Karena Cap "Penista Agama", Mereka Berhenti Melucu

Oleh: Aditya Widya Putri - 6 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
Tak hanya Muslim dan Coki yang pamit. Beberapa komika lain memilih rehat bicara isu toleransi.
tirto.id - “Sebagai bentuk tanggung jawab, mulai hari ini, saya Tretan Muslim dan Coki Pardede, kami berdua pamit!”

Bersamaan meluncurnya kata terakhir di kalimat penutup, Muslim dan Coki melepas topi bertulis “Majelis Lucu Indonesia” dan meletakkannya di meja. Mereka berdua, bergegas keluar dari bingkai sorot kamera. Tak ada frasa “tapi bohong” yang biasa dilontarkan saat mereka berlakon sesuai pakem-pakem ideal di masyarakat.

Dengan berhentinya Muslim dan Coki dari dunia hiburan Indonesia, para penikmat stand up comedy, kehilangan duo komedian gelapnya.

Pamitnya Muslim dan Coki dari dunia komedi Indonesia merupakan buntut kasus unggahan video memasak di akun Youtube Muslim: Tretan Universe. Pada 20 Oktober lalu, ia membuat konten memasak daging babi dengan rebusan air sari kurma. Video bertajuk The Last Hope Kitchen itu dianggap menista agama Islam. Unggahan Muslim yang berkolaborasi dengan Coki itu menjadi perbincangan warganet.


Banyak akun media sosial mengatasnamakan Islam memotong bagian tertentu video itu lalu menyandingkannya dengan potongan ceramah pemuka agama. Muslim dan Coki kembali banjir hujatan. Sebelumnya, duo komedian gelap ini juga sering mendapat ujaran kebencian karena materi mereka mengusung tema humor gelap (dark comedy).

Genre ini menawarkan sastra, seni, dan film yang mengusung tema penderitaan dan kesulitan sehari-hari, tapi secara bersamaan menawarkan rasa lega dan memprovokasi ketidaknyamanan. Muslim dan Coki selama ini melontar humor dengan tema toleransi, khususnya toleransi beragama. Di akhir video pamitannya, dua orang ini juga masih sempat menyisipkan pesan semangat keberagaman.

“Kami yakin semangat toleransi yang kami perjuangkan selama ini tidak berhenti di sini. Tetap bertoleransi dengan cara kalian masing-masing.”

Yang juga Menuai Kecaman

Sejak video memasak daging babi tersebar luas, tak hanya Muslim dan Coki yang banjir hujatan. Dalam video pamitan berdurasi 7 menit mereka mengungkap alasan menarik diri dari dunia hiburan. Ujaran kebencian, persekusi, hingga ancaman pembunuhan dengan dalih menghalalkan darah Muslim dan Coki mulai mampir ke orang-orang terdekat mereka, terutama manajemen Majelis Lucu Indonesia (MLI). Padahal, dalam kasus tersebut, MLI sebagai kelompok tidak punya andil apa pun.

Tur Dewa Komedi, salah satu acara MLI yang mengusung Ananta Rispo sebagai pembawa acara, juga kena getah. Tur yang dijadwalkan tampil di 12 kota Indonesia dalam bulan November hingga Januari mendatang didemo. Andhita Puspitasari, Manajer Bisnis MLI, memaparkan kronologi pembatalan tur dimulai dari aksi unjuk rasa dari sejumlah massa di kota Solo. Mereka mendatangi lokasi acara di Hotel Salaview, meneriakkan penolakan pada Muslim dan Coki.


Padahal, Muslim dan Coki tidak ikut dalam tur Dewa Komedi di Solo. Buntutnya, pihak hotel membatalkan acara secara sepihak. Pemberitaan mengenai unjuk rasa di kota Solo kemudian menyebar, membuat kota-kota lain takut dan membatalkan acara. Dari 12 kota yang dikunjungi, total hanya empat kota yang masih bersedia melanjutkan acara. Itupun jadwalnya harus diundur.

“Mereka [pengunjuk rasa] tidak mempelajari dulu, MLI punya banyak talent, [bukan hanya] Muslim dan Coki,” ungkap Sari kepada Tirto.

Infografik Indonesia darurat komedi


Ananta Rispo juga harus menerima dampak negatif terhadap dirinya. Hinaan, cacian, dan ancaman pembunuhan ikut mampir ke akun media sosialnya. Bahkan, sebuah situsweb membikin unggahan yang menyatakan materi tur Dewa Komedi di Solo bernada provokatif, tidak mendidik, dan menyinggung agama. Padahal, tur belum dimulai, gladi resik pun belum digelar. Situsweb tersebut juga tidak melakukan proses konfirmasi kepada Rispo.

“Ini sudah banyak salahnya, saya dengan Coki-Muslim itu beda. Materi saya dari dulu juga enggak pernah bawa masalah agama,” kata Rispo.

Meski tak pernah bermain komedi di zona dark comedy, apalagi mengusung tema toleransi beragama, Rispo memahami sensitivitas terkait isu agama sedang menguat. Apalagi, sebelumnya ada beberapa komika yang juga dianggap menista agama. Kasus Muslim dan Coki seakan jadi puncak ledakan dari kasus-kasus sebelumnya. Rispo mengaku kini dirinya lebih hati-hati dalam membawakan materi.

“Takutnya keceplosan,” katanya.


Tak hanya Rispo yang memilih pasang alarm waspada, komika lain yang sering membawa isu toleransi seperti Erwin pun pilih bungkam sementara. Erwin acapkali membahas mengenai ajaran agamanya, Tao, dan beberapa kali menyinggung perilaku keliru terkait agama, seperti pembakaran klenteng atau korupsi pengadaan Alquran.

Saat dihubungi Tirto, ia mengaku takut berkomentar dan akan membatasi materi bernuansa keagamaan beberapa waktu ke depan. “Soalnya lagi ramai, kita kan sebenarnya tidak mau kasus ini makin lebar,” kata Erwin.

Baca juga artikel terkait PENISTAAN AGAMA atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani