Menuju konten utama

Pemberontakan di Negara Mali Tewaskan Menhan, Apa yang Terjadi?

Situasi politik negara Mali yang tidak stabil menjadikannya penuh dengan pemberontakan. Konflik bersenjata Sabtu lalu diklaim perbuatan JNIM dan Tuareg.

Pemberontakan di Negara Mali Tewaskan Menhan, Apa yang Terjadi?
Ilustrasi tentara. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Mali diguncang konflik bersenjata. Sebuah serangan terorganisir pada Sabtu (24/4) waktu setempat bahkan telah menewaskan Menteri Pertahanan Mali Jenderal Sadio Camara. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di negara tersebut?

Sebelumnya, seturut Al Jazeera, kematian Sadio Camara telah dikonfirmasi oleh juru bicara pemerintah, Issa Ousmane Coulibaly, pada Minggu (26/4). Disebutkan, Camara tewas dalam serangan yang menargetkan kediamannya di Kota Kati.

Camara merupakan salah satu tokoh sentral dalam pemerintahan militer yang kini berkuasa setelah kudeta pada 2020 dan 2021. Sejumlah pihak bahkan memperkirakannya sebagai sosok pemimpin masa depan Mali.

Serangan yang menewaskan Camara sendiri dilaporkan telah dilakukan sebuah kelompok bersenjata dengan skema bom bunuh diri. Ledakan kemudian ikut membunuh Camara, istri keduanya, serta dua cucunya.

Rangkuman Insiden Konflik Bersenjata di Mali

Serangan yang terjadi di Mali pada Sabtu tersebut dilaporkan berlangsung secara meluas. Selain Kati, serangan juga dilaporkan terjadi di Kota Gao, Kidal, Sevare, juga Ibu Kota Bamako.

Seluruh serangan itu diduga berlangsung secara terorganisir dengan skala koordinasi yang masif.

"Staf Umum Angkatan Bersenjata mengonfirmasikan kepada publik bahwa kelompok teroris bersenjata tak dikenal menargetkan lokasi dan barak tertentu di ibu kota dan pedalaman pada pagi hari ini, 25 April 2026. Pertempuran masih berlangsung," kata keterangan militer Mali pada Sabtu.

Konflik juga berlangsung dalam pertempuran aktif. Saling balas serangan antara militer dengan kelompok bersenjata dilaporkan masih terjadi hingga Minggu (26/4).

Serangan meluas itu kemudian membuat jalanan di ibu kota diblokir. Pangkalan militer di sejumlah kota macam Kati, Sevare, serta Kidal dan Gao diserang secara langsung.

Kamp militer dekat bandara Bamako, tempat pasukan tentara bayaran Rusia bermarkas, juga dilaporkan menjadi tempat adu tembak.

Seturut laporan AFP, sejumlah warga Kati mengunggah gambar di media sosial, menunjukkan rumah mereka yang hancur akibat bentrokan senjata. "Kami bersembunyi di Kati," kata seorang warga.

Militer Mali menyebut telah membunuh "beberapa ratus" pelaku serangan dan memukul mundur pelaku lainnya. Namun, belum ada keterangan jumlah penyerang yang tewas terbunuh.

Dalam kesempatan yang sama, militer Mali juga menyebut bahwa situasi telah terkendali. Mereka menyebut tengah melakukan operasi penyapuan skala besar di Bamako dan tempat-tempat lainnya.

Serangan yang baru saja terjadi di Mali ini merupakan salah satu perkembangan terbaru dari krisis keamanan yang berlangsung sejak lama di negara tersebut. Krisis ini telah berlangsung sejak 2012 lalu.

Kala itu, Presiden Mali yang dipilih secara demokratis, Amadou Toumani Toure, dikudeta oleh tentara pada Mei 2012. Tentara beralasan Toure telah gagal menangani pemberontakan kelompok Tuareg di Mali bagian utara.

Setelah peristiwa itu, situasi politik Mali tak pernah stabil. Berkali-kali Mali mencoba untuk melakukan transisi menuju pemerintahan yang demokratis, namun kudeta kembali terjadi pada 2020 dan 2021 lalu.

Kudeta terakhir yang terjadi secara berturut-turut pada 2020 dan 2021 itu membuat Mali kini diperintah oleh junta militer. Presiden Mali kini adalah Jenderal Assimi Goita yang telah berkuasa sejak 2021.

Di negara tersebut, Goita menjabat sebagai presiden transisi. Meskipun jadi presiden transisi dan telah memerintah sejak 2021, masa jabatan Goita baru saja diperpanjang pada 2025 lalu. Jenderal tertinggi Mali itu akan berkuasa hingga 2030 berdasarkan mandat terbaru.

Pemerintahan Goita kemudian diwarnai operasi militer agresif, terutama, di Mali bagian utara. Goita berhasil mengonsolidasikan bantuan militer dari berbagai negara, termasuk tentara bayaran Rusia, dan menggunakannya untuk menekan kelompok separatis Tuareg.

Akan tetapi, sejak saat itu, saling serang terjadi antara pemerintah junta pimpinan Goita dengan kelompok anti-pemerintah yang mengarah pada pemberontakan. Salah satu serangan dengan skala terbesar terhadap pemerintah Mali terjadi pada akhir pekan lalu.

Pelaku Serangan Bersenjata di Mali

Ada dua kelompok bersenjata di Mali yang telah mengeklaim bertanggung jawab atas serangan pada akhir pekan lalu. Keduanya adalah Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) dan kelompok pejuang Tuareg dari Front Pembebasan Azawad (FLA).

JNIM merupakan kelompok bersenjata yang terkait dengan organisasi teroris al-Qaeda. Didirikan sekitar tahun 2017, JNIM berkembang jadi "cabang" al-Qaeda di wilayah Afrika barat.

Kelompok ini telah melancarkan berbagai serangan ke pemerintah Mali dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, pada 2025, JNIM memblokade jalur impor bahan bakar Mali yang membuat kehidupan di Kota Bamako diliputi krisis energi.

Sementara pejuang Tuareg merupakan kelompok separatis yang berbasis di Mali bagian utara. Konflik separatisme Tuareg dan Mali telah berlangsung sejak 1960-an, namun belakangan pemerintah Mali melancarkan operasi militer agresif ke kelompok ini.

Dalam serangan yang meluas di Mali pada akhir pekan lalu, JNIM mengeluarkan pernyataan berisi klaim serangan mereka di Kati, Bamako, dan daerah-daerah utara, termasuk Mopti, Sevare, dan Gao.

Tak hanya mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan Menteri Pertahanan Mali itu, JNIM juga mengklaim telah merebut Kota Kidal di utara. JNIM menyebut perebutan ini dilakukan melalui operasi gabungan bersama FLA.

Juru bicara FLA, Mohamed Elmaouloud Ramadane, bahkan mengatakan bahwa kelompok tersebut tak hanya merebut Kidal, tetapi juga telah merebut Gao.

Belum ada verifikasi independen terkait klaim perebutan kota tersebut. Namun, sejumlah video memperlihatkan sejumlah pria bersenjata telah memasuki Kamp Pemuda Nasional Kidal pada Sabtu. Video lain juga menampilkan situasi serupa di kediaman Gubernur Kidal.

Baca juga artikel terkait PEMBERONTAKAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar