Ketika Menkohankam A.H. Nasution Hampir Terbunuh dalam G30S

Abdul Haris Nasution (1/1/1960). FOTO/Jalesveva Jayamahe/Wikimedia Commons
Oleh: Petrik Matanasi - 12 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Ketika pasukan bersenjata hendak menculiknya pada dinihari 1 Oktober 1965, Abdul Haris Nasution tengah menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan.
tirto.id - Perintah itu masih terngiang dalam ingatan Pembantu Letnan Dua Djahurup. Atasannya, komandan kompi Letnan Satu Dul Arif, memerintahkannya untuk "mengamankan" salah seorang jenderal. Menurut Dul Arif, negara dalam keadaan genting karena ada Dewan Jenderal yang hendak mengudeta Presiden Sukarno.

Djahurup adalah salah satu anggota Kompi C batalion Kawal Kehormatan I Resimen Cakrabirawa yang bertugas menjaga keselamatan presiden. Rencananya, para jenderal yang mereka jemput dari rumahnya masing-masing akan dibawa ke Lubang Buaya pada dinihari 1 Oktober 1965.

“Kalau ada [jenderal] yang membantah akan ditembak,” kata Djahurup saat jadi terdakwa di pengadilan, seperti dikutip Kompas (01/12/1967) yang dimuat dalam Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita 1965-1967 (2008).

Djahurup dan pasukannya bertugas menculik Jenderal Abdul Haris Nasution yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan, juga merangkap Kepala Staf Angkatan Bersenjata.

Ketika waktu menunjukkan pukul 03.00 dinihari 1 Oktober 1965, ia dan pasukannya berangkat dari Lubang Buaya menuju rumah Nasution di Jalan Teuku Umar nomor 40, Menteng. Menurut Frans Hitipeuw dalam Karel Sadsuitubun (1985:95), pasukan yang dipimpin Djahurup terdiri dari satu regu Cakrabirawa, satu peleton Yon 530 Brawijaya, satu peleton Yon 454 Diponegoro, satu peleton Pasukan Gerak Cepat AURI, dan satu peleton Pemuda Rakyat.

Kedatangan pasukan itu membuat Sunarti, istri Jenderal Nasution tidak bisa tidur lagi. Ia segera memberitahu suaminya soal kehadiran pasukan tersebut. Nasution pun bangun dan menuju pintu depan hendak melihatnya.

“Ketika pintu dibuka, anggota penculik segera melepaskan tembakan ke arah Jenderal TNI A.H. Nasution,” tulis penyusun buku Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (1994:96) yang diterbitkan Sekretaris Negara.

“Seketika itu beliau menjatuhkan diri ke lantai, dan Ibu Nasution cepat-cepat menutup dan mengunci pintu kamar kembali,” imbuhnya.

Meski kakinya sempat tertembak, namun Nasution berhasil kabur dengan melompati tembok. Pasukan yang dipimpin Djahurup akhirnya hanya mendapati orang yang potongannya mirip Nasution, yakni ajudannya yang bernama Pierre Andreas Tendean yang berpangkat Letnan Satu Zeni. Pierre pun dibawa oleh para penyerang yang berpacu dengan waktu menuju ke Lubang Buaya. Ia kemudian dibunuh dan dimasukan ke dalam sumur tua.

Tak hanya Pierre, anak Nasution pun menjadi korban. Punggung Ade Irma Suryani terkena tembakan hingga kritis, dan akhirnya meninggal dunia pada 6 Oktober 1965 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta.

Selain keduanya, seorang polisi dari Brimob pun menjadi korban. Karel Satsuit Tubun yang menjaga rumah Johannes Leimena—menteri koordinator dalam Kabinet Dwikora yang bertetangga dengan Nasution—juga ikut terbunuh setelah melakukan perlawanan. Seperti dicatat Frans Hitipiuew dalam Karel Sadsuitubun (1985), demi melancarkan penculikan Nasution, rupanya pengawal di rumah Leimena juga ikut dilumpuhkan.



Nasution dalam Pelarian

Sementara itu dalam kondisi kaki terluka, Nasution bertahan di sebuah taman yang merupakan bagian dari halaman Kedutaan Besar Irak. Dari sana, ia lalu bersembunyi di rumah Leimena.

“Mulai sekitar pukul 06.00 ketika ia meninggalkan rumah Dr Leimena, di Jalan Teuku Umar 36, tempat ia bersembunyi, dan masuk lewat pagar ke rumahnya sendiri,” tulis Victor M Fic dalam Kudeta 1 Oktober 1965 (2005).

Demi keamanan, Bob Sunarjo Gondokusumo (iparnya), Mayor Sumargono (ajudannya), serta Letnan Kolonel Hidajat Wirosandjojo (Komandan Staf Markas Besar AD), membawa Nasution dengan mobil untuk diungsikan ke persembunyian baru di sekitar gedung Staf Angkatan Bersenjata. Dalam perjalanan, Nasution terus tiarap di lantai mobil sebab khawatir masih diincar para penyerangnya.

Nasution kemudian mengirim perintah kepada Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto untuk mulai mengidentifikasi dan melokalisasi musuh, menutup jalan masuk ke Jakara, dan meminta bantuan kepada Divisi Siliwangi.

Selain itu, ia juga memerintahkan untuk merebut RRI dan membantah isu Dewan Jenderal, mencari posisi presiden, menghubungi panglima kepolisian, panglima Angkatan Laut, dan panglima KKO.

Siang hari, Nasution menuju markas Kostrad. Lalu malamnya ikut rapat di markas Kostrad bersama beberapa jenderal.

Pada rapat tersebut, seperti dicatat dalam Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra (2014:189-190), Mayor Jenderal Pranoto ditunjuk Nasution menjadi pengganti sementara Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) karena Letnan Jenderal Ahmad Yani ikut diculik pasukan yang bergerak pada dinihari 1 Oktober 1965.

Pranoto tidak langsung menerimanya karena belum ada pengangkatan secara resmi dari Presiden Sukarno yang pada hari-hari itu sulit untuk ditemui.

Nasution baru terlihat di hadapan publik pada 5 Oktober 1965, ketika jenazah para jenderal yang diculik pasukan G30S telah ditemukan dan hendak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Saat melepas para korban, dengan kaki yang masih terluka, ia berpidato dengan haru. Sehari berselang, Nasution juga mesti melepas kepergian anaknya. Jiwa Ade Irma Suryani yang ikut tertembak, tak bisa diselamatkan.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight