KS Tubun Sosok Pahlawan Polisi Pertama

Oleh: Petrik Matanasi - 18 September 2017
Dibaca Normal 3 menit
Brigadir Polisi Karel Satsuit Tubun (KS Tubun) salah satu Pahlawan Revolusi yang juga sosok polisi yang dapat gelar pertama sebagai pahlawan.
tirto.id - Namanya diabadikan di berbagai kota Indonesia termasuk di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. Orang lebih familiar pada nama singkatnya dengan sebutan KS Tubun. Ia adalah Brigadir Polisi Karel Satsuit Tubun salah satu Pahlawan Revolusi. Ia merupakan korban pasukan penculik peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) saat sedang berjaga di rumah Wakil Perdana Menteri Johannes Leimena, 52 tahun silam.

Waktu pasukan penculik G30S yang hendak menculik Jenderal Abdul Haris Nasution, di Jalan Teuku Umar, sebagian dari pasukan hendak melumpuhkan pengawal yang menjaga rumah Johannes Leimena yang berdekatan dengan rumah Nasution. Saat itu, KS Tubun, dapat giliran tidur dalam pos jaga, kawannya yang lain di lokasi yang berbeda.

Dua orang pasukan menghampiri pos dan membangunkan Karel yang sedang tertidur. Senjata Karel masih melekat di tubuhnya. Karel mengira dia sedang diganggu kawan-kawannya. “Karena itu ia tidur terus sambil marah-marah, katanya orang sedang tidur diganggu." Namun si pasukan penculik terus menendang. Karel pun terbangun dan sadar, bukan kawannya yang mengganggu.

“Karel melompat yang ada di depannya langsung berkelahi” dengan anggota gerombolan Cakrabirawa yang dicap PKI itu. Begitu kisah gugurnya Karel Satsuit Tubun dalam buku biografi Karel Sasuit Tubun (1981) yang disusun Frans Hitipeuw.


Baca juga: Di Mana Mereka di Malam Jahanam Itu


Berdasarkan kutipan Abdul Haris Nasution di buku Memenuhi Panggilan Tugas: Jilid 6 Masa Kebangkitan Orde Baru (1987) dari buku Dari Hati ke Hati menyebut: “Ada satu orang (penculik) yang terus memasuki kediaman Pak Leimena, terus masuk ke gardu jaga dan merebut senjata Pak Karel yang masih sempat melakukan perlawanan. Tetapi karena satu orang lawan delapan, maka sesudah ditembak tewaslah dia.”

Ia meninggal dini hari 1 Oktober 1965, ketika sedang menjaga rumah Leimena. Karel meninggal dunia dua minggu sebelum hari ulang tahunnya yang ke-37.

Setelah kejadian itu, Karel ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi—berdasarkan Surat Keputusan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia/Komando Operasi Tinggi (KOTI) nomor 114/KOTI/1965 pada 5 Oktober 1965. Selain itu, pangkatnya dinaikkan menjadi Ajun Inspektur Polisi II. Karel dimakamkan ke Taman Makam Pahlawan di Kalibata, Jakarta.

Baca juga: Johannes Leimena Orang Paling Jujur di Mata Soekarno

Semenjak kejadian itu hingga 2015 atau atau 50 tahun setelah peristiwa G30S meletus, belum ada lagi polisi yang dapat gelar pahlawan, yang ada hanya gelar Pahlawan Revolusi yang melekat kepada KS Tubun. Hingga akhirnya Moehammad Jasin ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2015. Lima tahun sebelum penetapan itu, pada 2010 Jasin sempat berucap “tak ada polisi yang menjadi pahlawan nasional karena perjuangan dalam revolusi kemerdekaan,” tulis Moehammad Jasin dalam memoarnya Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kelahiran Polisi Indonesia (2010).

Baca juga: Brimob Pasukan Siap Tempur Pertama Indonesia

Pangkat KS Tubun yang hanya seorang brigadir polisi dan menyandang gelar Pahlawan Revolusi, tapi banyak disebut dalam sejarah Indonesia. Ia sepintas dikenang sebagai korban G30S yang bukan sebagai target penculikan, seperti Pierre Tandean, juga bukan target peristiwa G30S. Namanya memang dijadikan nama bandara, nama kepal perang, dan banyak jalan di kota-kota Indonesia.

Kisah tentang hidupnya tak seutuh kisah-kisah pahlawan revolusi lain. Riwayat hidup Karel Satsuit Tubun pernah diteliti oleh Frans Hitipeuw, dalam buku biografi Karel Sasuit Tubun (1981). Namun, hanya separuh bagian saja dalam buku yang membahas tentang dirinya, sisanya sejarah tentang Brimob.

Ia lahir di Tual, Maluku Tenggara. Menurut Frans Hitipeuw, Karel punya paman yang pernah dinas sebagai KNIL—militer era kolonial Indonesia yang disebut Koninklijk Nederlandsch Indische Leger di Jawa, yang bernama Damaskus Satsuit Tubun. Sementara itu abangnya Efraim Satsuit Tubun juga pernah jadi KNIL dan menetap di Belanda.


Infografik Karel Satsuit Tubun


Kondisi zaman kolonial membuat banyak orang Indonesia masuk KNIL, termasuk keluarga Karel. Latar belakang keluarga yang terdapat anggota yang pernah jadi militer rupanya memengaruhi Karel untuk bergabung dengan militer, setidaknya sebagai paramiliter. Kebetulan di kala Karel dewasa, Indonesia punya pasukan paramiliter yang dikenal sebagai Brimob.

Pada 1951, Karel masuk Sekolah Polisi Negara di Ambon sejak Agustus 1951. Pada 9 Februari 1952, dia menyandang pangkat Agen Polisi II, dengan gaji Rp97,50. Pada 23 September 1952, Karel dipindahkan ke Jakarta, dan dimutasi ke dalam Brimob. Tugasnya di sekitar Cilincing, Jakarta Utara. Pada 1954, pangkatnya naik jadi Agen Polisi I dan gajinya sudah Rp137. Di tahun yang sama dia ikut latihan Brimob di Sekolah Polisi Negara Megamendung, Bogor, Jawa Barat.

Tahun berikutnya, pada 18 Februari 1955, Karel mulai bertugas di Sumatera Utara. Pada 1956, dia sempat tiga bulan bertugas di Aceh. Saat ia bertugas, Aceh sedang bergejolak pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Daud Beureuh. Setelah tugas itu, pada 1958 Karel dikembalikan ke Jakarta. Ia ditempatkan di Ciputat.

Namun, Permesta di Sulawesi Utara dan DI/TII Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan masih bergejolak, Karel dikirim ke Sulawesi selama enam bulan.


Baca juga:
Permesta Pemberontakan atau Bukan?
Legenda Kahar Muzakkar Terbunuh tapi Dianggap Masih Hidup


Sekembalinya ke Ciputat, Karel menikah dengan Margaritha Waginah pada 1959. Setelah menikah pangkatnya dinaikkan jadi Agen Polisi Kepala tingkat I. Pada 2 September 1960, Karel ditugaskan ke Sumatera Barat untuk enam bulan mengatasi pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Ia bertugas di bagian lapis baja kompi C/1129.

Ia masuk dalam pasukan gabungan bersama Angkatan Darat. Selain melawan DI/TII dan PRRI/Permesta. Karel pernah ikut dalam operasi Trikora pembebasan Irian Barat. Pulang dari Papua pada September 1963, pangkatnya sudah Brigadir Polisi.

Pada 1960, sejalan dengan kenaikan pangkatnya, gaji Karel naik. Namun, masa-masa tersebut Indonesia mengalami inflasi yang tinggi, sehingga kehidupan mereka tetap sulit. Sampai pada akhirnya, Karel mendapati akhir perjalanan hidupnya di malam jahanam itu.

Saat Karel meninggal, istri dan tiga anaknya yang masih kecil-kecil. Anak tertua Karel baru menginjak usia lima tahun kala itu. Mereka tinggal di Asrama Brimob Kedunghalang, Bogor. Di kota hujan ini, namanya disematkan menjadi sebuah nama jalan.

Baca juga artikel terkait PAHLAWAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Suhendra
Dari Sejawat
Infografik Instagram