STOP PRESS! Ombudsman Gelar Dengar Pendapat Proyek Meikarta Hari Ini

Kejadian-Kejadian Penting dalam Hidup Sukarno di Bulan Puasa

Kejadian-Kejadian Penting dalam Hidup Sukarno di Bulan Puasa
Sukarno dan Hatta melaksanakan upacara 5 tahun Kemerdekaan RI di Istana Merdeka. FOTO/IPPHOS - Antara Foto
Reporter: Petrik Matanasi
13 Juni, 2017 dibaca normal 3:30 menit
Sukarno mengenal Islam setelah mondok di rumah HOS Tjokroaminoto dan semakin mendalaminya di penjara dan pembuangan.
tirto.id - Jika harus dimasukkan ke dalam salah satu pengelompokan yang dibuatnya sendiri, Nasakom, Sukarno jelas masuk golongan nasionalis. Sejak muda, dia terlibat pergerakan nasional dan mendirikan partai nasionalis. Sebagian orang di Indonesia pun meragukan keislamannya.

Ada keputusan-keputusannya sebagai presiden yang dianggap tidak bersahabat terhadap kelompok Islam. Membubarkan Partai Masjumi, contohnya. Namun, saat itu bukan hanya Masjumi yang dibubarkan, tetapi juga PSI yang bukan partai Islam. 

Menilik latar belakangnya, Sukarno memang tidak lahir dari keluarga dengan keislaman yang kental. Sang ibunda, Ida Ayu Nyoman Rai, adalah seorang penganut Hindu Bali. Ayahnya, menurut Sukarno sendiri, adalah penganut Islam-theosofi. Ketika hendak menikah, ibundanya enggan pindah agama demi perkawinan. Maka, bisa dibilang Sukarno tergolong menjadi seorang Islam lebih karena pilihannya, bukan semata warisan.

Pengakuan Sukarno Menemukan Islam

Ketika kecil, Sukarno mengaku, dirinya hidup di kalangan orang-orang Islam yang berpuasa di kala bulan Ramadan tiba. Tiap malam di bulan suci itu, dia menyaksikan anak-anak bermain petasan.

“Semua anak-anak melakukannya dan diwaktu itupun mereka melakukannya. Semua, kecuali aku,” aku Sukarno kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat. Di hari lebaran, Sukarno nampak tak ikut serta. “... kami tak pernah berpesta maupun mengeluarkan fitrah. Karena kami tidak punja uang untuk itu.”

Kisah-kisah itu adalah kisahnya ketika kecil saat dia merasa belum mengenal Islam, tapi percaya ada kekuatan Yang Maha Esa dalam kehidupan. “Aku menemukan sendiri agama Islam dalam usia 15 tahun, ketika aku menemani keluarga Tjokro (HOS Tjokroaminoto),” katanya lagi, seperti ditulis Adams. Namun, itu hanya penemuan yang masih samar. “...belumlah aku menemukan Islam dengan betul-betul dan sungguh-sungguh sampai aku masuk penjara. Didalam penjaralah aku menjadi penganut yang sebenarnya.”

Sukarno pernah berguru pada Tjokro yang pemuka Sarekat Islam sebelum dia kuliah di Bandung, meski Sukarno sendiri memilih ideologi nasionalis-sekuler. Tjokro adalah sosok penting yang membuka mata Sukarno soal Islam. Sebelumnya, “aku tak pernah mendapat didikan agama yang teratur karena bapak tidak mendalam dibidang itu,” kata Sukarno.

Menurut Sukarno, seseorang akan merasa dekat dengan Tuhan dalam kesunyian. Di dalam sunyilah seseorang bisa “memikirkan akan suatu yang tidak ada batasnya dan segala sesuatu yang ada.” Di dalam pengasingan, “kudapati diriku dengan sendirinya bersembahyang dengan tenang.” 

Penjara dan pengasingan yang kemudian dialaminya pun bukan lagi hanya sebuah hukuman, tapi jadi semacam pesantren. “Karena dilarang membaca buku-buku yang berbau politik, maka aku mulai mendalami Islam,” akunya. Tentu saja dia membaca Alquran juga, entah dari Inggit, istrinya ketika mengalami pemenjaraan, atau dari kawan sepenjaranya.

“Aku sungguh-sungguh mulai menelan Al Quran ditahun ke-28 (hidupku). Yaitu, bila aku terbangun aku membacanya. Lalu aku memahami Tuhan bukanlah suatu pribadi. Aku menyadari. Tuhan tiada hingganya, meliputi seluruh jagad. Maha Kuasa. Maha Ada. Tidak hanya disini atau disana, akan tetapi dimana-mana.”

Menurut Sukarno, pemerintah kolonial Hindia Belanda yang memenjarakan lalu membuangnya belasan tahun, punya pandangan rendah kepada orang-orang Islam, barangkali juga pada Islamnya. “Orang Belanda memandang kami, orang Islam, sama dengan penjembah berhala.” 

Belakangan, opini miring orang-orang Belanda itu terasa aneh bagi Sukarno. “Penyembah berhala atau tidak, aku seorang Islam yang hingga sekarang telah memperoleh tiga buah medali yang tertinggi dari Vatikan. Bahkan Presiden dari Irlandia pun mengeluh padaku bahwa ia hanya memperoleh satu.”

Berpuasa di Bulan Puasa

Sebagai orang Islam, Sukarno berusaha melaksanakan kewajibannya. Dia salat, dia puasa. Dia tak lagi seperti di masa kecilnya. Barangkali dia seperti yang digambarkan Jailani Sitohang dalam buku Gaya Kepemimpinan Sukarno-Suharto (1989). “la berpuasa pada bulan Ramadhan yang diwajibkan Allah, bahkan setiap hari Senin dan Kamis ia melakukan puasa sunat.”

Banyak peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang dilalui Sukarno di bulan puasa, tak terkecuali Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Juga peristiwa-peristiwa yang dilalui sebelum dan sesudah Proklamasi. Sukarno juga berkunjung ke Dalat, menyambangi Panglima Militer Jepang di Asia, Marsekal Terauchi, saat bulan puasa. Ia juga diculik para pemuda yang ngotot ingin secepatnya Indonesia Proklamasi ke Rengasdengklok di bulan puasa.

Pulang dari Rengasdengklok, dia bergadang di rumah Laksamana Maeda. Setelah urusan teks proklamasi beres, “Sukarno dan Hatta makan sahur dengan roti, telor, dan sardines,” tulis Suhartono Pranoto dalam Kaigun, Angkatan Laut Jepang, Penentu Krisis Proklamasi (2007).

Paginya, meski dalam kondisi tak enak badan dan berpuasa, dia membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di depan rumahnya, Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta. Tanggal 17 tersebut bertepatan dengan 9 Ramadan tahun 1365 Hijriyah.

Esok harinya, 18 Agustus 1945, hari ke-10 Ramadan, Sukarno mengerjakan hal penting lain. Bersama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), dia mengesahkan Undang-Undang Dasar yang kemudian dikenal sebagai UUD 1945. Di hari yang sama, dia mulai menjadi Presiden Republik Indonesia. Kabinet pertama pun akhirnya dilantik pada 2 September 1945, hari ke-25 puasa Ramadan.

Bulan puasa tahun berikutnya tak dijalani Sukarno sebagai presiden di Jakarta, karena sejak awal 1946 ibukota sudah pindah ke Yogyakarta. Awal bulan puasa di tahun 1947, tepat hari ke-2 puasa (20 Juli 1947), Belanda sudah mulai bersiap menyerang Republik. Pukul 23.00 malam itu juga, rumah Sukarno di Pegangsaan Timur 1956 diduduki Belanda.

Esoknya, “pegawai-pegawai RI (di daerah yang diduduki militer Belanda) dibujuk untuk ikut Belanda, tapi hampir semua menolak. Mobil-mobil RI yang bertanda X dibeslah (disita), koran-koran RI ditutup,” tulis AH Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas: Kenangan Masa Muda (1990).

Sukarno sebagai Presiden yang wilayahnya diserang, tentu saja diuji kesabarannya di bulan puasa itu. Di radio, seperti dicatat Mischa de Vreede dalam bukunya Selamat Merdeka: Kemerdekaan yang Direstui, Sukarno bilang, “berperang terus, biarkan saat ini bulan puasa! Karena Nabi Muhammad juga berperang pada suatu bulan puasa.” Pihak Indonesia tentu tak tinggal diam meski mereka harus puasa. Mereka harus melawan hawa nafsu lawan yang rakus.

Kejadian-Kejadian Penting dalam Hidup Sukarno di Bulan Puasa

Kejutan lain yang dialami Sukarno terjadi lagi pada 9 Maret 1960. Tepat di hari ke-11 Ramadhan 1379 Hijriyah. Ketika itu Sukarno sedang memimpin sidang Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Setelah sempat rehat karena ada suara tembakan, “sidang dilanjutkan lagi, (kemudian) terdengar lagi tembakan yang lebih dasyat ke arah istana. Peserta sidang menjadi panik [….] Akhirnya Bung Karno menghentikan acara sidang,” tulis Muhammad Jasin dalam Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kelahiran Polisi Indonesia. Sukarno pun menuju ke bagian Istana yang kena tembak. “Tampak lubang-lubang besar pada dinding ruang makan yang rusak berat.”

Setelah diselidiki, ternyata aksi itu adalah ulah Daniel Alexander Maukar, seorang pilot Angkatan Udara yang terkait Permesta. Dia hendak membunuh presiden yang “menurut perkiraannya sedang bersantap siang di ruang tersebut. Perkiraan itu meleset. Karena sidang DPA kali ini diadakan di bulan puasa, tidak ada makan siang. Itu malapetaka besar andaikata sidang itu diselenggarakan bukan pada bulan puasa,” tulis Jasin.

Saat itu, puasa menyelamatkan jiwa Presiden Sukarno dan anggota DPA.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - pet/msh)

Keyword