STOP PRESS! Menteri Perhubungan Umumkan Revisi Taksi Daring di Tujuh Kota

Kenakalan Pesepakbola di Era Informatika

Kenakalan Pesepakbola di Era Informatika
Pemain Real Madrid Cristiano Ronaldo merayakan golnya saat melawan Villarreal di Santiago Bernabeu Stadium, Madrid. [Foto/Reuters//Susana Vera]
12 Oktober, 2016 dibaca normal 5 menit
Media sosial telah mengubah pola interaksi manusia, khususnya antara figur publik dan para penggemarnya. Para pesepakbola tidak ketinggalan memanfaatkan media sosial untuk bersosialisasi sekaligus memperkuat citra diri. Namun, terkadang semuanya tidak sesuai harapan dan berbalik menjadi bahan olok-olokan.
tirto.id - Apa yang dilakukan seorang pesepakbola saat mengalami kekalahan dari rival terbesar? Kecewa? Pastinya. Mengurung diri di kamar atau menghabiskan waktu bergulat dengan alkohol di bar? Bisa jadi.

Lalu, apa yang akan dilakukan seorang pesepakbola milenial ketika mengalami kekalahan? Apakah ia akan curhat dan merengek di media sosial?

Jawabannya adalah iya, jika anda bertanya kepada Ryan Babel.

Kekonyolan ini terjadi selepas Liverpool—klub yang kala itu dibela Babel—mengalami kekalahan 0-1 di kandang Manchester United, Old Trafford, pada lanjutan Liga Inggris musim 2011/2012. Dalam pertandingan tersebut, Liverpool mengalami kesialan ganda setelah MU dihadiahi penalti di menit-menit awal saat Dimitar Berbatov melakukan diving setelah bersenggolan dengan bek Liverpool, Daniel Agger. Penalti tersebut akhirnya dieksekusi mulus oleh Ryan Giggs, dan menjadi penentu kemenangan MU atas rival abadinya tersebut.

Tak cukup sampai di situ, Liverpool kembali harus menderita setelah sang kapten, Steven Gerrard, dikartu merah akibat melakukan tekel berbahaya terhadap Michael Carrick. Penalti dan kartu merah yang diterima Liverpool tentu saja memantik ketidakpuasan di kalangan pemain Liverpool kepada sang pengadil yang bertugas saat itu, Howard Webb, karena dianggap terlalu memihak MU.

“Penalti itu adalah lelucon. Saya sudah lihat tayangan ulangnya dan—kecuali aturan sepakbola sudah berubah—itu tadi sama sekali bukan penalti!,” semprot Kenny Dalglish, manajer Liverpool kala itu, kepada BBC.

Dasar generasi milenial, Babel punya caranya sendiri untuk melakukan protes. Alih-alih berbicara di depan media atau melapor ke pihak berwenang, ia justru mengunggah gambar Howard Webb yang sudah diedit sehingga seakan-akan mengenakan jersey MU di akun Twitternya.

“Dan mereka bilang orang ini adalah salah satu wasit terbaik? Itu pasti cuma lelucon. SMH (Shaking My Head),” tulis Babel dalam unggahannya itu.

Unggahan Babel tentu saja langsung memantik perhatian para netizen. Gambar tersebut menjadi viral dan dibagikan serta di-retweet oleh banyak orang. Sebelumnya, Babel memang dikenal cukup aktif di Twitter. Saat kejadian ini bergulir, ia tercatat sudah memiliki 166.000 followers.

Babel ternyata tidak sendirian. Langkahnya merisak Webb diikuti pula oleh Paul Dalglish, anak Kenny Dalglish. Paul ikut-ikutan mengunggah foto Sir Alex Ferguson (manajer MU saat itu) yang tengah merangkul Webb yang memakai seragam MU.

“Howard Webb MBE. Manchester of Busby Era. Saya tidak biasanya nyinyir seperti ini, tapi untuk mereka, saya bisa membuat beberapa pengecualian,” tulis Paul. MBE sebenarnya adalah gelar kebangsawanan Inggris “Member of the Most Excellent Order of the British Empire “. Paul memplesetkannya menjadi Manchester of The Busby Era, dengan mengacu kepada Sir Matt Busby, nama salah satu pelatih legendaris MU.

Asosiasi sepakbola Inggris, FA, yang memang terkenal konservatif, tentu saja tidak tinggal diam. Mereka menjatuhkan denda sebesar 10.000 poundsterling kepada Babel atas tuduhan “perilaku tidak pantas” (improper conduct).

“Laman-laman media sosial, seperti Twitter, harus dipandang sebagai sebuah ruang publik. Seluruh orang di dalamnya harus sadar bahwa setiap komentar yang dikeluarkan akan tersampaikan ke khalayak ramai, seperti layaknya pernyataan publik di media lainnya,” papar ketua komisi regulasi FA yang memimpin persidangan Babel, Roger Burden, kepada Independent.

Babel ternyata menyesali tingkahnya itu. Tak berapa lama seusai mengunggah gambar Webb, ia langsung mengucapkan permintaan maafnya.

Sorry, Howard Webb. Maaf jika mereka [netizens] terlalu menganggap serius postinganku. Ini hanyalah reaksi emosional sesaat setelah kekalahan di pertandingan penting,” tulis Babel. Ia bahkan menempatkan dirinya sendiri dalam lelaku yang diklaimnya sebagai “Twitterjail” dimana ia berpuasa tweet selama beberapa waktu demi menunjukkan penyesalannya.

Namun, nasi sudah telanjur menjadi bubur. Dan bubur itu sudah sampai ke perut FA.

Babel bukannya tidak mendapatkan pembelaan. Beberapa pihak menyayangkan sikap FA yang terlalu kaku dalam memandang tindakan Babel.

“Saya dan tim sempat tertawa melihat foto itu, tapi menghukum Babel hanya untuk itu? Apa yang membuatmu bisa mendendanya untuk itu? Ini sampah namanya,” ujar manajer Blackpool saat itu, Ian Holloway, kepada BBC.

“Ke mana hilangnya rasa humor kita dalam sepakbola. Ayolah, Babel sudah minta maaf. Mari kita move on,” sindir ketua Asosiasi Pesepakbola Profesional Inggris (PFA), Gordon Taylor, seperti dikutip dari BBC.

Frekuensi yang Melenceng

Selera humor merupakan salah satu pemantik terbesar bagi seseorang untuk mengunggah apapun di media sosial. Namun, lewat media sosial pula, orang-orang seringkali dapat menyadari bahwa selera humor sifatnya sangatlah subyektif.

Humor seringkali dianggap sebagai sebuah bahasa yang universal. Hampir semua orang suka terhadap humor, meskipun dengan takaran yang berbeda-beda. Di sisi lain, humor juga merupakan sebuah fenomena sosial yang memiliki variabel-variabel pembangun sendiri. Variabel itu bisa berupa banyak hal : mulai dari budaya, adat, kebiasaan, bahasa, folklore, hingga sistem sosial.

Tak heran, selera humor tiap orang atau masyarakat memiliki frekuensinya sendiri-sendiri. Media sosial selanjutnya menjadi tempat frekuensi itu saling bertemu, bertubrukan, tidak nyambung, dan akhirnya, mendapatkan pasangannya masing-masing.

Perbedaan frekuensi itu, misalnya, dapat kita saksikan dari tweet Cristiano Ronaldo ini. Dalam kicauan bertanggal 22 Oktober 2013 pukul 11.30, CR7 (julukan Ronaldo) membuat sebuah pengumuman resmi yang sebenarnya cenderung “biasa” :

“Terima kasih untuk semua pihak yang telah berpartipasi dalam Kontes Pakaian Dalam Pria CR7. Sungguh menyenangkan ( real pleasure) rasanya melihat seluruh foto kalian.”

Oke, CR7 (atau mungkin orang yang mengelola Twitternya) mengaku bahwa ia menikmati foto-foto peserta lomba pakaian dalam pria yang disponsorinya. Sebagai sponsor kontes yang baik, adalah wajar jika ia mengapresiasi mereka yang telah ikut serta. Tidak ada yang salah dengan itu.

Kecuali jika kita dan CR7 punya frekuensi berbeda. Yah, kita dan orang-orang yang menertawakan kicauan itu, tentu saja.

Sadar ada yang salah dengan kicauannya, Cristiano Ronaldo kembali berkicau beberapa jam setelah tweet itu :

“Pemilihan kata yang keliru tentang Kontes barusan bisa sangat menipu, khususnya bagi mereka yang tidak menyimak sejak awal”

Oke, Cristiano (atau siapa pun di balik akunmu), tampaknya frekuensi kita kali ini sudah nyambung.

Para Komedian Kebablasan


Berbicara masalah frekuensi, dunia sepakbola mengenal beberapa pemain nyentrik yang hingga saat ini sinyalnya belum bisa ditangkap seutuhnya oleh publik : Adrian Mutu, Joey Barton, dan tentu saja, Mario Balotelli.

Mari kita mulai dari Adrian Mutu. Pemain Rumania yang di masa mudanya dijuluki sebagai "anak ajaib" ini sebenarnya memiliki talenta yang cukup mumpuni. Sayangnya, ia selalu bermasalah dengan kepribadiannya yang sangat impulsif.

Mutu berkali-kali berganti klub dan keluar-masuk tim nasional Rumania karena bermasalah dengan pelatih atau rekan setimnya. Akhirnya, semua berpuncak pada November 2013, saat ia tidak terpilih masuk ke skuad timnas Rumania untuk menghadapi Kualifikasi Piala Dunia 2014.

Mutu tentu saja tidak terima atas keputusan Adrian Piturca, pelatih Rumania saat itu. Ia sangat mengharapkan masuk ke timnas untuk mengakhiri kariernya yang panjang. Namun, reaksinya justru mempercepat waktu pensiun Mutu di timnas.

Mutu mengunggah foto sang pelatih, Adrian Piturca, di laman Facebooknya. Lucunya, Mutu mengedit foto Piturca dan mengganti wajahnya dengan Mr. Bean, tokoh komedi asal Inggris itu. Sontak hal ini membuat Piturca murka dan langsung mencoret Mutu dari timnas dan bersumpah tak akan memanggilnya lagi selama ia menjabat sebagai pelatih timnas.

Dan, ya, akhirnya kita mendapatkan seorang pemain yang kehilangan kesempatan untuk mengakhiri karier dengan cemerlang hanya karena curhat di media sosial.

Berbicara tentang media sosial, kita tentu saja tidak bisa melupakan nama Joey Barton. Pemain temperamental ini bahkan sudah terkenal sebelum era media sosial mulai meledak.

Barton, layaknya seluruh pemain yang tampil dalam tulisan ini, sebenarnya juga memiliki talenta yang bernilai emas. Sayangnya, seperti juga seluruh pemain dalam tulisan ini (kecuali CR7), karier Barton meredup karena tingkahnya yang berlebihan di dalam dan luar lapangan.

Barton pernah ditahan karena menyetir sambil mabuk, memukuli orang di bar, memukuli rekan setim saat latihan, berkelahi di lapangan, hingga mematikan cerutu yang dihisapnya di mata kawannya. Dan saat ia mulai menemukan media sosial, Barton seperti memiliki etalase kekonyolan pribadinya sendiri.

Untuk merayakan ulang tahun Twitter yang kesepuluh, laman Mirror membuat daftar 10 kekeliruan (fail) terbesar yang dilakukan oleh pesepakbola di ranah Twitter. Kita tidak akan terkejut melihat siapa pemenangnya : Joey Barton!

Kicauan inilah yang membuat Barton masuk daftar tersebut :

“Neymar adalah Justin Biebernya sepakbola. Brilian di video-video Youtube tapi menjijikkan seperti kencing kucing di dunia nyata..”

Oke, Barton, itu adalah deskripsi yang amat sangat membantu.

Jika ada satu pesepakbola yang setara dengan Barton di media sosial, maka Mario Balotelli-lah orangnya. Siapa yang tidak kenal pesepakbola yang akrab disapa “Super Mario” ini? Beragam kontroversi yang ditimbulkan Balotelli mungkin telah melebihi jumlah trofi yang pernah diraihnya.

Kenakalan Pesepakbola di Era Informatika

Kontroversi yang ditimbulkan Balotelli membuatnya jadi salah satu sosok paling dibenci dalam dunia sepakbola. Lembaga anti-diskriminasi, Kick It Out, melansir data yang cukup mengejutkan : Balotelli mendapatkan sekitar 8.000 posting yang menunjukkan kebencian terhadap dirinya, di mana 52 persen di antaranya mengandung muatan rasisme. Data yang dilansir pada 2015 itu mendudukkan Balotelli sebagai pemain yang paling sering dirisak di Liga Inggris.

Sayangnya, Balotelli sendiri juga terjebak dalam rasisme. Dalam unggahannya di Instagram pada Desember 2014, ia mengunggah gambar Super Mario Bros, tokoh game yang menjadi muasal julukannya.

Unggahan itu sebenarnya mengandung pesan-pesan anti rasisme (“Mario Bros adalah tokoh asal Italia yang diciptakan orang Jepang, berbicara bahasa Inggris, dan berkumis layaknya orang Meksiko”) sampai Balotelli membubuhkan kata-katanya sendiri : “...lompat layaknya orang kulit hitam dan mencuri koin seperti orang Yahudi.”

Saat unggahannya memicu kecaman, Balotelli langsung berkicau di Twitternya : “Ibu [angkatku] juga seorang Yahudi, jadi tutup mulut kalian semua!”

Belakangan, penyerang yang kini bermain di Nice itu meminta maaf atas gambar tersebut. Ia mengungkapkan, dirinya hanya ingin “menambahkan sedikit humor dalam gambar itu”.

Humor, memang, bagaikan pisau bermata dua, khususnya jika berada di genggaman tangan yang salah.

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA atau tulisan menarik lainnya Putu Agung Nara Indra
(tirto.id - put/nqm)

Keyword