Menuju konten utama

Kemen PUPR Minta Masyarakat Bijak Memilih Rute Mudik Lebaran

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR Herry TZ mengatakan, pemerintah sudah memperbaiki infrastruktur dan fasilitas pada jalur-jalur arteri, sehingga bisa digunakan.

Kemen PUPR Minta Masyarakat Bijak Memilih Rute Mudik Lebaran
Ilustrasi. Antrean kendaraan menuju Jakarta menumpuk di pintu Tol Cipali, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (23/12/2017). ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

tirto.id - Musim mudik Lebaran 2018 segera tiba. Pemerintah pun terus memastikan kesiapan infrastruktur dan prasarana sehingga dapat mendukung kelancaran masyarakat saat melakukan perjalanan.

Untuk di Pulau Jawa sendiri, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menekankan bahwa, ada lintas utara, lintas tengah, dan lintas selatan yang bisa dilalui. Ruas Tol Trans Jawa yang menghubungkan antara Jakarta hingga Surabaya dan Pasuruan juga tengah diupayakan agar bisa mulai digunakan saat musim mudik Lebaran nanti.

“Kalau Tol Trans Jawa sudah ada 524 kilometer yang beroperasi dan 237 kilometer yang fungsional. Untuk yang fungsional itu akan beroperasi (penuh) pada akhir 2018,” ujar Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR Herry TZ saat jumpa pers di kantornya, Jakarta pada Jumat (18/5/2018).

Setidaknya ada lima ruas Tol Trans Jawa yang bakal mulai dibuka namun masih berstatuskan fungsional. Kelima ruas itu ialah Pemalang-Batang, Batang-Semarang, Salatiga-Kartasura, Sragen-Ngawi, dan Wilangan-Kertosono.

Sementara itu, ruas Tol Trans Sumatera yang menghubungkan Bakauheni, Lampung sampai dengan Aceh juga tengah dipersiapkan agar bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Adapun panjang ruas tol yang statusnya fungsional sekitar 125 kilometer, sedangkan jalur yang berstatuskan operasi sepanjang 119 kilometer.

Kementerian PUPR berharap tol fungsional dapat digunakan 24 jam. Mereka pun berjanji prasarana yang tersedia di ruas tol, seperti lampu dan rambu jalan, bisa siap siang dan malam. Akan tetapi untuk realisasinya nanti, Korlantas Polri yang berwenang untuk mengaturnya lebih lanjut.

Lebih lanjut, Herry menyampaikan bahwa akan ada penghentian sementara kegiatan konstruksi jalan tol selama periode mudik. Menurut rencana, proyek-proyek di jalan tol bakal berhenti sejak H-10 hingga H+10 Lebaran 2018.

“Ini untuk mengantisipasi kemacetan. Seperti pada jalan Tol Jakarta-Cikampek, sepenuhnya akan dimanfaatkan untuk mudik. Lalu ada pengaturan pada MCB (Median Concrete Barrier) agar lebih memberikan kelancaran,” jelas Herry.

Meski telah melakukan sejumlah persiapan agar mudik lewat jalan tol lebih nyaman, namun Herry mengimbau agar masyarakat dapat lebih bijak memilih rute. Menurut Herry, jalan tol bukanlah satu-satunya alternatif, karena pemerintah juga sudah memperbaiki infrastruktur dan fasilitas pada jalur-jalur arteri.

Salah satu upaya yang dilakukan agar masyarakat tidak mengesampingkan jalur arteri ialah dengan mengembangkan daerah wisata di sana. Selain dapat meningkatkan kesejahteraan warga sekitar, volume kendaraan pun bisa lebih terurai karena tidak semuanya melintas lewat jalan tol.

“Ada juga moda transportasi lain yang lebih nyaman. Seperti pesawat yang lebih cepat, maupun kereta api. Jadi jangan hanya terpaku ke jalan tol,” ucap Herry.

Evaluasi dari pelaksanaan mudik tahun lalu pun menjadi acuan dari persiapan mudik Lebaran tahun ini. Sejumlah hal yang menjadi catatan di antaranya pemberlakuan contraflow di rest area, pembayaran nontunai di gerbang tol, serta dibukanya sejumlah ruas tol fungsional. “Dari segala lini kita lihat apa yang bisa ditingkatkan,” kata Herry lagi.

Masih dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Arie Setiadi mengklaim kualitas jalan tol dan jalan arteri pada tahun ini jauh lebih baik. Kendati demikian, ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada serta memperhatikan kondisi kendaraan, khususnya saat melintasi ruas tol fungsional.

Oleh karena statusnya itu, Kementerian PUPR menilai kapasitas daya tampung di tol fungsional memang masih belum maksimal. Dengan demikian, kendaraan yang mogok disebutkan bakal sangat mengganggu kelancaran perjalanan di situ.

“Jangan euforia sehingga melaju dengan kecepatan tinggi sekali, menembus sampai Surabaya. Baiknya setiap 2 jam juga harus istirahat. Sedangkan di jalur-jalur nasional, waspada terhadap arus motor, sehingga tetap harus ada kehati-hatian,” ucap Arie.

Pemerintah sendiri memprediksi puncak arus mudik akan terjadi pada 8 Juni 2018. Sedangkan untuk puncak arus balik mudik berpotensi terjadi pada 20 Juni dan 24 Juni 2018.

Adapun Kementerian PUPR menyebutkan prediksi tersebut mengacu pada asumsi bahwa pemudik akan mengambil seluruh masa cutinya. Sebagaimana diketahui, cuti bersama dan hari libur Lebaran 2018 akan berlangsung 11-20 Juni 2018.

Terkait dengan titik-titik rawan kemacetan di Pulau Jawa, Arie tidak menampik apabila masih ada yang belum bisa diatasi. Sebagai solusinya, ia pun menawarkan agar pemudik semakin mempertimbangkan penggunaan jalur selatan.

“Untuk yang ke Bandung bisa masuk ke Ciwidey dan masuk ke Tol Pasir Koja-Soreang. Sedangkan yang ingin ke Jakarta bisa masuk lewat selatan Sukabumi, karena kita akan fungsionalkan seksi I, Tol Bogor-Cigombong. Nanti masuk Tol Jagorawi,” jelas Arie.

Baca juga artikel terkait MUDIK LEBARAN 2018 atau tulisan lainnya dari Damianus Andreas

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Damianus Andreas
Penulis: Damianus Andreas
Editor: Yandri Daniel Damaledo