke Indonesia dan bekerja di Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Selain mereka, ada juga pemuda dengan keahlian laut bernama Djadoe Ginagan.

“Sejak semula dia (Washington Siahaan) ikut TNI di Kementerian Pertahanan,” tulis Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas: Masa Pancaroba Kedua (1984:159).

Sementara menurut dokter Soeharto dalam Saksi Sejarah: Mengikuti Perjalanan Dwi Tunggal (1984:64), Washington sempat menjadi salah satu pembantu utamanya ketika memimpin Administrasi Militer Pusat (AMP), yang bernaung di bawah Kementerian Pertahanan yang dipimpin Amir Sjarifuddin.

Jika Djadoe Ginagan sempat membuat kapal selam mini, dan Soebijakto terus berkarier di Angkatan Laut sampai menjadi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), maka Washington Siahaan malah terdampar Infanteri Angkatan Darat.

Sebelum 1957, ia sempat menjadi Panglima Tentara Teritorium di Kalimantan Barat dengan pangkat Letnan Kolonel. Lalu Nasution menjadikannya Panglima di Sumatra ketika PRRI bergolak. Ia juga pernah menjadi Deputi III KSAD sebelum akhirnya wafat pada 18 November 1960 di Jakarta.

Menurut Nasution, Washington Siahaan adalah perwira yang tertib, jujur, dan anti-korupsi.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight