Karier Freddie Mercury: Queen, Bohemian Rhapsody, & Mati oleh AIDS

Oleh: Yulaika Ramadhani - 5 September 2019
Dibaca Normal 1 menit
Sejarah karier Freddie Mercury, dari Queen hingga AIDS di ujung hidupnya
tirto.id - Freddie Mercury atau musisi bernama asli Farrokh Bulsara, satu sosok yang sukses mengantarkan Queen menjadi band fenomenal, berulang tahun hari ini, 5 September 2019.

Bersama Queen, Freddie telah menggelar tak kurang dari 700 konser di berbagai belahan dunia. “We Are The Champions” adalah satu dari serangkaian karya dari Freddie Mercury yang membuat Queen menuju puncak ketenarannya.

Jejak Karier Freddie Mercury & Queen

Perjalanan karier musik Freddie sangat berliku, naik turun, bahkan pernah menemui kegagalan.

Vokalis utama Queen ini pernah bergabung dengan band Ibex yang berganti nama menjadi Wreckage. Band tersebut gagal dan bubar, Freddie akhirnya memutuskan bergabung dengan band Sour Milk Sea. Band tersebut juga tidak bertahan lama.

Karier Freddie berlanjut, perjalanannya mulai terang ketika bergabung dengan dua personil Smile, Brian May (gitaris) dan Roger Taylor (drumer), mereka sepakat membentuk band baru dan Freddie meminta nama tersebut diubah menjadi “Queen”. Mereka akhirnya merekrut John Deacon untuk mengisi posisi bass.

Yang istimewa dari Freddie dibanding penyanyi rock lain adalah, ia mampu menemukan pewarnaan yang tepat serta mampu memberikan nuansa ekspresif untuk setiap kata dan mampu menempatkan bagian vokal dengan baik.

Hal tersebut juga diakui oleh seorang penulis biografi, David Bret yang mengatakan, suaranya dapat meningkat dalam beberapa bar dari suara serak, tenor, kemudian beralih ke nada tinggi.

Oktober 1981, Queen kembali masuk studio untuk menggarap album Hot Space dan menyiapkan album The Greatest Hits. Meski punya lagu-lagu paten macam “Cool Cat” dan “Under Pressure”, Hot Space dapat kritik pedas dari banyak kritikus. Bahkan Brian May dan Roger Taylor disebut benci album ini.

Freddie ahli menyematkan makna di dalam lirik lagunya, terutama lagu “Bohemian Rhapshody” di album “A Night at the Opera”. Berkat ini pula album itu laku 2,5 juta keping dan menempati posisi puncak di beberapa negara seperti Belanda, Selandia Baru, Kanada dan Belgia.

Judul lagu ini selanjutnya dipakai sutradara Bryan Singer dalam filmnya Bohemian Rhapsody, drama biopik yang mengisahkan tentang karier Queen dan Freddie Mercury.

Film ini bercerita tentang perjalanan karier grup band Queen yang terdiri dari Freddie Mercury (diperankan Rami Malek) sebagai vokalis, Roger Taylor (diperankan Ben Hardy) sebagai drumer, Brian May (diperankan Gwilym Lee) sebagai gitaris, dan John Deacon (diperankan Joseph Mazzello) sebagai basis.

Freddie Mercury AIDS?

Pada Oktober 1986, kabar mengejutkan kembali menerpa Freddie. Wartawan Inggris melaporkan bahwa Freddie menguji darahnya untuk memastikan gejala HIV/AIDS di klinik Harley Street. Freddie membantah, tetapi wartawan terus mencari informasi mengenai kabar yang terlanjur tersebar luas itu. Kecurigaan bertambah ketika tubuh Freddie makin kurus dan absen beberapa kali dari konser Queen. Ditambah lagi dengan pernyataan mantan kekasihnya di berbagai majalah yang menyebut kondisi Freddie makin memburuk.

Sampai kemudian pada 1987, Freddie Mercury resmi didiagnosis mengidap AIDS.


Pada Mei 1991, tubuh Freddie tampak ceking di video klip "These Are the Days of Our Lives". Video tersebut sekaligus menjadi penampilan terakhirnya di depan kamera. Beberapa lama setelah itu, Freddie tutup usia di rumahnya di Kensington. Penyebab resmi kematian adalah bronkopneumonia akibat AIDS.

Freddie terakhir kali tampil di kamera pada video klip “These Are the Days of Our Lives”. Berbeda dengan video klip Queen yang biasanya penuh warna, video ini dibuat hitam putih. Freddie tampil rapi, memakai kemeja lengan panjang dan rompi bergambar kucing. Freddie tampak kurus, pipinya tirus.

Namun matanya masih memancarkan api. Dia seolah-olah mengabarkan pada dunia: Freddie adalah seorang penampil yang total. Bahwa di ujung umurnya—dia tahu usianya tak akan lama lagi—dia masih akan memberikan senyum lebar serta kerlingan mata nakal, dan akan membuatmu merasakan ledakan perasaan: sedih, haru, juga bahagia hingga tersenyum lebar.


Baca juga artikel terkait MUSISI DUNIA atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight