10 Agustus 1846

Kematian James Smithson dan Pendirian Museum Terbesar di AS

Oleh: Muhammad Fakhriansyah - 10 Agustus 2021
Dibaca Normal 4 menit
Harta peninggalan Smithson dimanfaatkan untuk membangun 19 Museum, 9 lembaga penelitian, kebun binatang, dan perpustakaan.
tirto.id - Larry Daley adalah mantan penjaga American Museum of Natural History, New York. Dia terkejut ketika mendengar kabar bahwa seluruh koleksi dari museum yang pernah dijaganya itu dipindahkan sebagai dampak dari peremajaan museum. Larry yang memiliki banyak teman berupa patung-patung yang bangkit kembali dan hidup, sedih atas hal ini karena tidak dapat berjumpa kembali dengan teman-temannya.

Tak lama kemudian, Larry mendapat telepon dari salah satu patung bahwa keadaan dirinya di tempat baru dalam bahaya karena kebangkitan patung Firaun yang berbuat jahat. Untuk menyelamatkan kawannya itu, Larry langsung bergegas menuju tempat penyimpanan isi museum di Smithsonian Institution, Washington. Di sana, Larry kembali berhadapan dengan patung-patung yang kembali bangkit lalu bersatu untuk mengalahkan Firaun bernama Kahmuhrah. Berawal dari sini, konflik yang dibarengi sentuhan komedi pun dimulai.

Kisah tersebut merupakan cuplikan dari film besutan Shawn Levy berjudul Night at the Museum: Battle of Smithsonian (2009), sekuel dari sinema sebelumnya berjudul Night at the Museum (2006). Salah satu hal menarik dari alur cerita film tersebut adalah penggambaran tentang megahnya Smithsonian Institution sebagai salah satu museum terbesar di Amerika Serikat.

Smithsonian Institution merupakan kompleks museum sekaligus tempat riset dan pendidikan yang didanai dan didukung penuh oleh pemerintah Amerika Serikat. Tetapi, pendirian museum ini rupanya bukan diinisiasi oleh pemerintah semata, melainkan digagas oleh peneliti Inggris bernama James Smithson.


Berawal dari Harta Waris

Alkisah, pada akhir abad ke-18 di Inggris lahir seorang anak laki-laki dari pasangan Huge Smithson dan Elizabeth Hungerford Keate Marcie yang diberi nama James Marcie, dan kemudian berubah menjadi James Smithson. Ia lahir dari keluarga bangsawan sehingga mudah meraih akses pendidikan. Smithson menempuh pendidikan di sekolah terbaik hingga menjadi mahasiswa Pembroke College, Oxford, pada 1782.

Menjadi mahasiswa membuka pintu gerbang bagi Smithson untuk menjadi peneliti kimia dan mineralogi. Setelah lulus, ia bergabung dengan banyak perkumpulan ilmiah dan berkeliling Eropa untuk melakukan penelitian. Ketekunannya melakukan riset yang memberikan banyak sumbangsih bagi ilmu kimia dan mineralogi mengantarkan dirinya menjadi anggota termuda Royal Society--organisasi peneliti yang sangat termahsyur di Inggris. Namanya kian naik daun di kalangan peneliti sekaligus menjadi salah satu peneliti terkaya di Inggris.

Kesuksesan menjadi peneliti tidak membuat ia mendulang kesuksesan yang sama dalam urusan pribadi dan keluarga. Ia hidup dalam kesendirian dan sering sakit-sakitan. Kondisi ini berlangsung hingga akhir hayatnya pada 1829. Wafatnya Smithson tidak hanya meninggalkan gagasannya tentang penelitian, tetapi juga meninggalkan harta yang banyak dari hasil kerja kerasnya dan warisan dari mendiang kedua orang tuanya.

Tiga tahun sebelum wafat, Smithson menulis surat wasiat yang ditujukan kepada keponakannya, Henry James Hungerford. Ia meminta agar keponakannya mengambil sebagian hartanya, dan sebagian lagi dialokasikan ke Washington, Amerika Serikat, untuk didirikan Smithsonian Institution sebagai wadah peningkatan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Pemilihan Amerika Serikat sebagai tujuan akhir dari harta-harta Smithson menimbulkan pertanyaan tersendiri. Pasalnya, Smithson belum pernah menginjakkan kakinya di AS. Lalu, mengapa ia menyebut AS dalam surat wasiatnya?

Hal ini menimbulkan berbagai spekulasi. Ada yang menyebut bahwa pemilihan AS dimotivasi oleh kemarahan Smitshon terhadap Inggris yang memiliki aturan “kuno” yang pernah melarang Smihtson menggunakan nama belakang ayahnya. Sementara Nina Burleigh dalam The Strangers & The Statesman (2015) mengatakan bahwa Smithson sesungguhnya terpukau dengan semangat baru AS yang mencerminkan nilai-nilai demokrasi dan universalisme, sehingga ia memilih negara itu jadi tujuan utama hartanya.


Hingga kini, tidak ada jawaban pasti atas motivasi utama Smithson memilih AS sebagai pelarian harta-hartanya. Meski begitu, surat wasiat tersebut menjadi kunci atas pendirian Smithsonian Institution.

Setelah Henry wafat pada 1835, harta peninggalan Smithson yang akan disumbangkan ke Amerika Serikat terdengar oleh Presiden AS Andrew Jackson. Ia awalnya skeptis ada orang Inggris yang mau menyumbangkan hartanya kepada AS. Pasalnya, saat itu hubungan AS-Inggris tidak begitu baik dan masih banyak masyarakat yang menganggap Inggris adalah negeri yang mengancam kedaulatan AS.

Meski demikian, Jackson tetap menyelidiki kabar tersebut dengan mengirimkan utusan khusus, Richard Rush, ke London pada 1836. Sesampainya di Inggris, penjemputan harta tidak semudah yang dibayangkan. Rush harus menghadapi berbagai kerumitan birokrasi dan gugatan persidangan. Banyak pihak yang mengklaim dan merasa berhak atas harta Smithson. Alhasil, Rush pun harus menunggu dan berdiam diri di Inggris untuk menghadapi persidangan dengan bantuan pengacara.

Setelah dua tahun menjalani proses persidangan, akhirnya pengadilan Inggris memutuskan untuk menyerahkan kekayaaan Smithson kepada AS. Totalnya berjumlah £ 105.000, dalam kurs masa kini setara dengan 7-9 juta poundsterling atau 140-an miliar rupiah. Tentu untuk membawa uang sebanyak itu ke AS adalah hal yang tidak mungkin, sehingga Rush memutuskan untuk mengonversinya menjadi emas batangan agar lebih mudah dibawa dengan kapal laut.

Milik Paman Sam

Sejumlah pejabat tinggi AS langsung merumuskan kebijakan untuk merealisasikan mimpi Smithson. Beberapa anggota kongres mulai memperdebatkan bentuk nyata dari permintaan Smithson tentang “wadah peningkatan dan pengembangan ilmu pengetahuan”: Apakah berbentuk universitas, museum, perpustakaan, atau lembaga riset?

Kebingungan mereka tentang bentuk proyek yang akan dieksekusi berlangsung selama beberapa tahun. Hal ini adalah kegagapan orang AS dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Sikap ini sebetulnya wajar, mengingat saat itu pengalaman AS dalam memajukan sains masih tergolong sedikit dibandingkan negara-negara di Eropa.

Bagi AS, pendirian suatu wadah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan menjadi langkah maju untuk menunjukkan kedigdayaannya dalam bidang sains. Maka itu, proyek sains ini harus digarap secara serius dan jangan sampai gagal karena dapat mempermalukan wajah AS di mata dunia.


Infografik Mozaik Smithsonian Institution
Infografik Mozaik Smithsonian Institution. tirto.id/Sabit


Proses perumusan ide berjalan alot. Gagasan untuk membuat kebun raya, universitas, perpustakaan, dan sebagainya tidak pernah mencapai kata mufakat. Artinya, kongres tidak dapat mengeluarkan aturan guna memuluskan pembangunan proyek. Di sisi lain, harta Smithson yang sudah ada di AS dan dikonversi ke dalam berbagai bentuk instrumen investasi terancam hilang karena kegagalan pengelolaan.

Bahkan salah seorang senator dalam buku hariannya, dikutip dari buku The Lost World of James Smithson (2008) karya Heather Ewing, menyebut bahwa uang tersebut tercatat digunakan sebagai modal untuk melakukan penyuapan oleh beberapa oknum tidak bertanggung jawab. Berawal dari sini, dorongan untuk memulai proyek semakin gencar dilakukan agar harta Smithson tidak terbuang sia-sia. Kongres dan gedung putih akhirnya berulang kali duduk bersama untuk mengurai kebuntuan.

Diskusi mencapai titik terang ketika akhir tahun 1944, senator Ohio Benjamin Tappan, merumuskan ide untuk menyatukan museum, perpustakaan, kebun raya, lembaga riset, dll, ke dalam satu kompleks bersama. Kelak, akan menjadi pusat pengembangan sains terpadu. Gagasan Benjamin disambut baik oleh kongres dan gedung putih, sekaligus menjadi jalan tengah dari keributan ihwal bentuk proyek. Berdasarkan gagasan ini, akhirnya dikeluarkan rancangan undang-undang untuk proyek Smithsonian yang akan didiskusikan kongres dan ditandatangani presiden.

Meski muncul berbagai tentangan dari senator lainnya yang mengatakan bahwa proyek sains adalah hal yang sia-sia, namun rancangan undang-undang itu tetap bertahan hingga proses finalisasi. Pada 10 Agustus 1846, tepat hari ini 175 tahun silam, Presiden James K. Polk secara resmi menandatangi undang-undang pendirian Smithsonian Institution sekaligus memulai proyek pengembangan sains yang terdiri dari museum, perpustakaan, dan lembaga riset.

Keputusan tersebut kemudian ditetapkan menjadi tanggal berdirinya Smithsonian Institution. Kompleks pengembangan sains terpadu itu kini terdiri dari 19 Museum, 9 lembaga penelitian, kebun binatang, dan perpustakaan.

Baca juga artikel terkait MUSEUM atau tulisan menarik lainnya Muhammad Fakhriansyah
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Muhammad Fakhriansyah
Editor: Irfan Teguh
DarkLight