tirto.id - Warga Singapura akan kembali diperbolehkan mengonsumsi produk dadih darah babi yang sempat dilarang selama 27 tahun terakhir. Dadih darah babi memang menjadi salah satu bahan baku dalam budaya kuliner Singapura. Namun, mengapa bahan makanan ini sempat dilarang hampir tiga dekade lamanya?
Seturut CNA, Badan Pangan Singapura (SFA) sebelumnya telah mengumumkan izin impor dadih darah babi pada 1 April 2026 lalu. Dalam keterangannya kala itu, dadih darah babi akan diperbolehkan dikonsumsi selama melalui proses impor resmi.
SFA juga menyebut bahwa dadih darah babi yang kini diperbolehkan di Singapura itu akan berasal dari Rumah Pemotongan babi Bangkhla di Thailand. Produsen CP Foods disebut menjadi produsen yang menjual dadih darah babi kemasan.
Dalam penjelasannya April lalu, CP Foods menyebut dadih darah babi yang mereka produksi telah menjalani serangkaian proses untuk memastikan kebersihan produk. Disebutkan pula, dadih ini telah “menjalani perawatan suhu tinggi dan pasteurisasi”.

Produk makanan berbahan darah hewan, termasuk dadih darah babi, sebelumnya merupakan bahan makanan yang dilarang di Singapura. Pelarangan ini mulai berlaku sejak 1999.
Pada 2022 lalu, seorang warga negara Singapura didenda 8.000 dolar Singapura atau sekitar Rp110 juta karena kedapatan menjual dadih darah babi. Namun, kini pelarangan atas produk ini akan diperlonggar.
Akan tetapi, mengapa bahan makanan satu ini sempat dilarang sebegitu lama di Singapura?
Produk Darah Babi Sempat Dilarang Karena Wabah Nipah
Pelarangan produk darah hewan seperti dadih darah babi di Singapura sebelumnya diterapkan karena wabah virus Nipah yang sempat merebak pada 1999. Sejak wabah itu, otoritas Singapura melarang penduduknya menggunakan darah hewan sebagai bahan makanan.
Karena larangan konsumsi produk darah hewan itu, rantai produksi dadih darah babi di tingkat lokal juga dihentikan. Rumah penyembelihan babi di Singapura tak lagi diperbolehkan menjadikan darah hewan itu sebagai komoditas.
Padahal, sebelum 1999, dadih darah babi merupakan bahan makanan yang populer di Singapura. Menukil Mothership, bahan makanan ini umum ditemukan di berbagai pusat jajanan di negara kota tersebut, dari Orchard Towers hingga Bedok.

Akan tetapi, sejak wabah Nipah melanda Malaysia pada 1998-1999, bahan makanan ini jadi isu yang sensitif bagi Singapura. Negara kota itu turut terdampak wabah Nipah dengan satu kematian terkonfirmasi.
Setelah diselidiki, virus Nipah masuk ke Singapura melalui impor babi yang terinfeksi dari Malaysia. Hal ini menyebabkan 11 pekerja di rumah potong hewan Singapura terinfeksi.
Virus Nipah rupanya menginfeksi hewan melalui peredaran darah. Virus ini dikenal dapat bermutasi, memperbanyak diri, dan masuk ke aliran darah inangnya. Alhasil dengan menjadikan darah hewan sebagai makanan, dapat menjadi salah satu cara penyebaran virus Nipah.
Otoritas Singapura kala itu kemudian turut melakukan pemusnahan massal babi dan menerapkan sejumlah larangan terkait produk makanan berbasis hewan, termasuk larangan dadih darah babi pada 1999.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































