Ketahui Cara Mengenali Gejala Gagal Jantung Pada Perempuan Hamil

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari - 23 Mei 2022 11:48 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Ada sejumlah faktor risiko perempuan yang mengalami gagal jantung di masa kehamilan, salah satunya hamil pertama di atas usia 35 tahun.
tirto.id - Gagal jantung bisa terjadi pada siapa saja tak terkecuali pada perempuan yang sedang hamil.

Dokter dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dr. Rarsari Soerarso, SpJP(K) mengatakan gejala sesak napas pada kardiomiopati peripartum (PPCM) atau gagal jantung pada akhir masa kehamilan umumnya sulit dikenali.

Menurutnya, hal ini terjadi lantaran keluhan sesak nafas biasanya juga kerap terjadi pada perempuan hamil seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Sebab, pertumbuhan janin dan rahim yang membesar menyebabkan diafragma tertekan sehingga mengganggu pernapasan.

“Kalau ditanya spesifik apa gejala yang bisa membedakan, susah, karena apa yang dirasakan saat usia kehamilan di masa trimester ketiga–apalagi kalau hamilnya besar–dan gejala gagal jantung itu hampir sama,” ujarnya seperti dilansir dari Antara.

Mengingat sulitnya membedakan gejala kardiomiopati peripartum pada akhir masa kehamilan, dokter yang akrab disapa Riri itu mengatakan pihaknya sangat jarang mendapatkan kasus pasien dengan PPCM.

Ia menjelaskan bahwa PPCM biasanya terjadi antara tiga bulan sebelum melahirkan dan tiga bulan setelah melahirkan (kardiomiopati postpartum). Menurutnya, gejala gagal jantung, mungkin dapat lebih spesifik dikenali pada masa setelah melahirkan. Sebab, kondisi rahim sudah kembali dalam ukuran normal.

Infografik SC Gejala Gagal Jantung pada Bumil
Infografik SC Gejala Gagal Jantung pada Bumil. tirto.id/Fuad


Gejala tipikal kardiomiopati pada ibu hamil juga termasuk pembengkakan pada bagian kaki. Kondisi pembengkakan juga umum dan normal dialami pada masa kehamilan.

Kondisi itu, kata Riri, juga kerap tidak disadari perbedaannya, apakah bengkak karena hamil atau karena gejala gagal jantung. Namun ia juga mencatat pengecekan kondisi bengkak untuk membedakan masih mungkin dilakukan sebab bengkak pada gagal jantung biasanya tidak bergantung oleh posisi.

“Kalau pada gagal jantung biasanya dia bengkaknya tidak tergantung oleh posisi. Kalau pada kehamilan, kalau diangkat kakinya, dia akan kempes. Kalau ini (gagal jantung) mau diangkat, tetap bengkak,” katanya.

Pembengkakan pada gagal jantung terjadi ketika jantung tidak dapat memompa darah ke seluruh tubuh dengan baik, kemudian darah akan kembali masuk dan bertahan di jantung sehingga dapat terjadi penumpukan cairan.

Sementara itu, menurut PERKI, PPCM merupakan gagal jantung akibat disfungsi sistolik dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri (FEVK) kurang dari 45 persen tanpa penyebab yang reversibel pada akhir masa kehamilan hingga beberapa bulan pasca-persalinan, pada perempuan yang sebelumnya diketahui tidak menderita penyakit jantung.

Riri mengatakan penyebab PPCM hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti. PERKI mencatat bahwa PPCM kemungkinan besar akibat proses inflamasi dan angiogenesis yang tidak seimbang, termasuk kerusakan vaskular.

Walau penyebabnya masih belum jelas, Riri mengingatkan terdapat sejumlah faktor risiko perempuan yang bisa menalami gagal jantung di masa kehamilan seperti hamil pertama di atas usia 35 tahun, hamil lebih dari tiga kali atau sering, dan hamil dengan kormobid (misalnya hipertensi, diabetes, autoimun).


Baca juga artikel terkait GAGAL JANTUNG PADA PEREMPUAN HAMIL atau tulisan menarik lainnya Nur Hidayah Perwitasari
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight