Zen RS
Berkarier sebagai penulis dan jurnalis selama hampir dua dekade. Pendiri Pandit Football Indonesia....

Keajaiban dan Kepahitan Sepakbola Kroasia

16 Juli 2018
Dibaca Normal 9 menit
Saat membaca cerita tentang Luka Modric kecil menendang-nendang bola di halaman parkir sebuah hotel yang menjadi tempatnya mengungsi karena perang, saya teringat cara Eduardo Galeano menggambarkan bola.

Pada salah satu paragraf Soccer in Sun and Shadow (1995), Galeano menulis dengan plastis (saya terjemahkan secara bebas): “Suasana hati Bola bisa tak menentu. Di tengah jalan ia bisa berubah pikiran dan memutuskan melengkung keluar alih-alih memasuki gawang. Pada dasarnya ia mudah tersinggung. Ia tak senang ditendang dengan dendam. Ia lebih suka dibelai, dicium dan dibuai dengan ditidurkan di dada atau kaki. Dan ia sangat membanggakan dirinya karena ia tahu: tiap kali ia melayang dengan anggun ke udara ada banyak hati yang berbahagia dengan penuh harap, dan ada banyak hati yang remuk saat ia jatuh di tempat yang tak diinginkan.”

Anak-anak tidak menendang bola dengan dendam. Tiap kali kaki seorang bocah menyentuh bola, kondisinya nyaris sama dengan saat mereka menyentuh mainannya yang lain. Yang mencuat adalah kesenangan yang menghangatkan, kebahagiaan yang membuatnya larut dalam dunia yang tak sepenuhnya bisa dipahami orang-orang dewasa.

“Bola adalah teman”, frase yang nyaris menjadi slogan dalam serial Captain Tsubasa, menemukan realisasinya di berbagai wilayah konflik yang mematikan. Dari Suriah hingga ke Irak, dari Ukraina Timur hingga Kosovo, dari Balkan hingga Afghanistan: ada banyak sekali kesaksian tentang bagaimana bola menjadi sanctuary bagi bocah-bocah korban peperangan. Kisah masa kecil Luka Modric hanya satu di antara ribuan cerita serupa.

Keluarganya tidak miskin-miskin amat, sehingga masih sempat mengungsi ke sebuah hotel kecil yang kadang tak punya aliran listrik dan air saat perang antara Kroasia dan Serbia (yang didukung tentara Yugoslavia) meledak. Kakeknya terbunuh dalam perang itu. Kendati mengungsi di hotel, namun perang tetaplah perang, dan hotel pada akhirnya tetaplah tempat pengungsian.

Jika kebanyakan bocah-bocah korban peperangan bermain di kamp pengungsian, sehingga bisa memainkan bola bersama bocah sepantaran, ia lebih sering melakukannya bersama tembok. Menendang keras maupun sekadar memantulkan, atau menggiring bola di antara kendaraan yang diparkir.


Halaman parkir itulah yang menjadi stadion pertamanya. Halaman parkir itulah dunia masa kecilnya. Di sanalah ia terasing sekaligus terlindungi, di sana pula ia bisa bersenang-senang sekaligus menanggung kesendirian.

Ia berusia sekitar 6 tahun saat perang meledak. Dan ia tak sepenuhnya mengerti kenapa harus ada perang dan mengapa orang-orang dewasa mesti saling membinasakan.

Jauh setelah dewasa, pengalaman perang itu terperam secara sublim, menjadi sesuatu yang “disangkal tidak mungkin namun mengingatnya terus menerus juga tak ada gunanya”. Hal itu tampak dari pernyataan Modric tentang pengalaman traumatis masa kecilnya:

“Saya mengingatnya dengan jelas, tetapi itu bukan hal yang ingin terus-menerus diingat dan dipikirkan. Saya tidak ingin menyeret [pengalaman] itu ke dalam hidup saya selamanya, tapi saya juga tidak ingin melupakannya.”

Namun orang-orang kembali mengingat perang itu. Seiring makin jauh tapak yang dijejakkan timnas Kroasia di Piala Dunia 2018, pengalaman perang semakin sering muncul. Modric mungkin tidak ingin membahasnya, tapi orang-orang melakukannya. Para jurnalis menggunakannya sebagai konteks untuk menjelaskan betapa pencapaian Kroasia kali ini memang ajaib. Sebagian lain menggunakannya sebagai argumen untuk menjelaskan mengapa Kroasia seperti punya nyawa cadangan—dan Modric seperti punya paru-paru lebih banyak—saat mampu melewati tiga pertandingan melalui babak perpanjangan waktu dengan begitu spartan.

Mungkin memang benar: orang yang pernah menyaksikan perang, mustahil bisa berhenti melihatnya. Perang bisa berakhir, namun bilurnya bisa sepenggalah usia.

Sepakbola Menjelang Perang Balkan

Luka modric berbagi banyak kesamaan dengan Zvonimir Boban: (1) sama-sama gelandang tengah, (2) sama-sama memakai nomor 10, dan (3) sama-sama kapten timnas Kroasia di Piala Dunia. Keduanya juga sama-sama terpapar perang. Bedanya: Modric masih terlalu kecil untuk memahami mengapa harus ada perang, Boban sudah cukup dewasa untuk memahami betapa perseteruan sering tak terhindarkan, dan kadang kita sendiri harus mengambil peran.

Boban berusia 12 saat Josef Broz Tito, pemersatu Yugoslavia, meninggal dunia. Kematian Tito perlahan tapi pasti membawa Yugoslavia menuju perpecahan. Tidak ada satupun penggantinya yang memiliki wibawa, pengaruh, dan kecerdasan untuk merawat Republik Sosialis Federal Yugoslavia (RSFY). Dari tahun ke tahun, bibit perpecahan semakin mengeras.

Saat memulai karier profesionalnya untuk Dinamo Zagreb pada usia 16, perpecahan Yugoslavia sudah semakin sulit dihindari. Pada 1986 itu, saat Boban melakoni debutnya bersama Dinamo, lembaga berpengaruh bernama Serbian Academy of Arts and Sciences mengajukan sebuah memorandum yang isinya, terutama, menyerukan superioritas etnis Serbia dibanding etnis-etnis lain di Yugoslavia. Naskah itu menjadi dokumen intelektual terpenting bagi nasionalisme Serbia, sekaligus secara tak langsung menjadi dentang bel yang menandakan: bersiaplah, Serbia akan memimpin Yugoslavia dengan segala cara.

Pada 1987, Boban menjadi kapten timnas Yugoslavia saat menjuarai Piala Dunia U20. Pada tahun yang sama pula, nama Slobodan Milosevic mulai mencuat dalam konstelasi politik di Yugoslavia. Namanya muncul terutama setelah menyampaikan sebuah pidato yang membakar di Kosovo pada April 1987. Saat itu ia menyatakan secara terbuka dukungan kepada orang-orang Serbia di wilayah Kosovo untuk mendirikan provinsi otonom. Kelak, ia akan menjadi presiden yang memimpin Serbia menyerang Kroasia, Bosnia, hingga Kosovo dan membuatnya menjadi salah satu penjahat perang di pengujung abad 20.

Eskalasi konflik pun menjalar ke lapangan sepakbola.

Delije, kelompok suporter Red Star Beograd paling ganas, selalu memakai atribut yang menegaskan ke-Serbia-an. Ke manapun dan kapanpun mereka melakukan partai tandang, identitas Serbia itu ditunjukkan melalui kaus, bendera, poster, dan nyanyian serta caci maki.

Dinamo Zagreb saat itu menjadi tim terkuat Kroasia yang bermain di Liga Yugoslavia. Bersama Hajduk Split, Dinamo bahu membahu menegakkan nama Kroasia di fase-fase genting menjelang perang. Para suporter klub-klub Kroasia menggelar perkelahian massal melawan para suporter Red Star Belgrade maupun Partizan Belgrade. Baik Bad Blue Boys (firm pendukung Dinamo Zagreb) maupun Torcida (firm pendukung Hajduk Split), sepanjang 1989 hingga 1990 berkali-kali membakar bendera Yugoslavia saat Dinamo atau Hajduk menjamu Red Star atau Partizan.

Puncaknya terjadi pada 13 Mei 1990 saat Red Star berkunjung ke kandang Dinamo. Kerusuhan sudah muncul saat laga baru berlangsung 10 menit. Suporter turun ke lapangan dan berduel di atas rumput.

Sebagian besar pemain sudah diamankan di kamar ganti. Salah satu yang tetap berdiri di atas rumput adalah Boban. Dalam salah satu adegan, polisi ikut mengeroyok salah seorang suporter Dinamo yang masuk ke tengah lapangan. Boban berlari mendekati polisi itu dan melayangkan tendangan keras. Kerusuhan semakin mengganas di Stadion Maksimir.

Kelompok suporter Red Star paling ganas bernama Delije. Pemimpinnya bernama Zelijko Raznatovic, masyhur disebut Arkan. Di masa Perang Balkan, dia menjadi komandan paramiliter yang terlibat dalam pembunuhan banyak warga sipil Kroasia maupun Bosnia.

Sedangkan salah satu suporter Dinamo yang paling terkenal adalah Franjo Tudjman, seorang profesor sejarah di Universitas Zagreb. Pada 1989, ia mendirikan Croatian Democratic Union, partai sayap kanan yang menggelorakan keagungan bangsa Kroasia. Kelak ia menjadi presiden pertama Kroasia setelah menyatakan kemerdekaan pada 1991.

Di Antara Zvonimir Boban dan Franjo Tudjman

Boban juga berbagi sejumlah kesamaan dengan Tudjman: (1) sesama pendukung Dinamo Zagreb, (2) sesama alumnus Departemen Sejarah di Universitas Zagreb, dan (3) bersepakat bahwa olahraga, khususnya sepakbola, sangat penting dalam membentuk identitas nasional.

Jika Boban mengambil risiko melindungi suporter Dinamo dengan menendang polisi, Tudjman melakukan lebih jauh dari itu untuk mendukung Dinamo. Dialah yang menelpon Mark Viduka agar mau bergabung dengan Dinamo. Beberapa hari sebelum Dinamo bertanding dengan Auxerre di Piala Winners musim 1994, Dinamo lebih dulu menjamu Primorac di kompetisi domestik. Ia masuk ke kamar ganti Primorac dan, dengan alasan Dinamo akan membawa panji Kroasia di Eropa, meminta mereka mengalah. Primorac kemudian kalah 0-6.

“Seperti halnya kejayaan di medan perang, menang di lapangan hijau juga bisa membentuk identitas sebuah bangsa”. Kata-kata itu diucapkan Franjo Tudjman, jauh setelah ia menjadi presiden pertama Kroasia setelah melepaskan diri dari Yugoslavia.

Bagi Tudjman, Dinamo adalah identitas Kroasia. Di masa-masa genting menjelang kemerdekaan Kroasia, saat mereka masih bergabung dengan Yugoslavia, menyanyikan lagu Kroasia bisa mendatangkan bahaya. Lagu-lagu Dinamo kemudian menjadi penggantinya. Saat seseorang menyanyikan lagu Dinamo di luar pertandingan, orang tahu yang dimaksud adalah nasionalisme Kroasia.

Karena itulah, untuk memuluskan proyek pembentukan identitas nasional tersebut, Tudjman dengan sepihak mengubah nama Dinamo Zagreb menjadi Kroasia Zagreb pada 1992. Alasannya: “Dinamo” adalah nama komunis, sisa-sisa peninggalan era Yugoslavia, sehingga harus ditanggalkan demi meneguhkan identitas Kroasia yang baru.

Tindakan ini memperlihatkan betapa yakinnya Tudjman kepada sepakbola sebagai pembentuk identitas nasional. Dan ia melakukan segala cara untuk merealisasikannya, bahkan walau ia harus berhadapan dengan Bad Blue Boys yang dengan sangat agresif menentang perubahan nama itu. Tudjman tak peduli. Dan dengan itulah ia memperlihatkan wajahnya yang lain: seorang nasionalis garis keras, yang pelan-pelan menjadi seorang sauvinis sayap kanan.

Tudjman kemudian diselimuti mitos sebagai pembebas Kroasia, walau jauh setelah kematiannya didapati bukti-bukti bahwa ia punya kontak dengan Slobodan Milosevic, pemimpin Serbia, untuk sama-sama memecah belah Bosnia-Herzegovina. Boban juga diselimuti mitos: tendangannya ke seorang polisi Yugoslavia di Stadion Maksimir, yang memantik eskalasi kerusuhan massal antara Bad Blue Boys vs Delije, “diagungkan” sebagai insiden yang memicu Perang Balkan.

Kemerdekaan Kroasia, juga Perang Balkan, tidak sesederhana itu sampai bisa dipicu hanya oleh sebuah pertandingan sepakbola. Lagi pula, belakangan diketahui, polisi yang ditendang Boban ternyata beretnis Bosnia.

Keduanya kemudian "berbagi" kepemimpinan: Tudjman bertarung di medan politik, Boban bertempur di lapangan hijau. Saat Boban memimpin Kroasia melaju hingga ke semifinal Piala Dunia 1998, Tudjman masih memimpin Kroasia sebagai presiden.

Di hadapan Tudjman dan Boban, sepakbola menjelma apa yang dikatakan Geroge Orwell usai menyaksikan sebuah pertandingan di Myanmar: sebuah perang tanpa tembakan.

Di Antara Zlatko Dalic dan Davor Suker

Zlatko Dalic dan Davor Suker kini sedang berbagi satu kesamaan: sama-sama orang penting dalam sepakbola Kroasia. Jika Suker adalah Presiden Federasi Sepakbola Kroasia, Dalic kini menjadi pelatih timnas Kroasia. Namun keduanya punya jalan yang kontras untuk sampai pada posisinya sekarang.

Suker muda berbagi kesuksesan yang sama dengan Boban: memperkuat skuat Yugoslavia yang menjuarai Piala Dunia U-20 pada 1987, bermain untuk Dinamo Zagreb sejak 1989, dan sama-sama menjadi pemain penting Kroasia di Piala Dunia 1998. Jika Boban menjadi kapten, Suker menjadi ujung tombak yang berhasil menjadi pencetak gol terbanyak dengan 6 gol. Jika Boban bermain untuk AC Milan dan di sanalah ia meraih juara Serie A dan Liga Champions, Suker meraih juara La Liga dan Liga Champions bersama Real Madrid.

Karier sepakbola Dalic jauh dari mentereng. Ia tidak pernah mencicipi seragam timnas Yugoslavia maupun Kroasia, tidak pernah bermain untuk Dinamo, tidak pernah mencicipi liga-liga top Eropa dan lebih sering bermain untuk klub-klub tidak terkenal di Montenegro, Albania, Bosnia, maupun di Kroasia.

Pada 1989-1991, masa-masa genting di Yugoslavia, ia bermain untuk Velež Mostar, klub dari Bosnia-Herzegovina. Lalu perang pun pecah. Ia memutuskan meninggalkan sepakbola untuk bergabung dengan tentara Kroasia mempertahankan kampung halamannya, Livno, dari serbuan pasukan Serbia. Di kawasan yang kini menjadi bagian Bosnia Herzegovina itu, selama berbulan-bulan Dalic bertugas memasok logistik untuk para prajurit tempur di front terdepan pertempuran.

Saat Suker dan Boban sedang memulai karier gemilang di Spanyol dan Italia pada 1991, justru tak ada sepakbola dalam hidup Dalic. Saat itu hidup Dalic hanya berisi ledakan mesiu, lontaran bom, dan langkah-langkah kaki yang bersijingkat menghindari ranjau darat.

Setelah pensiun sebagai pemain pada 2000, ia sempat mencicipi melatih klub-klub Kroasia dan Albania, sebelum akhirnya melanglang buana ke Timur Tengah dengan melatih Al-Faisaly, klub di Arab Saudi. Pada 2012, Dalic pindah ke salah satu klub penting Uni Emirat Arab, Al-Ain. Prestasi tertingginya membawa Al-Ain menjadi runner-up Liga Champions Asia musim 2016. Kendati cukup berprestasi bersama Al-Ain, namanya relatif tidak dikenal oleh banyak penggemar sepakbola Kroasia, apalagi dunia.

Pada tahun yang sama dengan Dalic menangani Al Ain, Davor Suker terpilih menjadi Presiden Federasi Sepakbola Kroasia. Suker tentu saja legenda sepakbola Kroasia, dan posisinya di federasi membuat pengaruhnya di sepakbola dalam negeri semakin mencengkeram.

Namun ia tidak populer saat menjadi presiden federasi. Ia dianggap bagian dari jejaring korup sepakbola Kroasia, terutama dikaitkan dengan Zdravko Mamic. Status Mamic sesungguhnya hanya wakil presiden federasi, hanya menjadi orang kedua setelah Suker, namun dialah yang disebut mengendalikan sepakbola Kroasia. Reputasinya melambung karena lama memimpin Dinamo Zagreb, “pabrik” pemain-pemain berbakat Kroasia.

Belakangan Mamic didakwa melakukan penggelapan selama menangani Dinamo. Ia didakwa menilap uang yang seharusnya menjadi hak Dinamo, terutama dari dana transfer. Mamic dengan entengnya mempertukarkan status sebagai presiden klub dan status sebagai agen pemain, sehingga transfer pemain dari Dinamo dengan mudah memperkaya pundi-pundinya.

Masalahnya Mamic bukan hanya berpengaruh di sepakbola, namun juga dalam politik. Dialah penyokong dana kampanye Presiden Kolinda Grabar-Kitarović. Kolinda secara terbuka mengakui peran Mamic yang bahkan sampai mengatur sejumlah acara makan malam bagi Kolinda.

Suker dan Mamic bahu membahu mengendalikan federasi. Mereka mudah saja memecat para pelatih timnas (Kroasia harus berganti tiga pelatih selama kualifikasi Piala Dunia 2018), termasuk memecat Romeo Jozak, jenius lokal yang diangkat jadi Direktur Teknik timnas Kroasia pada Maret 2017. Romeo dipecat saat sedang menyusun rencana jangka panjang untuk pengembangan sepakbola Kroasia, mirip dengan apa yang telah dilakukan Michel Sablon pada Belgia.

Mamic kemudian diadili. Namun sebelum vonis dijatuhkan, ia melarikan diri ke Bosnia-Herzegovina sampai saat ini. Ia tak bisa dibawa pulang karena Kroasia belum memiliki perjanjian ekstradisi dengan Bosnia. Mamic divonis penjara 6,5 tahun.

Mamic dan Suker menjadi musuh nomor satu para suporter Kroasia. Kendati tidak menggambarkan persoalan seluruhnya, namun kerusuhan-kerusuhan suporter Kroasia (termasuk saat menyalakan flare dan smoke bomb di Piala Dunia 2014) dianggap sebagai perlawanan suporter kepada federasi, termasuk terhadap Suker dan Mamic.

Dalam situasi itulah Dalic bertemu Suker. Saat itu Kroasia baru saja memecat Ante Cacic. Dalic menawarkan diri untuk menjadi pelatih Kroasia. Namun federasi tidak terlalu tertarik karena bahkan di Kroasia sekalipun Dalic tak punya reputasi gemilang.

Alasan mengapa akhirnya Suker memilih Dalic salah satunya adalah uang: Dalic tak meminta kontrak kerja, ia hanya ingin dipercaya memimpin Kroasia lolos kualifikasi. Jika gagal, Dalic berjanji ia sendiri yang akan hengkang tanpa minta pesangon. Jelas ini tawaran yang gurih untuk federasi yang bertahun-tahun dikangkangi koruptor seperti Mamic.

“Saya tidak perlu dilindungi [kontrak]. Saya tidak membutuhkan kontrak tiga tahun. Saya tidak perlu dilindungi oleh siapapun. Saya hanya akan bertahan jika Kroasia lolos ke [Piala Dunia] Rusia,” kenang Dalic.

Di Antara Ingatan dan Lupa

Ia pertama kali berkumpul dengan para pemain Kroasia di bandara menjelang laga menentukan melawan Ukraina di pengujung 2017. Beberapa pemain bahkan belum pernah bercakap-cakap dengan Dalic sebelumnya. Ia relatif tidak dikenal, sekaligus tidak populer—terutama karena lahir di Bosnia-Herzegovina.

Untuk negara Balkan, asal-usul memang sangat penting. Seluruh kekacauan berdarah-darah, dari perang hingga genosida, dipicu perkara asal-usul ini. Pada awal 1990-an, menjadi orang Serbia, Kroasia, Bosnia, atau Albania dan Kosovo sama-sama berbahayanya. Siapapun bisa dibunuh oleh yang lain, dalam perang maupun damai.

Tendensi merayakan identitas dan nasionalisme dengan penuh gelora itu, yang kerap kali tergelincir menjadi sauvinisme yang membahayakan, tidak pernah hilang sepenuhnya bahkan walau Perang Balkan telah lama berakhir. Davor Suker salah satu di antaranya.

Dia tak segan-segan memperlihatkan preferensi ideologisnya yang condong ke sayap kanan. Pada 1996, ia kedapatan berpose di kuburan Ante Pavelic, tokoh fasis Kroasia di masa Perang Dunia II, orang yang menginginkan kemurnian etnis Kroasia, dan karena itu mau bekerjasama dengan NAZI untuk mempersekusi etnis minoritas di Kroasia.

Saat pose itu dipersoalkan banyak orang, Suker dengan enteng menjawab: “Sudah jelas, kan, apa yang diinginkan oleh seorang Davor Suker?”

Setelah menjadi presiden federasi, ia juga memberikan dukungan kepada Josip Simunic yang dihukum FIFA pada 2013 karena menyanyikan lagu-lagu fasis di laga Kroasia melawan Islandia. Suker bahkan menyetujui Simunic menjadi asisten pelatih Kroasia di era Ante Cacic.

Tak ada hitam-putih dalam kompleksitas politik di Balkan. Sedikit pemimpin politik di masa Perang Balkan yang tak tersangkut dengan dakwaan melakukan kejahatan perang. Identitas saat itu benar-benar bisa menjadi lisensi untuk membunuh atau dibunuh.

Kendati sama-sama menjadi korban keganasan Serbia, namun Kroasia punya perasaan superior tertentu terhadap Bosnia. Tudjman, misalnya, belakangan diketahui diam-diam bersekongkol dengan Slobodan Milosevic untuk memecah-belah Bosnia-Herzegovina. Saat Kroasia mengalahkan Inggris di semifinal, misalnya, sekelompok pemuda Kroasia bersorak-sorai sembari merayakan peristiwa berdarah “Pembantaian Srebrenica”, saat 8 ribuan warga Bosnia dibantai oleh tentara pimpinan Ratko Mladic dari Serbia.

Zlatko Dalic ada di tengah itu semua. Dalic sebenarnya beretnis Kroasia, namun ia terlahir di Bosnia. Itulah yang membuat nasionalismenya diragukan. Sebaliknya, kendati lahir dan besar di Bosnia, namun Dalic seorang Katolik, sedangkan Bosnia-Herzegovina mayoritasnya Muslim.

Ia adalah “manusia-di-antara”, in-between. Orang-orang seperti inilah yang biasanya akan selalu terjepit saat terjadi kecamuk konflik. Ia ada di-sana sekaligus di-sini, namun juga bukan orang-sini atau orang-sana.

Dan di panggung sejarah sepakbola, hanya ada satu juara. Tak ada juara kedua apalagi ketiga. Menjadi juara adalah satu-satunya cara untuk memastikan Dalic tak akan pernah dilupakan atau terlupakan oleh Kroasia.

Dalic bisa belajar dari Ciro Blazevic, mentor pertamanya sebagai pelatih, untuk perkara satu ini. Ciro, pelatih Kroasia di Piala Dunia 1998. Davor Suker, anggota skuad 1998 sekaligus presiden federasi, mengundang seluruh anggota skuad 1998 untuk menyaksikan final Piala Dunia 2018. Dalic juga sangat ingin mentornya itu hadir. Namun entah mengapa undangan itu tidak datang kepada Ciro.

“Nak, aku belum menerima undangan resmi [dari federasi],” kata Ciro kepada sebuah stasiun TV Kroasia. “Dalic tidak kenal Suker, tapi aku kenal dia.”

Bagaimana mungkin Ciro dilupakan? Loh, memangnya kenapa tidak?

Balkan adalah medan pertarungan ingatan dan lupa karena setiap perang memang selalu dibangun oleh permainan ingatan: mereka yang diidentifikasi sebagai lawan akan selalu diingat keburukannya, karena dengan itulah bara kemarahan akan terus menyala. Dan pada saat yang sama segala hal baik harus dilupakan karena jika tidak kebencian tidak akan pernah maksimal.

“Saya tidak ingat. Saya sudah lupa,” itulah kalimat yang berkali-kali diucapkan Luka Modric pada 2017 silam.

Konteksnya: Modric diperiksa pengadilan dalam kasus penggelapan dana transfer dirinya dari Dinamo ke Tottenham Hotspur yang dituduhkan kepada Zdravko Mamic. Padahal peristiwanya terjadi kurang dari 10 tahun silam, tepatnya pada 2008. Kata-kata itu membuat Modric, sebelum Piala Dunia 2018, terancam diadili karena memberikan kesaksian palsu.

Kalimat berlanggam setnov-esque itu pula yang membuat Modric, juga Dejan Lovren, sempat menjadi sasaran kritik pedas media massa, suporter, dan publik Kroasia. Ia dianggap melindungi Mamic, orang yang didakwa sebagai biang kerok kekusutan sepakbola Kroasia.

Suporter Hajduk Split memakinya "tahi". Meme-meme yang meledek jawaban-jawaban amnesia Modric bermunculan di akun-akun warga Kroasia. Grafiti yang menyerang Modric mulai bermunculan di jalanan Kroasia, salah satunya di depan hotel Iz di Zadar, hotel tempat Modric dan keluarganya mengungsi saat pecah perang. Salah satu grafiti itu berbunyi: "Luka, kau akan ingat hal ini suatu hari nanti."

Tidak. Tentu saja Dalic, Modric, atau Lovren tidak akan dilupakan bangsa Kroasia. Mereka akan tetap diingat. Tapi diingat dengan cara apa dan sebagai apa? Itulah inti pertanyaannya.

Laga final antara Perancis versus Kroasia bisa menyediakan jawaban atas pertanyaan itu.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.
DarkLight